Long Way to His Presence

“Semua berasal dari padaNya, dan pada akhirnya semua akan kembali kepadaNya”

Dalam sebuah perjalanan hidup manusia, seindah apa pun manusia berusaha mengukirnya bersama orang-orang yang disayanginya, namun dengan seribu satu cara yang tak pernah terduga, pada akhirnya manusia akan tetap kehilangan segala sesuatu yang disayanginya.

Seperti Nabi Ayub pernah berkata, “Dengan telanjang aku dilahirkan ke dunia ini, dan dengan telanjang pula aku akan kembali padaMu.” Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sefana itu. Semua yang kita miliki di dunia ini sebenarnya bukan milik kita, bahkan orang-orang terdekat yang paling kita sayangi sekali pun bukanlah milik kepunyaan kita. Semuanya adalah milik Sang Pencipta. Mereka hanyalah orang-orang yang diijinkan Tuhan untuk berada bersama kita dan mengisi hari-hari kita.

Mereka yang diijinkan Tuhan untuk berjumpa dengan kita dan singgah dalam hidup kita adalah orang-orang yang telah Tuhan pilihkan untuk memberi sebuah arti dalam perjalanan hidup kita. Tuhan selalu mempunyai tujuan dari setiap pertemuan yang dirancangkanNya untuk kita manusia. Entah itu tujuan untuk sebuah pelajaran kecil saja dalam hidup kita, atau pun mungkin sebuah tujuan akhir yang panjang dalam kehidupan ini.

Siapa kita hari ini adalah hasil dari sebuah proses masa lalu yang pernah kita lalui bersama orang-orang yang pernah ditempatkan Tuhan bersama kita. Siapa kita esok hari adalah bagaimana kita menjalani kehidupan kita saat ini bersama mereka yang ditempatkan Tuhan bersama kita saat ini. Sesungguhnya mereka yang pernah datang dan pergi dalam hidup kita, entah yang kita harapkan atau pun tidak, selalu membawa sebuah makna baru dalam perjalanan hidup kita. Suka maupun duka selalu dipakai Tuhan bergantian untuk menyatakan kebesaranNya. Namun mata kita manusia tidak selalu dapat melihat dengan jelas kehendak Tuhan untuk diri kita atas semua yang terjadi.

Ada perjumpaan, namun juga selalu ada perpisahan. Namun manusia sendiri tidak akan pernah tahu, kapankah sebuah perjumpaan akan menjadi sebuah perpisahan. Kapan sebuah pertemuan akan menjadi sebuah pertemuan yang terakhir? Mungkin jika diijinkan Tuhan, manusia akan membayar berapa pun untuk mengetahuinya. Hanya sekedar agar dapat kita memeluk mereka yang kita sayangi dan mengatakan kepada mereka betapa kita sangat menyayangi mereka, betapa mereka mempunyai arti dalam hidup kita.

Namun Tuhan tidak pernah mengijinkan kita untuk mengetahuinya, agar manusia berusaha untuk berhikmat menghitung hari-hari dan semua berkat yang telah diberikanNya. Jika mungkin ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi, apakah yang akan kita lakukan? Karena tidak hanya dengan kematian, Tuhan masih mempunyai seribu satu cara lainnya untuk mengambil kembali orang-orang yang kita sayangi dari sisi kita. Dan kita tidak akan pernah tahu, kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir kalinya.

Untuk mereka yang telah pergi,
mereka yang pernah memberi arti,