Jika Engkau Adalah Dia

love_ring_heartDia adalah seseorang yang dapat mengerti aku sehingga tidak akan membuat aku meminta apapun darinya. Dia adalah seseorang yang dapat membuat aku nyaman bersandar tanpa aku perlu merasa kuatir tentang hari esok. Dia adalah seseorang yang dapat membuat aku teduh dengan sinar matanya tanpa sebersitpun dusta.

Dia adalah seseorang yang mengerti nilai kepercayaan dari sebuah kejujuran, dan berharganya kesetiaan terhadap sebuah janji. Dia haruslah seseorang yang mengerti arti dari hidup dan dapat mensyukuri setiap hal yang terjadi di dalamnya.

Dia bukanlah seseorang yang harus kuraih, karena dia adalah seseorang yang memang Tuhan ciptakan untuk memegang tanganku. Dan jika memang engkau adalah dia, maka aku tidak perlu berlari untukmu, karena aku yakin Tuhan akan menjadikan engkau tepat ada di sisiku.

Recycle Bin oh Recycle Bin …

recycle-binMenghapus isi ‘Recycle Bin’ mungkin merupakan hal yang biasa … tapi kali ini tiba-tiba ada yang menarik dari sistem pembuangan sampah yang selalu ada di desktop komputer kita ini. Ada kalanya hidup kita seperti sebuah sistem yang juga mempunyai file-file yang sudah tidak terpakai, file yang salah, file yang tidak ingin kita simpan lagi, dan lain sebagainya.

Namun, berdasarkan sifat kita pun, kita mempunyai berbagai cara untuk mengatasinya. Berapa banyak dari kita yang bisa dengan yakin ‘membuang’ file sampah tersebut dengan tombol ‘Shift+Dell’, alias terhapus langsung tanpa mampir di Recycle Bin? Atau kita lebih suka menampungnya terlebih dahulu di Recycle Bin hingga beberapa saat lamanya. Setelah dirasa memang sudah waktunya, karena mungkin sudah tidak mampu untuk mengingatnya setiap hari, akhirnya mereka baru akan menghapusnya. Itupun ada 2 cara lagi yang bisa dipilih orang tersebut, yaitu dengan langsung klik kanan ‘Empty Recycle Bin’ ato bisa juga dengan klik kanan buat ‘Explore’ terlebih dahulu … diliat-liat dulu isinya untuk akhirnya baru akan dihapus selamanya.

Setelah ‘Recycle Bin’ hidup kita penuh dengan berbagai macam memory masa lalu, tidak sedikit dari kita yang masih ingin melihat atau mengingat kembali untuk terakhir kalinya, sebelum kemudian mereka menghapusnya untuk terakhir kalinya.

Lucky

Do you hear me,
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

They don’t know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I’ll wait for you I promise you, I will

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair
Though the breezes through trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I’m lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

(Jason Mraz featuring Colbie Caillat)

… love this song very much

The Prayer

prayI pray You’ll be our eyes,
and watch us where we go
And help us to be wise,
in times when we don’t know
Let this be our prayer,
when we lose our way
Lead us to a place,
guide us with Your grace
to a place where we’ll be safe.
La luce che tu hai
I pray we’ll find Your light
Nel cuore resterà
And hold it in our hearts
A ricordarci che
When stars go out each night
L’eterna stella sei
Nella mia preghiera
Let this be our prayer
Quanta fede c’è
When shadows fill our day
Lead us to a place
Guide us with Your grace
Give us faith so we’ll be safe

Sogniamo un mondo senza più violenza
Un mondo di giustizia e di speranza
Ognuno dia la mano al suo vicino
Simbolo di pace, di fraternità

La forza che ci dà
We ask that life be kind
È il desiderio che
And watch us from above
Ognuno trovi amor
We hope each soul will find
Intorno e dentro a sè
Another soul to love
Let this be our prayer
Let this be our prayer
Just like every child
Just like every child

Need to find a place,
guide us with Your grace
Give us faith so we’ll be safe
E la fede che
Hai acceso in noi
Sento che ci salverà

(Celine Dion & Andrea Bocelli)

A Touch of Heaven

hand-to-heavenIt had been a very disheartening day. The doctors had given us the worst of news. Our daughter, who had just completed her first brain surgery to remove a tumor and was going through radiation treatments, was now offically given a two percent chance of survival as this type of cancer had no cure.

