Step by Step …

Posted: November 8, 2011 in Day by Day

‘Once in lifetime’ .. label ini yang selalu membayang di benakku saat pertamakali kami memulai persiapan pernikahan kami. Sekali seumur hidup, merupakan sebuah alasan kuat kami untuk memulai persiapan pernikahan kami jauh-jauh hari sebelumnya. Waktu yang diperlukan untuk persiapan sebuah pernikahan memang bisa sangat relatif, ada yang bisa mempersiapkannya dalam tempo 2-3 bulan, namun ada pula yang mempersiapkannya sangat jauh hari sebelumnya, bahkan setahun sebelumnya. Seperti adik salah seorang sahabatku misalnya, untuk pernikahan dia mempersiapkan setahun sebelumnya .. hahahaha ..
I think that it must be a great celebration :)

Namun untuk pernikahan kami, kami sengaja mengambil waktu persiapkan yang relatif mencukupi dalam hitungan kami. Pada prinsipnya kami membagi persiapan pernikahan kami ke dalam 2 garis besar persiapan, yaitu persiapan mental spiritual dan persiapan fisik material.

Untuk persiapan mental spiritual, kami sudah memulainya jauh jauh hari sebelumnya. Terhitung sejak bulan November setahun yang lalu, kami sudah membicarakannya karena kebetulan kami berasal dari dua aliran gereja yang berbeda. Bahkan berkat peraturan yang dibuat penguasa negeri ini di masa Orba, telah membuat dua jenis aliran gereja ini menjadi dua label agama yang berbeda (God, I really hate that!) Namun aku sangat bersyukur karena Tuhan benar-benar memberikan aku pasangan yang sangat pengertian dan berwawasan luas, sehingga semua perbedaan itu akhirnya dapat kami atasi. Akhirnya dia lebih memilih di gereja yang benar-benar menjunjung azas keesaan gereja di muka bumi, gereja yang benar-benar mau menerima dengan tangan terbuka umat dari denominasi manapun asalnya dengan sebuah pengakuan tunggal sebagai umat kepunyaan Allah. Jujur saja, aku memang sangat tidak setuju jika ada sebuah gereja yang menganggap dirinya lebih benar atau lebih baik dari gereja lainnya, karena aku tahu dengan pasti bahwa Tuhan tidak pernah memberikan hak kepada manusia untuk menentukan sebuah nilai benar atau salah di mataNya.

Oke, singkat cerita akhirnya bulan Juli yang lalu kami sepakat untuk memulai lebih lanjut persiapan mental & spiritual kami dengan mulai mengikuti kelas katekisasi pra nikah. Dia sendiri mulai bulan Juni yang lalu sudah memulai kelas katekisasi sidhi atau mengaku percaya secara dewasa, karena dari gereja asalnya dia belum sempat menerima sakramen krisma. Kedua hal inilah yang mengawali persiapan mental spriritual kami secara gerejawi. Puji Tuhan, semuanya berjalan dengan lancar hingga saat ini. Katekisasi pra nikah pun sudah kami selesaikan sebulan yang lalu, sehingga hari ini pun secara resmi kami sudah bisa mendaftarkan rencana pernikahan kami di gereja :D

Untuk persiapan fisik material sendiri, kami sama-sama yakin bahwa daftar detailnya akan sangat sangat panjang sekali. Hal itu pulalah yang membuat kami memutuskan untuk memulai persiapannya jauh-jauh hari sebelumnya, karena kami sangat sadar bahwa waktu luang dan intensitas pertemuan kami sangat rendah, jadi walaupun kami berdua walaupun tinggal dalam satu kota namun faktanya adalah bahwa kesibukan kami masing-masing telah membuat kami tidak bisa setiap saat bertemu .. wkwkw :p

Kami pun sepakat untuk memulai hitungan mundur kami ke hari-H dari sekitar tujuh bulan sebelumnya. Dimulai dengan membuat list-list sederhana, kami membuat 3 judul sheets menggunakan Excel untuk mem-breakdown daftar persiapan kami. File pertama adalah Daftar Belanja Kebutuhan kami untuk keperluan pernikahan. Yang kedua adalah Daftar Belanja & Kebutuhan kami setelah pernikahan. Dan yang ketiga adalah sebuah sheet berisi TO DO LIST, kami membuat daftar to do list dari hal-hal yang menjadi target untuk kami selesaikan di setiap bulannya selama tujuh bulan mendatang (sebenarnya total ada 8 bulan persiapan, namun bulan hari – H ingin kami jadikan sebagai bulan bebas stress, kami berusaha menyelesaikan semuanya di bulan sebelumnya :) ).

