MTV Trick It Out, The Power of Creativity

Hari minggu, libur, waktunya bersantai-santai. Rencana mau nonton Laskar Pelangi, but keabisan tiket, so apa boleh buat … bermalas-malasan di rumah aja, mengingat beberapa hari ini Yogya udah mulai dipadati pemudik dari berbagai kota yang akan berlebaran di Kota Gudeg ini. Kakak, adek plus sodara-sodara laennya juga baru nyampe besok … so tugas sebagai pemandu wisata plus driver juga baru dimulai besok …. mendingan sekarang rest and relax di rumah aja.

Nonton TV … wah, akhir-akhir ini agak jarang nonton TV, kebetulan abis nonton MTV Pimp My Ride, langsung disambung dengan MTV Trick It Out, hehe … acara yang kayak gini neh yang aku paling doyan :) Mengikuti bagaimana 2 team bertanding untuk menyulap 2 buah mobil lama bertype sama menjadi 2 mobil baru yang berbeda bukanlah hal mudah. Masing-masing dari kedua team berupaya mengerahkan ide-ide kreatif mereka masing-masing dan menggarapnya dalam wujud mobil.

Team AudioVision mengambil tema yang cukup menarik, yaitu jet tempur. Aku sempat berpikir, apa saja dari mobil Civic tahun 1996 yang bisa disulap untuk mewujudkan tema jet tempur? Ternyata yang menjadi sasaran mereka untuk mengangkat tema ini adalah subwoofer. Mereka menyulap subwoofer mobil ini menjadi ‘rudal tempur’, disamping juga menambahkan pelontar hidrolik pada kedua sisi pintu ‘scissor’-nya, sehingga mengesankan perangkat ini sebagai senjata ‘penembak’ rahasia. Great idea! Selain kedua hal tersebut, tidak banyak hal istimewa yang ditampilkan, selain detail kecil pada penutup tangki bensin, dan perubahan yang dilakukan pada panel-panel dashboard, sehingga menyerupai interior sebuah jet tempur.

Sedangkan team lawan, Motor FX, mengangkat tema yang agak tak terduga, plus juga kurang unik menurutku, yaitu tema mobil seorang (maaf..) Germo. Entah aku yang agak ‘kuper’ sehingga tidak tahu apa keistimewaan ide ini, ato memang ide mereka yang agak aneh? Ide kreatif apa yang ingin ditonjolkan jika seseorang berprofesi sebagai Germo? Ternyata ide mereka kurang lebih berkisar pada ‘kemewahan’ dunia malam. Hmm … jadi kurang lebih mungkin mereka ingin menampilkan ‘diskotik berjalan’ gitu yah? Wah, kalo gitu aja mungkin bengkel di Bandung juga bisa yah, hehehe :D Salah satu yang mereka tonjolkan adalah penggarapan cat, pemakaian velg dan pemasangan layar-layar LCD dalam interior mobil, termasuk di steer dan di ceiling. Selain itu Motor FX juga tampak memaksimalkan usaha mereka pada penggarapan interior, dengan pemasangan carpet bulu hingga doortrim kulit ular.

Setelah penggarapan selama 14 hari (cepet yaa … ) waktu penilaian pun tiba. Seperti biasa, RJ mengamati setiap detail yang ada pada setiap mobil. Menurutnya mobil garapan AudioVision mempunyai ide tema yang sangat kreatif dan menarik, walaupun dalam penggarapannya masih ditemusi beberapa bagian kecil yang kurang ‘mulus’ finishing-nya. Sedangkan Motor FX mendapat pujian atas ketelitian mereka menggarap setiap detail mobil, namun dari sisi tema yang ditampilkan, tema mereka kurang kuat sehingga juga kurang membawa kesan pada orang-orang yang melihatnya. Lalu, siapa akhirnya yang memenangkan contest kali ini? Sesuai tebakanku (mungkin juga RJ berpikir sama dengan aku, hehe ..), pemenangnya adalah AudioVision. Dari sisi pemikiranku, yang membuat AudioVision pantas memenangkan contest tersebut adalah ide kreatif mereka yang mengangkat tema ‘jet tempur’ untuk sebuah mobil sedan. Walaupun mungkin detail pengerjaan mereka belum semulus Motor FX, toh nantinya seiring dengan berjalannya waktu, kesempurnaan detail pun akan mereka dapatkan. Seperti slogan Toyota, ‘Practice make Perfect’. Begitu pun detail kerajinan, kesempurnaan, pasti akhirnya akan mengikuti seiring dengan semakin tingginya ‘jam terbang’. Yang paling mahal dalam segala hal adalah sebuah ide dan kreativitas. Makanya ada yang bilang, “Ide itu separuh dari eksekusi”. Mmm … berlebihan nggak sih??

