Gelas Kehidupan Manusia

Ada hal menarik dalam perbincangan di sepanjang perjalanan kemarin dengan Pak Yanto (M. Suyanto), Pak Joko serta rekan-rekan team promosi kantor. Hal tersebut adalah mengenai sebuah perumpamaan diri dalam pergaulan dan kehidupan. Beliau memaparkan tentang sebuah perumpamaan gelas. Pada saat kita hidup dan bergaul dengan membawa ‘gelas’ yang sudah penuh dalam kehidupan kita, maka kita tidak akan pernah mendapatkan apapun dari pergaulan kita. Namun pada saat kita menempatkan ‘gelas’ kita sebagai gelas yang belum penuh, maka dengan mudah kita akan belajar dan mendapatkan banyak hal positif serta masukan-masukan dari lingkungan yang pastinya akan membuat kita semakin maju. Banyak orang terkadang merasa dirinya sudah ‘cukup’ tahu, ’cukup’ pengalaman, dan akhirnya merasa ‘cukup penuh’ sehingga tidak mau lagi menerima masukan dari sekitarnya, ‘cukup penuh’ sehingga merasa tidak perlu lagi belajar apa pun dari lingkungannya.

Pada saat kita merasa gelas kita sudah penuh, maka pada saat itulah sebenarnya kita sedang membuat batas diri kita untuk maju. Saat kita merasa gelas kita sudah cukup penuh, saat itulah sebenarnya nilai dari sebuah kepuasan sedang menghancurkan kita. Banyak pengusaha yang surut ataupun jatuh dalam membangun usahanya saat ia merasa sudah cukup dalam ‘mengisi gelasnya’.

Berhenti mendengar dan belajar dari lingkungan untuk mengembangkan diri merupakan sebuah titik balik kemunduran seorang manusia dalam menjalani hidupnya. Gelas kehidupan manusia tidaklah pernah cukup untuk diisi dalam kehidupan ini. Karena Allah sendiri tidak akan pernah berhenti mengajari kita melalui jalan hidup yang kita jalani.

Tinggalkan Balasan