And, here we go .. hari ini, puji Tuhan kami telah mendapatkan beberapa kepastian mulai dari tanggal pelaksanaan, pendeta, pendaftaran pernikahan di pihak gereja, booking venue alias gedung resepsi hingga perias pengantin. Thank’s God .. kami bener2 diberkati karena semua bisa berjalan lancar sesuai yang kami rencanakan.
Tuhan bener2 sayang kami .. :D


we are both travelers in our own world …
both, we’ve been walk along our own path
day by day ..
year through the years,
and, here we go ..

Dan, setelah sekian lama kami mengenal,
setelah sekian lama kami berjalan,
dan setelah sekian lama kami berbagi bersama,
tibalah saat itu,

saat di mana kami berdua mempersiapkan diri kami untuk melangkah bersama di lembar baru kehidupan kami,

.. lembar baru,
.. langkah baru,
bukan lagi lembar yang bisa kami isi sesuka diri kami masing-masing,
bukan pula langkah sesuka hati kami sendiri melangkah,
lembar di mana tidak ada lagi ‘aku’ dan ‘kamu’,
lembar di mana yang ada adalah ‘kita’
karena kamu, maka kita adalah sepasang kaki yang melangkah ..

God help us

:)

Have A Blessed Sunday

Posted: Oktober 22, 2011 in My Opinion

Ada tujuh hari dalam satu minggu yang diciptakan oleh Tuhan, Dia sendiri sudah mengajarkan melalui karya penciptaannya untuk menyelesaikan semuanya hingga hari keenam, berhenti pada hari ketujuh untuk memberkati dan mengkuduskan ciptaanNya.

Jadi siapakah kita jika kita tidak mau berhenti bekerja di hari ketujuh untuk hanya untuk mengejar materi dalam dunia?

Siapakah kita, jika pada hari ketujuh kita tidak mau berhenti dari semua aktifitas kita untuk meluangkan waktu sejenak untuk bersyukur atas semua kebaikanNya yang kita dapatkan melalui keluarga dan teman-teman yang menyayangi kita.

Siapa pula kita, jika pada hari ketujuh kita tidak mau berhenti dari semua kesibukan kita untuk memuji dan memuliakan namaNya, Sang Khalik Pemberi Hidup. Berhenti sejenak untuk mensyukuri semua berkatnya dan mengingat kembali arti diri kita sebagai manusia di hadapanNya.

Salib bukan hanya sebuah lambang penebusan dosa, namun lebih dari itu salib merupakan sebuah arti hidup kita sebagai manusia yang berjalan secara vertikal maupun horisontal. Salib melambang jalan hidup manusia secara vertikal dengan Penciptanya dan secara horisontal dengan sesamanya manusia.

Hidup itu bukan hanya sebuah pencapaian duniawi semata, namun hidup adalah tentang bagaimana kita menghidupinya setiap hari dengan Tuhan dan orang2 yang kita sayangi, yang telah dipercayakan Tuhan untuk berbagi kehidupan bersama dengan kita.

Maka tidaklah berlebihan jika Tuhan memerintahkan manusia untuk mengkuduskan hari Sabbath, karena hari itu adalah satu hari yang diciptakanNya untuk manusia kembali memaknai hidupnya di hadapan Pencipta & sesamanya.

Have A Blessed Sunday!