RUU Pornografi, Bukti Kemerosotan Moral Bangsa?

Pertama kali mendengar bahwa pemerintah sedang ‘menggodok’ RUU Pornografi, maka yang terlintas di benak saya adalah betapa parahnya kondisi moral bangsa saat ini. Bukannya saya tidak mau melihat maksud baik pemerintah dalam RUU ini, namun yang saya pertanyakan di sini adalah kemana perginya moral bangsa Indonesia yang terkenal sebagai negara agamis dengan budaya timurnya yang selalu diagung-agungkan? Apakah memang sudah separah itu, sehingga bangsa ini memerlukan ‘kacamata kuda’ yang membatasi dan mengarahkan masyarakatnya ‘HANYA’ agar jangan sampai berpikir atau berbuat ‘kotor’. Ya ampun, sekarang moral manusia pun sudah harus jadi urusan pemerintah … Bahkan bila perlu, dalam salah satu pasal yang saya baca, pemerintah mengijinkan warga masyarakat untuk menjadi ‘polisi moral’ bagi orang lain. Sungguh sebuah ironi bagi sebuah negara agamis seperti Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang ‘mengharuskan’ semua warga negaranya untuk beragama, dan saya setuju dengan maksud baik yang terkandung di dalamnya. Terlepas dari apapun agama yang dianut, tapi saya mengamini bahwa agama apapun merupakan ‘jalan’ kita untuk senantiasa terhubung dengan Tuhan, Sang Pencipta Semesta. Entah bagaimana halnya dengan orang lain atau pemerintah, namun saya menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi dalam kehidupan ini, jauh lebih tinggi dari posisi orang tua, pemerintah atau presiden sekalipun. Agama sendiri sebagai ‘jalan’ kita untuk beribadah kepada Tuhan telah mengatur segala sendi kehidupan kita agar senantiasa sejalan dengan kehendak Tuhan, termasuk di dalamnya juga mengatur mengenai moralitas. Dari dua agama yang pernah saya pelajari (Islam dan Kristen), saya bisa memastikan bahwa agama apapun pada prinsipnya selalu mengajarkan hal yang baik bagi umatnya. Oleh karenanya, semua bangsa di dunia ini pun akhirnya menyetujui bahwa agama dan kebebasan beribadah sendiri menjadi hak yang paling azasi dan hakiki yang dimiliki seorang manusia dalam hidupnya, karena semua bangsa pun mengakui Tuhan sebagai pemegang kekuasaan dan otoritas tertinggi di alam raya ini.

Dengan kata lain, yang ingin saya katakan adalah, asal kita masing-masing menjalankan agama dan beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, itu sudah lebih dari cukup jika hanya untuk menghindarkan diri dari segala masalah terkait dengan pornografi. Karena Tuhan sendiri telah mengatur semua hal mengenai berbagai masalah dalam kehidupan manusia di setiap firmanNYA, termasuk juga masalah ‘kecil’ bernama pornografi.

Lalu, apa hubungannya dengan RUU Pornografi? Saya melihat RUU Pornografi ini sebagai kesombongan dari pihak yang sudah merasa sangat tahu bagaimana menimbang baik dan buruk perilaku sesamanya. Dengan kata lain, mereka seakan sudah bisa menjadi ‘tuhan’ bagi sesamanya. Menurut saya, RUU ini mengijinkan setiap orang untuk menimbang moralitas dari kacamata individu mereka masing-masing, sehingga semua boleh menjadi ‘polisi moral’ bagi yang lain. Jadi jangan heran jika nanti akan marak penghakiman massal, alias main hakim sendiri seperti yang sekarang telah mulai dilakukan oleh beberapa ormas yang ada.

