Paradigma Transisi Sistem Informasi

Semakin berkembangnya Teknologi Informasi (Information Technology – IT) saat ini rupanya telah mendesak banyak perusahaan dalam semua bidang usaha untuk memperbaharui penerapan Sistem Informasinya. Sistem Informasi sendiri merupakan tulang punggung managerial dalam berjalannya sebuah bisnis. Maka tak pelak lagi penerapan Teknologi Informasi merupakan sebuah kebutuhan dalam dunia usaha.
 
Jika dahulu mungkin penerapan IT dalam bisnis cukup ditandai dengan pemakaian komputer atau komputerisasi, maka kini tak cukup hanya berhenti di situ saja. Bagaimana IT diterapkan dalam memperbaharui sebuah Sistem Informasi merupakan sebuah kebutuhan yang nantinya akan sangat menentukan langkah maju sebuah perusahaan. Namun tidak selamanya proses pembaharuan dan penerapan IT dalam sebuah Sistem Informasi perusahaan berjalan lancar.

Akan ada banyak kendala yang mungkin terjadi dalam penerapan ataupun pembaharuan sebuah system informasi, terlebih jika terdapat dua generasi berbeda dalam perusahaan tersebut. Generasi yang dimaksud di sini adalah generasi ‘konservatif’ dan generasi ‘muda’. Tanpa bermaksud mendiskreditkan generasi tua sebagai generasi konservatif disini, namun kenyataannya yang sering dijumpai adalah generasi ini entah secara sengaja ataupun tidak disengaja telah menghambat proses transisi system informasi dalam sebuah perusahaan. Ada beberapa faktor yang membuat generasi ini bersikap seperti ini, diantaranya adalah :

  • Faktor kebanggaan akan masa lalu.
    Faktor ini seringkali telah menjadi sebuah syndrome yang menghambat kemajuan. Jika sebuah generasi telah menganggap pernah mencapai masa kejayaannya, maka hal ini dapat menjadi sebuah boomerang untuk maju ke depan. Kebanggan yang berlebihan akan sebuah pencapaian masa lalu seringkali menjadi penyebab orang untuk berpuas diri dan berhenti bereksplorasi mengembangkan diri.
  • Cukup puas dengan pencapaian saat ini
    Tak ubahnya dengan syndrome kebanggan masa lalu, rasa puas terhadap pencapaian yang ada saat ini juga sama berbahayanya dengan faktor pertama tadi. Cukup puas dengan sistem yang berjalan, cukup puas dengan hasil yang dicapai, dan sederatan rasa ‘cukup puas’ lainnya merupakan sebuah alarm bahaya yang menandakan surutnya kemauan untuk mengembangkan diri. Pada saat manusia merasa telah maksimal, pada saat itu pula ia akan merasa sudah ‘selesai’ bereksplorasi dan mengembangkan diri. Padahal sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan ini adalah proses belajar seumur hidup.
  • ‘Malas’ untuk belajar hal baru.
    Generasi yang telah merasa banyak makan asam garam terkadang malas untuk belajar hal-hal baru, termasuk di dalamnya juga teknologi informasi. Banyak diantara para generasi tua ini menganggap IT sebagai konsumsi generasi muda saja, tanpa mereka sadari bahwa merekapun juga dapat mempergunakannya jika mau mempelajarinya. Kemajuan teknologi informasi, terutama dalam hal pengembangan Graphical User Interface (GUI) diharapkan dapat menjembatani sekaligus mengatasi permasalahan ini. Dengan penerapan GUI yang baik, diharapkan interaksi user dengan sistem yang baru akan berjalan lancar.
  • Memandang IT sebagai hal yang mahal untuk diterapkan tanpa mau mempertimbangkan efek jangka panjang benefit yang didapatkan.
    Dari beberapa faktor yang telah dipaparkan sebelumnya, faktor ini merupakan faktor yang paling berat untuk diatasi. Jika kebijakan sebuah perusahaan telah terlanjur memandang penerapan atau pengembangan IT dalam system informasinya sebagai sebuah pemborosan, tanpa mau menimbang efek jangka panjang benefit yang didapatkan, maka tidak akan ada celah lagi bagi pengembangan Sistem Informasi di perusahaan itu.

Dari beberapa hal tersebut di atas, sebenarnya masih banyak faktor lain yang mungkin belum terangkat. Dari pihak generasi ‘muda’ sendiri kadang juga tidak dapat mengkomunikasikan perbedaan sudut pandang ini dengan baik. Padahal jika penyebab terhambatnya pengembangan Sistem Informasi di sebuah perusahaan adalah salah satu faktor di atas, maka sebagai generasi ‘muda’ dalam dunia IT sudah sewajibnya kita tidak hanya mampu membuat sebuah sistem yang baik, namun juga mengkomunikasikan perbedaan paradigma sudut pandang ini dengan lebih baik. Di bidang IT saat ini, penerapan ilmu tidak hanya melulu pada soal analisis, development dan maintenance sebuah Sistem Informasi yang baik, tapi juga yang lebih penting di sini adalah bagaimana proses pengembangan sebuah sistem itu berjalan dan memenuhi harapan dan kebutuhan semua pihak yang ada dalam sebuah perusahaan.  

