Totalitas vs Permainan Kartu

Semalam aku ngobrol panjang lebar dengan salah satu sahabatku. Sahabat yang aku kenal sejak kami bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Sahabat yang sudah tahu belang masing-masing :D Selama ini memang aku banyak bercerita dengannya, mungkin biar enggak stress atau kena stroke dini … kurang lebih …

Ada satu teori yang dia ceritakan ke aku tentang bagaimana menyikapi kehidupan ini. Aku lebih suka menyebutnya teori permainan kartu. Menurutnya, pada saat orang lain hanya mengeluarkan kartu ‘3’ atau ’4’, bukankah kita hanya akan melawannya dengan kartu ‘6’ atau ’7’, kita tidak perlu mengeluarkan kartu ‘As’ kita jika lawan hanya mengeluarkan kartu kecil. Sebenarnya dia sedang mencoba menasehatiku tentang kapan saat yang tepat kita memberikan ‘hati’ kita. Entah itu dalam pekerjaan, pertemanan ataupun sebuah hubungan. Ikutilah permainannya, tapi jangan pernah menjadi bodoh dengan terburu-buru memberikan kartu ‘As’-mu kepada orang yang sebenarnya tidak pantas mendapatkannya.

Dia katakan hal itu karena dia mengetahui idealismeku mengenai sebuah totalitas. Selama ini aku nggak pernah pengen jadi orang yang tanggung-tanggung dalam hidup ini. Entah itu dalam pekerjaan, pertemanan ataupun sebuah hubungan. Take it or Leave it .. Totalitas itu baik, katanya. “Tapi paling baik jika kamu tahu kapan kamu harus memberikannya”, sambungnya. Aku sadar arti dari ucapannya itu, memang totalitas bisa menjadi bumerang bagi diri kita sendiri jika kita tidak tahu kapan dan untuk apa atau siapa totalitas itu harus ditujukan.

Saat kamu jatuh, sebenarnya kamu sedang belajar. Belajar tentang kapan saat terbaik berikutnya untuk memberikan kartu As dalam permainan yang akan datang, agar kartu itu tidak akan menjadi sia-sia lagi. “Pastikan kartu itu hanya akan kamu keluarkan pada saat yang benar-benar berharga, pada hal yang benar-benar hebat atau kepada orang yang benar-benar tepat”, katanya memastikan. Okey … baiklah kawan …

Share Singkat Pelepasan Mr. Ot

Pagi tadi, di kantor ada acara khusus, yaitu pelepasan Pak Ot, salah satu direktur di tempat aku bekerja. Secara pribadi maupun pekerjaan memang aku tidak begitu dekat dengan beliau, karena kebetulan aku tidak bekerja pada departemen yang dipimpinnya. Namun begitu ada beberapa hal penting yang aku pelajari dari beliau.

Saat pertama kali aku bekerja di tempat yang sekarang, secara khusus aku pernah dikirim oleh atasanku langsung untuk belajar jurnalistik di departemen tempat Pak Ot memimpin. Kebetulan departemen yang dipimpin Pak Ot – begitu biasa beliau dipanggil, merupakan satu-satunya departemen yang mempunyai bala tentara jurnalis. Di sana selama beberapa hari aku diajari segala macam tentang jurnalistik dan suka dukanya oleh kawan-kawan redaksi maupun wartawan yang ada. Di sanalah momentum pertama aku membuka mata terhadap dunia pers, penulisan, jurnalistik, dan sebagainya.

Dalam kata-kata pelepasannya tadi Pak Ot masih saja dapat memberikan sebuah pelajaran berharga kepada kami. Beliau mengatakan bahwa pekerjaan adalah amanah yang wajib kita emban. Jabatan hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Alat untuk kita dapat menyajikan berita dan informasi positif yang membangun masyarakat. Totalitas dan dedikasi kita terhadap pekerjaan merupakan wujud religiusitas kita kepada Yang Maha Kuasa. Begitulah kurang lebih beliau berpesan.