My wife and I decided to take our daughter to lunch before continuing our afternoon conversations. We went to a local resteraunt where we sat in silence waiting for the waitress. Our daughter Molly wouldn’t hear of such sadness or silence so she played happily with crayons and paper while we sat and stared at the floor.

I noticed a very elderly couple sitting a few booths away, they too in silence never speaking a word. I couldn’t help but wonder what challenges they had faced in their life and if they ever faced such terrible news about a child of theirs.

We eventually ordered our lunch and still sitting in silence we ate what we could. At some point I became intrigued by the old couple and I watched them more intently with each passing minute. I thought to myself that they hadn’t yet spoken to each other and I wondered if it was the peace they were enjoying or the food or maybe both. However, at some point I lost interest and put my focus back on my lunch.

Molly was still talking away and enjoying her meal and her mom and I both listened and tried to be happy in her presence but it wasn’t going very well. All of a sudden I saw this hand come out of nowhere. It was huge and I could tell that it had been afflicted with arthritis. The knuckles were swollen and the fingers were crooked and off center. I couldn’t take my eyes of that hand. The hand drifted down and landed on my daughter’s tiny six year old hand and as it did I looked up; it was the old woman who had been sitting with the old man in silence eating their lunch.

I looked into her eyes and she spoke, but not to me. She looked at my daughter and simply whispered, “If I could do more for you I would.” And then she smiled and moved away to join her husband who had moved towards the door.

I heard a “Hey look, a whole dollar.” Molly spoke with excitment as she discovered that the old lady had placed a crumpled one dollar bill on the back of her hand. I looked down and saw the dollar bill and quickly realized that it had been left behind by the old lady. I looked up to thank her, but she was gone. I sat stunned, not sure what had just happended and then I looked over at my wife. In almost unison, we broke out into a smile. The sadness of the day had been wiped out by the crippled hand and generous touch of an old lady.

The dollar, although exciting to Molly, was not what made us smile or begin to feel differently, it was the offer from an old lady who felt our hurt and our suffering. The crippled hand symbolized a healing touch and made us realize that we did not have to fight this battle alone; that others cared and wanted to help. We felt up-lifted and soon our day filled with more happy thoughts as we spent the rest of our lunch planning the next day at home with fun filled activities for eveyone.

I will never forget that crippled arthritic hand that taught us such an important lesson. One does not have to go through life facing hardships all alone; the world is full of compassionate and understanding people. Even those that are suffering from their own afflictions have much to give to each other.

The hand that covered Molly’s on that day still covers it. And although Molly is no longer with me, I can see her holding hands with that old lady now, both hands perfect and both faces filled with smiles and laughter. And though Heaven has these two perfect angels now, the lessons that they both taught me will remain forever in my heart.

by Tim Reynolds

Kyrie Eleison

dermagaSabtu Kudus, pekan kemarin adalah perayaan Yesus yang turun ke dunia orang mati sebelum bangkit keesokan harinya pada hari Paskah. Dari sore sampe malem aku habiskan untuk mengikuti ibadah Taize di gereja. Dari awal memang aku pengen banget mengikuti prosesi masa Pra Paskah sampe perayaan Paskah tahun ini dengan lebih sungguh-sungguh. Mungkin bagian puasanya aja yang aku nggak bisa penuh ;) Aku lagi bener-bener pengen ‘menepi’ buat merenung kembali tentang apa yang udah lewat dan apa yang aku inginkan di depan sana.

Mulai dari penghayatan masa sengsara sampai perayaan Paskah kemaren memang pengen aku pake sebagai momentum untuk bangkit lagi (and I really wish for that). Akhir-akhir ini aku ngerasa mulai kayak orang disorientasi aja. Makin lama makin nggak tau arah.

Aku ngeliat kakakku sama adekku, kayaknya cuman aku aja yang masih asyik bermain di luar rumah sementara mereka berdua udah pulang mandi, siap-siap mo nonton TV. Bukannya Mama nggak memanggil aku pulang, tapi aku cuma belum menemukan alasan yang tepat buat pulang ke rumah menyusul kakak dan adekku. Tapi di sini aku juga udah capek. Aku juga udah bosan.

