Semalam aku ngobrol panjang lebar dengan salah satu sahabatku. Sahabat yang aku kenal sejak kami bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Sahabat yang sudah tahu belang masing-masing :D Selama ini memang aku banyak bercerita dengannya, mungkin biar enggak stress atau kena stroke dini … kurang lebih …
Ada satu teori yang dia ceritakan ke aku tentang bagaimana menyikapi kehidupan ini. Aku lebih suka menyebutnya teori permainan kartu. Menurutnya, pada saat orang lain hanya mengeluarkan kartu ‘3’ atau ’4’, bukankah kita hanya akan melawannya dengan kartu ‘6’ atau ’7’, kita tidak perlu mengeluarkan kartu ‘As’ kita jika lawan hanya mengeluarkan kartu kecil. Sebenarnya dia sedang mencoba menasehatiku tentang kapan saat yang tepat kita memberikan ‘hati’ kita. Entah itu dalam pekerjaan, pertemanan ataupun sebuah hubungan. Ikutilah permainannya, tapi jangan pernah menjadi bodoh dengan terburu-buru memberikan kartu ‘As’-mu kepada orang yang sebenarnya tidak pantas mendapatkannya.
Dia katakan hal itu karena dia mengetahui idealismeku mengenai sebuah totalitas. Selama ini aku nggak pernah pengen jadi orang yang tanggung-tanggung dalam hidup ini. Entah itu dalam pekerjaan, pertemanan ataupun sebuah hubungan. Take it or Leave it .. Totalitas itu baik, katanya. “Tapi paling baik jika kamu tahu kapan kamu harus memberikannya”, sambungnya. Aku sadar arti dari ucapannya itu, memang totalitas bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri jika kita tidak tahu kapan dan untuk apa atau siapa totalitas itu harus ditujukan.
Saat kamu jatuh, sebenarnya kamu sedang belajar. Belajar tentang kapan saat terbaik berikutnya untuk memberikan kartu As dalam permainan yang akan datang, agar kartu itu tidak akan menjadi sia-sia lagi. “Pastikan kartu itu hanya akan kamu keluarkan pada saat yang benar-benar berharga, pada hal yang benar-benar hebat atau kepada orang yang benar-benar tepat”, katanya memastikan. Okey … baiklah kawan …