Salah satu prinsip pemberitaan yang pernah aku pelajari dahulu waktu belajar jurnalistik adalah prinsip jurnalisme positif (istilah sebenarnya apa ya… aku lupa). Memang jurnalisme harus netral dan independent, itu benar. Kita pun dapat bebas menulis semua berita yang kita ketahui entah itu positif atau negatif dan menyajikannya. Tapi memikirkan bagaimana masyarakat menerimanya, reaksi apa yang akan timbul atau manfaat apakah yang akan mereka dapatkan, merupakan hal yang lebih penting untuk dipikirkan dalam menyajikan sebuah berita. Itulah mengapa menurutku sangat penting untuk membangun atau setidaknya memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat melalui pemberitaan yang kita sampaikan.

Saat ini di tengah carut marutnya keadaan berbangsa dan bernegara, sebenarnya media massa mempunyai porsi yang sangat besar untuk menentukan jatuh bangunnya sebuah bangsa. Peran jurnalis sebenarnya sedang diuji, mampukah jurnalisme di Indonesia menjadi jembatan aspirasi masyarakat dan pemimpinnya? Mampukan jurnalisme di Indonesia menciptakan sebuah iklim yang kondusif bagi pembangunan sebuah bangsa? Dan mampukan jurnalisme Indonesia menjadi alat introspeksi pemerintah dalam membangun bangsa? Kita lihat saja …

Ditulis dalam @Work. Leave a Comment »

Sopir Berhati Malaikat

Waktu itu hari sudah beranjak malam ketika aku pulang dari mengunjungi salah seorang teman yang bekerja di kawasan Bismar, daerah Warung Buncit. Sesaat tadi kakakku menelpon, seperti biasa menanyakan keadaanku, ada dimana dan apakah perlu dijemput. “Nggak usahlah, pulang sendiri aja”, begitulah aku menjawabnya, karena jarak antara Buncit ke Ragunan tak seberapa jauh. Selain itu, membayangkan jarak dari kantornya di Atrium Senen juga membuatku putus asa untuk menunggunya.

Angkutan paling cepat untuk sampai ke Ragunan adalah 75, jadi begitu bus kecil berwarna merah biru itu melintas, aku segera menaikinya. Seperti biasa aku mencari tempat duduk di belakang sopir, selain karena kata kakakku itu merupakan salah satu tempat paling ‘aman’, juga karena aku menyukai untuk melihat langsung ke depan jalan, sisi bagian kaca sopir ini.

Aku segera menyiapkan dua lembar ribuan untuk membayar, karena aku yakin tak lama lagi pasti akan ada suara “Yang baru … yang baru … yang baru”. Dan benar saja tak lama kemudian suara itu terdengar di dekatku, namun kali ini ada yang aneh … karena suara itu seperti suara anak kecil. Saat aku menoleh, memang benar, di sebelah kiriku sudah berdiri seorang anak berumur sekitar delapan tahun mengenakan sebuah tas yang kedodoran di pinggangnya. Aku benar-benar terkejut, namun aku segera menyodorkan dua lembar ribuan yang ditunggunya. Anak itu segera berlalu sambil terus berkata “Yang baru, yang baru, yang baru”, kepada beberapa orang di baris belakangku. Aku tertegun, kemudian secara tak sengaja aku lihat ke arah kaca spion di atas sopir. Ternyata sopir bus sedang mengamati sejenak keadaan dalam bisnya, sehingga tak sengaja mata kami bertemu. “Tadi anak Bapak ya?”, tanyaku kepada sopir bis yang berusia sekitar empat puluhan tahun itu. “Bukan Neng”, jawab sopir bis itu sambil melihatku melalui kaca spion di atasnya. “Dulu dia biasa nongkrong di terminal Neng, udah gak sekolah lagi”, sambungnya. “Daripada dia besar cuman jadi preman, palakin orang tiap hari, … ya saya ajakin aja narik, sapa tau nanti bisa dikumpulin buat ongkos dia sekolah lagi”, papar pak sopir itu lagi. Aku terdiam, tidak menyangka akan mendengar itu dari seorang sopir bis di depanku. “Ooh, saya pikir tadi anak Bapak”, sahutku. “Bukan Neng, saya aja malah gak tau orang tuanya yang mana”, sambungnya lagi.