Tuhan bilang, mintalah maka akan diberikan kepadamu. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Tuhan, aku kan udah minta, apa masih ada yang kurang dengan permintaanku? Atau aku mengetuk kurang keras? Kan nggak mungkin kalo aku gedor pintuNya … hiks, hiks … :(

Capek banget Tuhan … Padahal aku cuma butuh 1 jawaban saja, bukan malah teka-teki, apalagi teka-teki silang ;) Atau malah kayak yang terjadi sekarang, seolah-olah Engkau memberikan beberapa alternatif jawaban (pilihan ganda?), trus minta aku memilih mana yang paling tepat menurutku. Nah … masalahnya, tepat buat aku kan belum tentu tepat buat Engkau. Trus begitu waktu koreksi tiba, Engkau baru kasih tau jawabannya. Sementara yang ada di sini aku cuman bisa konser sakit hati … Aku nggak mau hal yang kayak gitu terulang lagi …

Lord, I really wish for the last one … I’m so tired now …

Long Way to Carmelitan Valley

dsc009677Setelah sekian lama berkutat dengan berbagai masalah hidup dan kerjaan (berlebihan banget yah), akhirnya datang juga waktu untuk bisa menyepi sejenak, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Mengambil waktu di akhir cuti, hari Minggu kemarin memang sengaja aku khususkan untuk ke Lembah Karmel, Cikanyere.

Berangkat pagi hari, sekitar pukul enam pagi, memang sengaja kita maksudkan untuk menghindari macetnya Puncak di akhir pekan. Selain itu dengan berangkat pagi, kita juga berharap dapat mengikuti prosesi Minggu Palma di Lembah Karmel ini.

Lembah Karmel sendiri merupakan sebuah tempat wisata rohani sekaligus rumah biara dari para biarawan Carmelitan. Biara ini sendiri didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, yang telah mendalami dan mengembangkan meditasi sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan menolong sesama.

Yang lebih mengagumkan lagi adalah pada waktu mulai memasuki area Lembah Karmel ini, kita akan segera menjumpai hamparan berhektar-hektar taman hijau berbukit dengan beberapa buah bangunan pokok yang dipergunakan untuk berbagai keperluan, seperti wisma-wisma untuk retreat, tempat makan, toko buku, hingga tempat untuk berjualan berbagai macam hasil kebun dan olahannya. Untuk misa dan berbagai perayaan lainnya biasa diselelenggarakan di Gedung St. Theresia yang merupakan bangunan utama atau gereja yang didirikan di bagian perbukitan paling atas lembah ini. Hehe … masuk gedung St. Theresia ini udah kayak masuk di stadion aja … gedhe banget, desainnya emang dibuat kayak theater gitu dengan altar di bagian depannya …

Pulang dari Lembah Karmel sudah menjelang sore. Untuk menghindari macetnya arus balik Puncak di akhir pekan gini, akhirnya kita memilih jalan alternatif yang sebenernya juga nggak ada satu pun dari kita yang tau ataupun pernah melewatinya. Jalan alternatif yang ditunjukkan oleh pedagang buah pinggir jalan ini justru ngasih kita pengalaman offroad puluhan kilometer jauhnya karena memutar bukit. Bayangin aja kalo jalan tuh blom diaspal, bahkan blom diapa2in … tanahnya merah, berlumpur … hiiyy sempet takut juga tuh, takut ban kita selip atau gimana gitu, coz bukan mobil buat offroad neh … Tapi malah gara-gara jalan alternatif ini kita dapet view pemandangan Puncak yang keren banget … ;)

Hmm, liburan yang kayak gini neh yang keren … harus dicoba lagi kapan2 … :D

 

Bukan Malin Kundang

malinkundangSore ini seperti biasa, aku dan Mama menyempatkan duduk bersantai dan mengobrol panjang lebar, sana sini tentang aktivitas kami masing-masing seharian ini. Kali ini Mama bercerita tentang seorang nenek yang sudah beberapa bulan terakhir ini secara rutin datang ke rumah setiap beberapa hari sekali. Nenek ini sudah sangat tua, kata Mama buat jalan aja udah susah, udah jompo :(