Dan yang lebih membuat saya berang atas RUU ini adalah, bagaimana pemerintah menempatkan wanita sebagai obyek dalam pasal-pasalnya. Yang aneh dari RUU ini adalah, bagaimana wanita banyak dieksploitasi sebagai obyek penyebab timbulnya masalah, seolah wanita mempunyai andil paling besar dalam kehancuran moral sebuah bangsa. Namun lebih parahnya, seakan-akan dikatakan RUU ini untuk melindungi wanita, tapi dari arah mananya? Karena justru sebaliknya, hampir segala hal yang terkait dengan wanita, bisa menjadi hal yang salah dalam RUU ini.

Secara sederhana saja saya membayangkan, bisa-bisa jika wanita memakai baju yang menurut orang lain ‘salah’ saja, bisa langsung masuk penjara atau kena penghakiman massal donk …. waduuh, kok sebegitunya yah? Apakah ini merupakan salah satu bukti arogansi budaya patriakat kita? Ataukah memang bangsa ini sudah merasa pantas menjadi ‘tuhan’ bagi sesamanya??

Selingkuh, Pernahkah Menjadi Benar?

Semalam secara tak sengaja, waktu terbangun tengah malam aku melihat sebuah sinetron ‘live’ di SCTV. Awalnya seperti biasa, aku tidak pernah tertarik dengan sinetron-sinetron lokal, karena dari yang pernah aku ikuti sebelumnya, tidak banyak ‘nilai’ yang bisa dipelajari dari tayangan lokal ini, rata-rata hanya menjual mimpi dan tampang (bukan bermaksud sinis loh). Belum lagi kalo jalan ceritanya mulai nggak masuk akal … seakan-akan penonton dianggap bodoh, itu yang paling aku nggak suka.

Tapi seperti yang aku bilang tadi, begitu melihat sinetron ini bersifat ‘live’, kontan aja rasa penasaranku muncul. Ceritanya sih sederhana banget, tentang perselingkuhan. Mungkin tema ini sudah banyak diangkat baik dalam novel, film, drama dan tak terkecuali sinetron. But, yang menarik di sini adalah karena yang selingkuh adalah sang istri. Masih sangat jarang tema yang mengangkat perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak wanita, walaupun mungkin dalam kehidupan nyata tidak demikian faktanya. Mungkin karena arogansi budaya patriakat saja yang kemudian membuat perselingkuhan sebagai sebuah monopoli kaum adam dengan segala permaklumannya.

Selingkuh memang menjadi hal yang sensitif untuk dibicarakan, karena bagaimanapun juga jika berbicara tentang sebuah perselingkuhan, kita akan senantiasa dihadapkan pada dua kubu. Yang tersakiti dan yang menyakiti, yang dikhianati dan yang mengkhianati, belum lagi saling tuding dan menyalahkan satu sama lain, mencari alasan untuk membenarkan diri, dan lain sebagainya.

Kembali ke sinetron ‘live’ yang aku tonton semalam, dalam sinetron sebabak ini dikisahkan bagaimana sang istri akhirnya jatuh ke pelukan lelaki lain, dengan segala faktor yang membuat rentannya kehidupan perkawinan mereka. Menjelang klimaks cerita, penonton dipersilakan menentukan akhir cerita secara langsung ‘live’, by phone. Apakah penonton menginginkan sang istri jujur kepada suami mengenai perselingkuhannya, ataukah sebaliknya, mendiamkan dan menutupi perselingkuhan tersebut. Yang menarik adalah jawaban dari pemirsa ini mungkin juga mewakili suara masyarakat kita selama ini.

Lebih baik diam dan membiarkan semuanya pulih seperti sediakala. Apakah itu yang terbaik? Namun sebagai orang beriman, pastilah kejujuran tetap merupakan hal yang terbaik, terlebih karena perkawinan merupakan janji suci di hadapan Allah. Namun bagaimana jika ternyata sebuah kejujuran itu harus dibayar mahal dengan perasaan sakit hati, terkhianati dan hilangnya kepercayaan dari pasangan? Ada seorang rekan yang mengatakan, lebih baik diam, tapi bertobat dan tidak mengulanginya. Tapi benarkan bisa begitu saja? Bagaimana jika suatu saat dia kembali berpikir dapat melakukannya lagi tanpa ketahuan seperti ‘kemarin’? Kembali kepada kejujuran, memang ada ‘harga mahal’ yang harus dibayar dengan kejujuran, namun kesakitan itu pula yang mungkin akan selalu mengingatkan kita untuk tidak mengulanginya lagi. Ibaratnya orang yang harus diimunisasi, ia harus sakit dahulu, agar sakit yang sama tidak akan pernah terulang lagi sepanjang hidupnya.

