Mohandas Karamchand Gandhi mungkin bukan nama yang familiar bagi kita, namun itulah nama asli seorang pejuang kemanusiaan yang paling saya kagumi ini. Bukan hanya karena sebuah prinsip ahimsa yang dicetuskannya, namun lebih karena nilai-nilai kehidupan yang secara konsisten ia aplikasikan dalam kehidupan hingga akhir hayatnya.
Terlahir sebagai seorang Hindu di India pada tanggal 2 Oktober 1869, Mohandas Karamchand Gandhi merupakan seorang yang sangat cerdas dan bermasa depan cerah. Hal ini dibuktikannya dengan menyelesaikan gelar hukumnya di Inggris dan memulai karier sebagai pengacara di Afrika Selatan. Di sinilah dia mulai melihat ketidakadilan-ketidakadilan yang banyak terjadi sebagai akibat perbedaan warna kulit.
Afrika Selatan pula yang akhirnya mengubah pandangan hidupnya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Melalui sebuah peristiwa diskriminasi yang mempermalukannya di Afrika Selatan, seorang Mohandas pun berubah menjadi Sang Mahatma. Hal ini tak lain karena peran sebuah ayat Al-Quran yang dibacanya secara acak setelah kejadian tersebut. Ayat tersebut menginspirasinya untuk kemudian menolak kezaliman dengan caranya sendiri, yaitu tanpa kekerasan. Cara perlawanan tanpa kekerasan tersebut diteladaninya dari Yesus yang selalu melarang murid-muridnya membalas kejahatan dengan kejahatan. Memberikan pipi yang satu jika pipi kita yang lain ditampar, mungkin itu pulalah yang pada akhirnya membuat ia bangkit melawan ketidakadilan dengan cara mengajarkan dan mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dan kesederhanaan dalam kehidupannya.
Pemikiran maupun sikap Gandhi yang sangat kritis dan terbuka dalam menyikapi segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, serta bertoleransi terhadap segala macam perbedaan yang ada. Pemikirannya tentang kebenaran universal dalam setiap agama sedikit banyak telah banyak membantu saya untuk memahami Tuhan secara utuh.
Lalu, kenapa saya begitu mengagumi sosok Sang Mahatma ini?
Lahir dari sebuah pernikahan campur dimana papa dan mama mempunyai keyakinan yang berbeda, jelas bukan merupakan hal yang mudah. Namun pada akhirnya saya mensyukuri keadaan yang pernah saya lalui tersebut, karena ternyata semua itu membuat saya memahami bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan. Pemahaman saya tentang Tuhan pun menjadi lebih luas, nilai kebenaran universal dari Islam dan Kristen pun dapat saya rangkum dengan lebih mudah, sehingga membantu saya untuk menolong mereka yang selalu tinggal dalam pemahaman tentang ‘kotak-kotak’ yang bernama agama. Itulah mengapa saya sangat mengagumi seorang Mahatma Gandhi, saya sangat setuju pada pandangannya yang memandang Tuhan secara universal. Bahkan dalam Al-Quran sendiri Tuhan menghendaki manusia datang dengan berbagai cara. Juga dalam sebuah kisah tentang Babel yang saya baca di Alkitab, secara tegas Tuhan menyatakan kehendaknya untuk membuat manusia menjadi berbeda-beda dan tersebar di seluruh bumi. Berbeda, itu kehendak Tuhan. Namun hidup bersama berdampingan secara damai dalam segala perbedaan yang ada merupakan sebuah hasrat terbesar Tuhan dalam melihat kehidupan umatNya.
Jika manusia mau berpikir secara lebih terbuka dan memahami perbedaan bukan sebagai sebuah pemisah tetapi sebagai sebuah harmoni yang memperkaya nilai kehidupan, mungkin tidak akan ada kerusuhan-kerusuhan dan perpecahan seperti yang sekarang banyak terjadi di sana-sini. Saya pribadi salut terhadap papa mama yang tidak pernah saling meminta ataupun memaksa satu sama lain untuk mengikuti kepercayaannya masing-masing. Mereka telah membuktikan bahwa kasih sayang diberikan oleh Tuhan lebih besar daripada semua perbedaan yang ada diantara mereka. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan, semua mengalir begitu saja. Ada Natalan, kue Natal dan ada juga Lebaran beserta ketupat opornya
Kami diijinkan memilih dan menemukan cara kami masing-masing untuk datang kepada Tuhan.
Sebenarnya memang dalam hidup ini yang terpenting bukanlah masalah : Apa agamamu? Tapi yang terpenting adalah : Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan? Mengutip pernyataan seorang John D. Caputo, mungkin pertanyaan yang patut kita renungkan adalah : Apa sebenarnya yang aku cintai ketika aku mencintai Tuhan?