Nenek ini sebenernya punya anak, punya menantu, punya cucu juga. Lalu apa yang membuat nenek yang seharusnya menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang di rumah ini sampai harus berada di jalanan? Nenek ini mulai datang ke rumah semenjak rumahnya dijual oleh anak semata wayangnya tersebut. Anak yang telah ia besarkan dengan penuh cinta kasih, telah menuntut hak warisnya sebagai anak tunggal. Tanpa prasangka apa pun nenek ini dan suaminya (pada waktu itu masih hidup) memberikan hak waris mereka atas semua milik mereka kepada si anak. Namun diluar dugaan, anak ini justru menjual rumah yang mereka wariskan dan mengusir pergi kedua orang tuanya. Tak lama setelah kejadian tersebut, suami nenek ini kemudian meninggal dunia. Dan jadilah nenek ini seorang diri menjalani sisa hidupnya. Karena sudah tidak mempunyai rumah sebagai tempat berteduh dan kehabisan uang tanpa sedikitpun bekal untuk bertahan hidup, nenek ini hidup sebagai gelandangan dari satu tempat ke tempat lain. Sebenarnya para tetangga di rumahnya dahulu yang bersimpati kadang memberikan tumpangan secara bergilir kepada nenek yang sudah jompo ini.

Namun nenek ini akhirnya merasa tidak enak hati menjadi beban bagi tetangga-tetangganya, sehingga diputuskannya untuk pergi dan hidup sebagai gelandangan. Pertama kali datang ke rumah, kata Mama, nenek ini masih terlihat bersih, tidak seperti sekarang yang terlihat kotor dan lusuh. Nenek ini datang bukan untuk minta uang, namun hanya meminta sepiring nasi untuk dimakan hari itu. Pernah Mama akan membekali nenek ini dengan beberapa bungkus Indomie dan uang, namun nenek ini menolak. Terakhir kemarin dia datang, oleh Mama diberi makan siang, beberapa tablet vitamin harian untuk bekal dan beberapa baju kebaya lama Mama yang sudah tidak pernah dipakai. Karena melihat nenek ini sudah sedemikian lusuh, Mama juga memberikan sabun mandi agar nenek ini bisa mandi setiap saat di kamar mandi umum yang dijumpainya.

Prince of My Dreams

Pada waktu kita kecil,
Setiap kita mungkin pernah punya satu sosok pangeran tampan berkuda yang kita impikan akan datang menjemput kita … ;)
Dengan akhir cerita bahagia selamanya tentunya … happily ever after

Sosok pangeran tampan ini pun terus terbawa dalam memory kita
Seiring dengan berjalannya waktu, realita telah membentuk satu sosok pangeran itu dalam kehidupan kita …

Yang membedakannya adalah, pangeran yang kini ada dalam memory kita bukanlah sosok pangeran berkuda lagi … tapi sudah berganti menjadi sosok pangeran yang kita harapkan bisa membuat kita nyaman … dan bahagia selamanya …

Waktu yang lama berputar telah membuat reka ulang sosok ideal pangeran dalam benak kita

Bukan lagi pangeran berkuda saja,
Tapi pangeran yang cakap dan cerdas
Pangeran yang bijaksana, penuh perhatian juga peduli kepada sesama (kalo di dongeng yaa pangeran yang adil dan bijaksana terhadap rakyatnya gituuu …)
Mungkin pangeran yang sanggup membawakan bintang di langit untuk hadiah (wuiihh … ck, ck, ck …) ato mungkin lebih realistisnya Toblerone putih tiap kali kita ngambek …
Mungkin pangeran yang bisa membantu ngerjain tugas akuntansi karena aku sering bolos mata pelajaran ini (mungkin yang ini pangeran sewaktu SMA … xixixi :D )
Mungkin pangeran yang menemani aku nyanyi dengan dentingan gitarnya (ehemm … tapi bukan Glenn Fredly looh … tapi kalo Ello yaa mau bangets … )
Mungkin pangeran yang nggak segan-segan dan nggak gengsi buat diajak naek gunung ato menikmati lezatnya bakmi jawa di pinggir jalan (????!!??)
Pangeran yang setia, selalu menepati janji (bukan janji Pramuka)
Pangeran yang selalu ada buat kita
Menemani hari-hari kita
Pangeran yang sanggup membuat saat terburuk kita menjadi saat yang terbaik …

that’s all about Prince of My Dreams … xixixi :D
(let your mind go for a walk … kata salah satu iklan di TV)