Gelas Kehidupan Manusia

Ada hal menarik dalam perbincangan di sepanjang perjalanan kemarin dengan Pak Yanto (M. Suyanto), Pak Joko serta rekan-rekan team promosi kantor. Hal tersebut adalah mengenai sebuah perumpamaan diri dalam pergaulan dan kehidupan. Beliau memaparkan tentang sebuah perumpamaan gelas. Pada saat kita hidup dan bergaul dengan membawa ‘gelas’ yang sudah penuh dalam kehidupan kita, maka kita tidak akan pernah mendapatkan apapun dari pergaulan kita. Namun pada saat kita menempatkan ‘gelas’ kita sebagai gelas yang belum penuh, maka dengan mudah kita akan belajar dan mendapatkan banyak hal positif serta masukan-masukan dari lingkungan yang pastinya akan membuat kita semakin maju. Banyak orang terkadang merasa dirinya sudah ‘cukup’ tahu, ’cukup’ pengalaman, dan akhirnya merasa ‘cukup penuh’ sehingga tidak mau lagi menerima masukan dari sekitarnya, ‘cukup penuh’ sehingga merasa tidak perlu lagi belajar apa pun dari lingkungannya.

Pada saat kita merasa gelas kita sudah penuh, maka pada saat itulah sebenarnya kita sedang membuat batas diri kita untuk maju. Saat kita merasa gelas kita sudah cukup penuh, saat itulah sebenarnya nilai dari sebuah kepuasan sedang menghancurkan kita. Banyak pengusaha yang surut ataupun jatuh dalam membangun usahanya saat ia merasa sudah cukup dalam ‘mengisi gelasnya’.

Berhenti mendengar dan belajar dari lingkungan untuk mengembangkan diri merupakan sebuah titik balik kemunduran seorang manusia dalam menjalani hidupnya. Gelas kehidupan manusia tidaklah pernah cukup untuk diisi dalam kehidupan ini. Karena Allah sendiri tidak akan pernah berhenti mengajari kita melalui jalan hidup yang kita jalani.

QoS Seorang Tukang Koran

Siang itu matahari masih lumayan terik waktu aku pulang dari kantor redaksi MNC Seputar Indonesia yang terletak di lingkar ring road. Di lampu merah sebelum berbelok ke Gejayan, aku lihat seorang penjual koran menjajakan dagangannya. Aku lihat dari jauh, barisan depan koran yang dia tawarkan adalah ‘Harjo’, alias Harian Jogja, sebuah koran lokal yang baru saja launching di kota Gudeg ini. Saat dia mendekat ke arahku, aku ingat kalau di rumah sudah tidak berlangganan Kompas, kata mama diganti sama yang lebih murah aja … penghematan, gara-gara BBM naik alasannya J

Tapi bagaimana pun juga mindset-ku tentang pemberitaan terlanjur lekat pada ‘Kompas’, maka sewaktu tukang koran itu berjalan ke arahku, aku segera menurunkan kaca mobil, “Kompasnya ada Pak?”. “Ada Mbak”, katanya sambil segera menyodorkan satu eksemplar koran yang kumaksud. “Berapa?”, tanyaku lagi karena baru kali ini aku beli Kompas eceran, sambil mencoba meraih dompet dalam tas di samping jok. “Tiga setengah Mbak”, jawabnya. Aku segera menyodorkan selembar lima ribuan ke arahnya. Pada saat bersamaan mobil di belakangku membunyikan klakson, ternyata lampu sudah hijau. Secepat kilat tukang koran itu menyodorkan selembar ribuan dan satu keping lima ratusan ke arahku. “Makasih”, sahutku cepat sambil bergegas memindahkan gigi.

Aku mempelajari sesuatu dari transaksi kecil tersebut. Tukang koran tadi sebenarnya memberi aku inspirasi tentang sebuah QoS, Quality of Service. Walaupun hanya seorang tukang koran, tapi menurutku orang tadi telah memberikan service yang memuaskan konsumennya. Betapa tidak, tukang koran tadi sudah mengantisipasi uang kembalian dalam satuan yang beragam untuk mengantisipasi uang pembayaran konsumennya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kejadian sebelumnya yang aku alami bersama teman-teman waktu nongkrong di V-Art.