“.. daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan berlian di negeri sendiri”

Uhmmm .. bukan sekedar ngawur, tapi itulah yang terlintas di benak saya ketika salah seorang teman dekat saya resign dari kantor tempat kami bekerja, “.. daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan berlian di negeri sendiri”
Adalah baik memang untuk setiap kita, terutama kita yang masih muda untuk mengejar mimpi2 kita. Dan sudah bukan rahasia lagi, nilai rupiah dan jabatan merupakan salah satu tolok ukur generasi kami untuk menakar kesuksesan. Untuk sebuah kata yang bernama ‘prestige’ .. banyak dari kami yang yang telah ‘mengembara’ mencari kemapanan karier.

How about me?!?
Jawaban saya singkat saja, “.. daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan berlian di negeri sendiri”. Beberapa teman biasanya akan tertawa mendengar hal yang menurut mereka lelucon ‘plesetan’ ini. Yaaap, tapi itu bukan sekedar lelucon yang saya lontarkan begitu saja. Maksud saya sih sederhana saja, bahwa kemakmuran sebenarnya bukan berdasar pada ke mana kita akan pergi, namun kemakmuran itu tergantung juga pada usaha kita juga. Mengapa tidak berpikir untuk mengusahakan kemakmuran di tempat di mana Tuhan menempatkan kita?

Misal saja, bukan rahasia lagi bahwa untuk mendapat pekerjaan mapan di kota metropolitan akan jauh lebih mudah daripada di kota yang lebih kecil lainnya (misalnya saja Jogjakarta). Itu pula yang mendorong ratusan putra terbaik daerah berangkat ke Jakarta setiap tahunnya. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah, apakah akan selalu begitu? Apakah bekerja sukses itu harus selalu ke Jakarta?

Jawaban saya pastilah ‘TIDAK’. Ada beberapa alasan saya untuk mengatakan ‘TIDAK’. Yang pertama adalah, jika semua putra terbaik daerah berangkat ke kota besar untuk menjadi sukses, lalu siapakah yang akan membangun daerah tsb? Metropolitan akan selalu mendapatkan gemerlapnya, jika semua putra terbaik daerah membangun satu kota yang bernama ‘Jakarta’ itu. Padahal jika sebagian saja dari mereka mau tinggal di daerahnya untuk membangun daerahnya, alangkah indahnya … Saya selalu salut pada teman2 saya yang tetap mau tinggal di daerahnya, atau setidaknya pulang ke daerahnya untuk membangun daerahnya.

Alasan kedua saya mengatakan tidak adalah karena saya yakini bahwa kesuksesan itu tidak hanya bergantung pada tempat bekerja kita, namun juga doa dan usaha kita. Saya selalu membayangkan, pastilah akan sangat memuaskan jika dapat membawa sebuah perusahaan lokal menjadi sebuah perusahaan nasional atau bahkan internasional yang disegani. Bukankan sesuatu yang besar selalu bermula dari yang kecil?

Jadi, siapa bilang sukses itu hanya ada di Jakarta? Bagaimana dengan penjual bakmi jawa di Jogja yang selalu bisa membeli mobil2 Eropa keluaran terbaru dari usahanya menjual bakmi tiap malam? .. atau seorang pengrajin Kasongan yang kesehariannya masih memakai sarung dan menghisap tembakau lintingan, namun selalu sukses dalam setiap pamerannya di Amsterdam, Sydney, London, Paris, dst, … bahkan setiap bulan containernya selalu berangkat ke Eropa untuk memenuhi pesanan.

“.. saya jauh lebih menghargai mereka ini, yang bisa mengusahakan hujan berlian di negerinya sendiri daripada mengejar hujan emas di negeri orang .. ”

Masa Lalu ..
adalah rangkaian kisah hidup yang diijinkan Tuhan terjadi atas hidup kita agar kita belajar dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup yang lebih baik

Masa Kini ..
adalah sebuah kesempatan yang dipercayakan Tuhan sekali lagi untuk kita usahakan sebaik mungkin

Masa Depan ..
adalah sebuah alasan untuk kita tetap memiliki harapan, untuk terus kita perjuangkan hari ini dan esok

No one can go back to the past and make a brand new start,
But anyone can start from now and make a brand new ending  :)