Iman Yang Mengatasi Segalanya

child_prayingKisah ini diceritakan oleh seorang pendeta dari Filipina. Tentang doa seorang anak kecil sederhana yang sering ia temui datang ke gereja tempat ia melayani. Setiap sepulang sekolah anak kecil ini selalu menyempatkan diri mendatangi gereja. Ia selalu memilih baris terdepan di dekat altar sebelum kemudian ia berlutut dan berdoa. Hari itu sang pendeta sengaja ingin menyapa anak ini.

“Nak, kenapa kamu selalu datang kemari?”, tanya pendeta ini. “Aku hanya ingin bertemu Sahabatku Bapa”, katanya polos. Pendeta ini kemudian tersenyum dan mempersilakan anak ini menemui Sahabatnya.  Namun diam-diam dari balik tembok, pendeta ini mendengarkan ‘cerita’ anak ini pada Sahabatnya.

Dan inilah cerita anak ini kepada Sahabatnya:

“Tuhan Yesus, Engkau adalah sahabatku … jadi pastilah Engkau mau mendengarkan ceritaku hari ini. Tuhan, hari ini aku ada ulangan matematika di sekolah. Soalnya susah sekali. Aku berusaha mengerjakan tapi tidak bisa.  Aku tidak yakin apakah aku bisa mendapat nilai yang baik. Tapi walaupun susah, aku tidak mencontek. Tuhan, aku mengerjakannya sendiri, walaupun teman-temanku banyak yang mencontek”, tuturnya di awal doa. Kemudian ia menyambung lagi ceritanya, ”Pagi ini ayah memberiku tiga potong roti sebagi sarapan sekaligus bekalku, karena ayah sekarang sedang tidak punya uang. Tuhan, kemarin ayah di-PHK dari tempatnya bekerja dan hari ini dia sedang berusaha mencari pekerjaan. Tolong ayah ya Tuhan agar cepat mendapatkan pekerjaan lagi. Tentang rotinya, dua potong roti sudah aku makan di sekolah, karena aku sangat lapar sekali. Sedangkan yang satu potong lagi aku simpan untuk siang. Tapi tadi di tengah jalan pulang aku melihat seekor kucing kecil yang nampaknya sangat kelaparan. Kasihan Tuhan. Lalu aku berikan rotiku yang satu potong agar dia bisa makan. Tapi walaupun begitu sampai sekarang aku belum lapar lagi”.

Tidak sampai di situ saja, anak ini masih meneruskan, “Tuhan lihat sepatuku yang sudah mulai rusak ini?? Mungkin minggu depan aku ke sekolah sudah tidak lagi memakai sepatu. Aku tahu ayah sangat ingin membelikan aku sepatu baru, tapi ayah belum punya cukup uang. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku masih bersyukur bisa sekolah walau mungkin tanpa memakai sepatu, karena masih banyak anak-anak yang bahkan tidak bisa bersekolah”. Pendeta yang mendengarkan cerita anak ini menghela napas mendengarkan cerita anak ini kepada Sahabatnya.

“Tuhan hari ini badanku juga sakit, karena tadi pagi aku dipukuli ibu. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku tahu Engkau pasti akan menyembuhkan luka-lukaku. Mungkin ibu marah karena kami kehabisan uang dan tidak punya apa-apa”. Anak ini berhenti sejenak sebelum kemudian tersenyum dalam doanya dan melanjutkan, “Tuhan hari ini aku juga jatuh cinta. Ada seorang anak perempuan yang baru saja masuk di kelasku. Dia sangat cantik. Aku mencintainya, tapi aku tidak yakin apakah dia mau mencintai aku. Tapi aku tahu satu hal yang pasti Tuhan, bahwa Engkau pasti akan selalu mencintai aku”.

“Terima kasih Tuhan untuk hari ini, Amin”. Anak ini menutup doanya dengan wajah berseri kemudian meninggalkan rumah Sahabatnya tersebut.

Mungkin inilah yang disebut iman yang dapat mengatasi segalanya, walaupun mungkin hanya dalam sebuah keluguan pemahaman anak kecil.