Ibarat air dan api, kesetiaan dan pengkhianatan merupakan dua hal yang tidak akan pernah sejalan. Kesetiaan akan memupus pengkhianatan, sebaliknya pengkhianatan juga akan mengikis habis nilai sebuah kesetiaan. Aku masih ingat betul saat salah seorang rekan menceritakan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. Dan yang lebih parah lagi, suaminya berselingkuh ‘hanya’ dengan SPG-SPG. Ya ampun, apa sih kurangnya rekanku ini sampai suaminya bisa menduakan dia begitu saja dengan SPG? Aku membayangkan betapa sakitnya perasaan rekanku ini. Gimana enggak, dalam masa pacaran aja diduakan itu udah hal yang enggak buanget buat aku … apalagi rekanku ini sudah menikah. Aku lihat di dompet cowokku ada foto cewek lain aja, aku udah minta putus. Lihat cowokku pergi makan sama cewek lain aja, udah cukup bikin aku pergi ninggalin dia … Nah ini, suaminya jelas-jelas ngaku selingkuh … waduuh, parah banget pikirku. Mau nyuruh dia pergi ninggalin suaminya? Secara rasional dan emosi pastilah itu saran yang pengen aku bilang ke dia. But, ini dunia pernikahan, jelas nggak bisa dengan cara tadi. Apalagi pernikahan adalah sekali seumur hidup … banyak hal yang harus dipikirkan. Kata orang, dalam sebuah pernikahan harus menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangannya, tapi apakah yang dimaksud kekurangan disini juga termasuk ‘kurang setia’ dan ‘kurang ajar’?? Dari sisi religius sendiri, aku lebih suka mengartikan perselingkuhan sebagai ketidaksetiaan terhadap tiga hal, yaitu ketidaksetiaan terhadap janji, ketidaksetiaan terhadap pasangan dan ketidaksetiaan terhadap Allah. Karena ketiga hal tersebut yang manusia pertaruhkan pada saat menikah.

That’s why, you have to be the one and only in his life …

Titanic, Film Tragedi Kemanusiaan

Bicara tentang film ‘Titanic’ berarti juga bicara tentang film drama yang telah berusia lebih dari 11 tahun. Yaa … jelas aja ingat, kan pertama kali nonton film ini waktu ‘my first date in senior high school’ gitu looh … :D

Sebenarnya latar belakang yang mendasari roman cerita antara Jack (Leonardo DiCaprio) dan Rose (Kate Winslet) ini diilhami dari true story tragedi tenggelamnya kapal Titanic setelah menabrak gunung es di Samudera Atlantik. Titanic sendiri menjadi simbol keangkuhan manusia, karena di awal cerita dikisahkan bahwa pembuatnya mengatakan Titanic sebagai kapal yang sempurna, “Bahkan Tuhan pun tak sanggup menenggelamkannya”, kata sang pembuat. Namun keangkuhan manusia inilah yang rupanya membawa bencana, rupanya Tuhan ingin berkata lain … lebih dari 1500 nyawa manusia harus membayar keangkuhan itu.

Hal lain yang menarik dari cerita ini adalah pada saat kita menyelami karakter dari setiap tokoh dalam film ini. Menarik melihat bagaimana orang tua Rose memaksakan kehendaknya dengan menjodohkan anaknya dengan seorang pemuda kaya raya. Sembilan tahun yang lalu pada saat pertama kali melihat film ini, saya hanya menilai ibu dari Rose ini sebagai sosok jahat yang memaksakan kehendak. Namun mungkin sekarang saya memandangnya dari sudut pandang lain. Orang tua mana yang mau melihat puteri semata wayangnya hidup tidak bahagia? Dan yang terjadi adalah orang tua mengukur kebahagiaan dari jaminan materi yang dapat diberikan kepada anaknya. Inilah realita hidup yang sebenarnya.