Tak terasa bus telah memasuki daerah Jatipadang. “Kiri Pak”, kataku kepada Pak Sopir tadi. Bus pun segera melambat, sambil bergegas turun, aku sempat bilang ke Pak Sopir itu, “Makasih ya Pak”. Sopir itu tampak agak bingung, kemudian tersenyum.

Yah, memang agak aneh seorang penumpang bus yang mau turun mengucapkan terima kasih kepada sopir. Sambil berjalan aku juga tersenyum, agak konyol yah … pikirku, tapi aku memang ingin mengucapkan terima kasih kepada Pak Sopir itu. Terima kasih atas hikmah yang dia berikan kepadaku, walaupun mungkin tanpa dia sadari. Terima kasih atas kepeduliannya terhadap hidup seorang anak kecil, yang bahkan bukan anak ataupun saudaranya. Dan yang terlebih penting lagi, terima kasih telah berbagi kasih Allah, walaupun dalam kekurangan sekalipun. Sekali lagi Allah menunjukkan padaku hari itu, masih ada ‘malaikat’ yang dipakaiNya di tengah deru malam ibukota Jakarta.

Information Technology for The Future

Information Technology, dalam dasa warsa ini IT telah berkembang pesat. Jauh lebih cepat dari saat pertama kali pengembangannya dilakukan. Namun yang tak pernah terduga dari perkembangan bidang ‘Information Technology’ ini adalah pengaruhnya terhadap berbagai bidang kehidupan manusia.

Mungkin sepuluh tahun yang lalu seorang pasien belum dapat membayangkan akan dapat berkonsultasi tentang penyakitnya kepada komputer. Tapi coba lihat yang telah dilakukan Google dengan webmd.com-nya. Bahkan disediakan symptom checker untuk menganalisa keluhan pasien. Di website ini Google menyediakan berbagai ‘poliklinik’ layaknya sebuah rumah sakit, mulai dari yang hanya menangani batuk dan flu, hingga yang menangani kanker, stroke, parkinson. Bukan main yang disediakan Google di sini untuk bidang kesehatan.

Mungkin itu baru dari bidang kesehatan, belum lagi bidang yang lagi. Mulai dari tracking pemetaan, hingga pencarian alamat, hingga pendidikan, semua dapat diakses dengan mudah dengan pengembangan IT yang dinamakan Internet. Internet dengan berjuta-juta website di dalamnya telah berlomba untuk menjadi penyedia informasi paling lengkap di jagad ini. Jangan lupa pula bahwa tak selamanya informasi yang baik saja tersedia di ‘dunia maya’ ini. Banyak hal negatif yang juga tersedia di Internet, sehingga menuntut kesadaran kita untuk menyaringnya.

Lalu bagaimana dengan penggunaan IT di masa depan? Jika dilihat dari pengembangan yang ada sekarang pun kita pasti setuju bahwa pengembangan IT pastilah akan makin kompleks menguasai berbagai aspek kehidupan. Tentunya Anda masih ingat dampak terputusnya kabel backbone bawah laut yang otomatis langsung berdampak pada operasional berbagai perusahaan yang ada mulai dari Timur Tengah hingga Asia. Sedemikian hebatnya dampak tersebut sehingga sempat ‘melumpuhkan’ kinerja berbagai perusahaan skala besar maupun kecil yang bergantung padanya. Tak pelak lagi, memang Teknologi Informasi telah sedemikian kuatnya menguasai berbagai bidang kehidupan manusia.  Namun kita sebagai manusia yang menciptakan dan mengendalikannya dituntut untuk tetap berakal sehat dalam mempergunakan apa yang telah diijinkan Tuhan untuk kita temukan dan manfaatkan ini.