Untuk sekelas kafe, ternyata QoS yang diterapkan masih kalah dengan seorang tukang koran di pinggir jalan. Waktu itu hari sudah larut malam dan kami bergegas pulang. Seperti biasa kami ke kasir, aku mengeluarkan kartu debitku, karena memang aku tipe orang yang malas bawa uang cash dalam jumlah besar. Setelah menunggu beberapa saat, mbak yang ada di kasir bilang, “Wah, maaf mbak, lagi nggak bisa tuh”. Aku berniat mengeluarkan kartu yang lain, karena aku pikir kalau pakai master card mungkin bisa, tapi si mbak yang di kasir segera berkata, “Cash aja mbak”. Teman-temanku tertawa mendengarnya, yaa .. pasti mereka pikir kartuku kenapa-napa nih. Walaupun aku tahu pasti kartuku nggak kenapa-napa, aku sempat tertawa juga mendengar celoteh  mereka. Aku segera mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar (uuups, untung pas ada cash agak banyak neh …). Aku kira selesai sudah urusannya dan tinggal menunggu uang kembalian, sebelum kemudian si mbak bertanya lagi, “Mbak, ada seribuan dua nggak?”. Aku menarik nafas sebentar, … sabar … pikirku, tapi ternyata di dompetku nggak ada tuh jumlah yang dimaksud. Salah satu temanku segera tanggap dan menyodorkan uang dua ribuan yang diminta.

Pelajaran yang aku ambil adalah, sistem pelayanan yang memuaskan pelanggan nggak selalu dimiliki oleh tempat-tempat mentereng saja, bahkan seorang tukang koran pinggir jalan pun dapat memberikan sebuah Quality of Service yang tak kalah memuaskan, walaupun mereka mungkin tidak pernah mempelajari tentang QoS, namun mereka berhasil memberikan pelayanan penjualan yang sederhana dan memuaskan. Pasti kita tidak akan bisa membayangkan jika dalam situasi yang mendesak karena waktu yang dibatasi traffic light, mereka kemudian bilang, “Ada seribuan nggak Mbak?”. Atau malah bilang begini, “Uang pas aja Mbak”. Pastilah para konsumen akan berpikir ulang untuk membeli dagangan mereka. Walaupun mungkin mereka tidak belajar apapun tentang teory QoS, namun mereka telah memahaminya melalui realitas pekerjaan mereka … just learning by doing … but I think that’s okay …

Ditulis dalam @Work. Leave a Comment »

Ke Antariksa Bersama Google

Kemampuan Google untuk memandu kita menemukan tempat-tempat di dalam maupun luar negeri mungkin sudah tidak perlu kita ragukan lagi. Kemampuan Google Earth dalam tracing dan menemukan tempat-tempat di berbagai belahan penjuru dunia telah banyak dinikmati orang. Mulai dari sajian panorama indah pegunungan Austria hingga menjulangnya gedung-gedung pencakar langit di Manhattan dapat kita lihat dari Google Earth ini. Bahkan Google Earth ini juga bersedia untuk ‘mengantar’ Anda ke alamat yang Anda cari.

Dengan segala macam perkembangan teknologi dan tersedianya satelit untuk berbagai macam kebutuhan data, sebenarnya kehadiran layanan Google Earth atau Google Maps ini tidak begitu mengejutkan. Namun bagaimana jika kemudian yang dapat kita lihat dan nikmati bukan hanya apa yang ada di bumi, tapi juga apa yang ada di bulan ataupun planet lainnya? Yup, Google telah merambah antariksa. Bukan hanya ke bulan tapi juga ke planet ‘tetangga’, Mars.

Pada www.google.com/mars/, Google menyediakan peta planet Mars berdasarkan  format ketinggian (elevation), peta infrared maupun peta dalam kondisi sebenarnya (visible). Peta planet Mars ini juga dilengkapi beberapa link dan penanda peta yang jika di-click akan memunculkan balon informasi singkat mengenai tempat yang dimaksud.

Sedangkan untuk ‘pergi’ ke Bulan, kita dapat membuka www.google.com/moon/. Di sini kita dapat melakukan navigasi lengkap terhadap Bulan seperti halnya yang dapat kita lakukan pada Google Maps. Kita dapat melakukan penelusuran maupun perbesaran gambar terhadap tempat-tempat yang kita inginkan. Di sini kita juga dapat melakukan investigasi di tempat pendaratan Misi Apollo, mulai dari Misi Apollo 11, 12, 14, 15, 16 dan 17. Foto yang terbuka tersebut akan disertai dengan informasi seputar misi yang bersangkutan.

Jadi setelah berhasil ke antariksa, mau ke mana lagi Google nantinya? Jawabannya tinggal kita tunggu hasil dari penelitian Google Labs berikutnya.