Di satu sisi sang pemuda kaya raya ternyata tidak mampu menaklukan hati sang putri tercinta. Kekayaan ternyata tidak membuat pemuda ini nampak sempurna di mata Rose. Dan hal ini nantinya terbukti pada saat klimaks film di mana setiap tokoh diperhadapkan dalam kondisi yang sangat sulit dan tak terduga, terbukti bahwa sang pemuda kaya ini tak lebih dari seorang oportunis yang mengandalkan segala yang dia miliki, bahkan orang lain untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Sedangkan di saat yang bersamaan Rose yang sudah putus asa karena perjodohan yang tak dikehendakinya, nyaris bunuh diri jika tidak bertemu dengan Jack. Jack Dawson, adalah pemuda miskin yang memenangkan tiket berlayar Titanic di meja judi. Namun begitu ketulusan hati Jack ternyata justru membuat Rose jatuh cinta. Sekuel yang kemudian sangat terkenal dari film ini adalah pada saat Rose hendak melompat dari buritan kapal, Jack seorang pemuda asing yang tidak dikenal Rose ini nekat akan ikut melompat dari buritan jika Rose bunuh diri. “If you jump, I’ll jump”, kata-kata ini kemudian sangat identik dengan film Titanic. Dan kata-kata ini pula yang kemudian terucap dari bibir Rose pada saat melompat dari sekoci penyelamat demi mendapatkan Jack kembali. Kalimat sederhana yang menggambarkan sebuah totalitas dalam mencintai (romantis bagetsss ….)

Ide roman yang diangkat dalam cerita ini berdasar pada sebuah cinta yang mampu mengatasi segala perbedaan diantara kedua tokoh utamanya. Sebenarnya sangat klise, namun terkemas dengan sangat manis dalam setiap pengorbanan yang dilakukan Jack untuk menyelamatkan Rose. Bagaimana Jack dengan segala daya upaya yang dia mampu berusaha membuat Rose bertahan dan selamat, bahkan walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri. “Memenangkan tiket itu merupakan hal terindah dalam hidupku, karena tiket itulah yang akhirnya mempertemukan kita berdua”, bahkan di saat paling susah pun Jack masih bisa mensyukuri apa yang dia lalui, walaupun tidak dapat berakhir semanis yang diinginkan. Namun di akhir film ini kita masih bisa melihat bagaimana sebuah cinta dapat terus abadi di hati seorang wanita.

Ditulis dalam Cinema. 1 Komentar »

My Best Friend Wedding

Mungkin itulah judul paling tepat buat cerita ini, walaupun bukan alur cerita film itu yang terjadi :) Ini hanya sekedar cerita tentang seberapa cepat kita menyadari sebuah proses hidup berlangsung.

Dua minggu yang lalu, aku menghadiri sebuah pesta resepsi salah seorang sahabat lamaku. Kami bersahabat memang sudah cukup lama, sejak di bangku SMP tepatnya di SMP Negeri 5. Seluruhnya kami ada tujuh orang, dan selepas dari bangku SMP hingga kini pun kami masih selalu keep in touch dan menyempatkan diri buat hang out bareng di tengah kesibukan kami masing-masing. Mulai dari keluh kesah pekerjaan masing-masing hingga cerita cinta pun sudah bukan menjadi rahasia bagi kami. Memang, tidak semua dari kami bisa mempunyai intensitas kedekatan yang sama satu dengan yang lain, namun begitu kedekatan kami yang sudah belasan tahun tetap membuat sebuah keterikatan tersendiri diantara kami. Ada sesuatu diantara kami yang selalu membuat kami meluangkan waktu atau mendahulukan, jika ada salah satu diantara kami yang membutuhkan. Inilah mungkin yang istimewa dari persahabatan kami.

Dan hari itu, aku bersama temanku yang lain berdiri menatap ‘salah seorang’ dari antara kami yang ternyata telah melangkah mendahului kami di pelaminan. Salah seorang temanku sempat berceloteh, “Dia yang terlalu cepat, atau kita yang terlalu lama yah??”. Spontan kami semua tertawa mendengarnya. Entah mengapa dari banyak pernikahan yang pernah aku hadiri, pesta pernikahan kali ini terasa lebih spesial, … bukan karena gedungnya, dekorasinya ataupun kateringnya. Tetapi karena yang berdiri di sana adalah salah seorang sahabat kami, yang kami kenal sejak dia masih naik sepeda BMX hingga dia naik mobil … hehehe :D

Keberaniannya untuk memutuskan menikahi wanita yang dicintainya cukup membuat kami semua salut … Seminggu sebelum pernikahannya, kami sempat ngobrol panjang lebar. Dia bercerita tentang calon istrinya, bagaimana mereka bertemu, hingga keputusannya untuk menikah. “Kalo semua yang kita minta udah dikabulkan, mau tunggu apa lagi?”, kurang lebih begitulah katanya waktu itu. He’s got the answer of what his longing for … “Aku sih minta sama Tuhan yang sederhana aja, karena gak ada manusia yang sempurna di dunia ini”. Benar juga, nggak akan pernah ada yang persis sempurna seperti yang manusia inginkan, karena Allah memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Jadi lebih baik berdoa minta kepada Allah agar memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena siapakah yang tahu terbaik untuk kita, kalau bukan Pencipta kita. Ask Him the best for us, not about what we want … Maybe that would be my pray …

Hancock, Drama Komedi tentang Kepahlawanan Manusia

Hancock, Si Manusia Super

Hancock, Si Manusia Super

Datang ke bioskop 15 menit setelah film dimulai bukanlah hal yang saya harapkan tentunya. Tapi itulah yang terjadi sewaktu saya menonton film ini. Namun walaupun terlambat 15 menit ternyata tidak membuat saya kesulitan mengikuti alur cerita Hancock, sang manusia super yang digambarkan dalam keadaan ‘sangat tidak super’ oleh Will Smith. Hal ini menunjukkan bahwa alur cerita Hancock ‘cukup’ ringan untuk diikuti.

Jika dalam berbagai kisah super hero lainnya sang pahlawan selalu digambarkan dalam kondisi berkelimpahan (Batman), dipuja dan dikagumi (Superman), atau seorang yang berkemampuan khusus dengan keadaan khusus (X-Man, Spiderman), maka jangan mengharapkan hal serupa juga terjadi pada Hancock. Seperti yang saya katakan tadi, sosok pahlawan kita kali ini digambarkan sebagai manusia dengan keadaan ‘sangat tidak super’. Tidak mempunyai tempat tinggal layak, kumal, acak-acakan, bahkan mirip gelandangan, plus masih ditambah temperamen yang kasar dan seenaknya, walaupun sebenarnya hatinya baik.

Jika dicermati dengan seksama, Hancock merupakan sosok ‘plesetan’ yang mewakili citra kebaikan yang ada dalam diri setiap manusia, walaupun seburuk apapun manusia itu kelihatannya. Mengapa saya sebut sebagai citra ‘plesetan’, karena di sini sang penulis cerita ingin menampilkan nilai kebaikan yang ada dalam diri manusia tersebut melalui sebuah karakter ‘manusia super’ yang sangat tidak sempurna seperti biasanya.

Dikisahkan Hancock sebagai seorang yang lupa ingatan (bukan gila … tapi lebih ke arah amnesia), karena ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti siapa dia dan dari mana dia berasal. Namun begitu, dengan kekuatan super yang dia miliki, Hancock mempunyai niat baik dengan selalu menolong orang-orang yang dalam kesulitan, bahkan juga membantu aparat dalam menegakkan hukum dengan menghajar habis para gembong penjahat dan narkoba yang ada. Namun karena cara Hancock yang kasar dan urakan, membuat masyarakat bukannya menyayangi dia, namun justru membencinya, karena disetiap aksi yang dilakukannya, Hancock sering membuat banyak kerusakan fasilitas umum maupun pribadi milik masyarakat. Hal tersebut sekaligus merupakan sebuah parodi kehidupan yang sering kita temui dalam keseharian mengenai orang yang berniat baik namun menempuh cara yang kurang tepat sehingga niat baiknya justru dipandang sebaliknya oleh orang lain.

Hal lain yang bisa kita lihat dalam film ini adalah roman percintaan yang mengiringi kisah hidup Hancock, sang manusia super. Setegar-tegarnya seorang pahlawan, Hancock pun tak luput dari sebuah luka karena cinta dalam hidupnya. Dikisahkan, Hancock akhirnya bertemu dengan istrinya yang sebenarnya telah menemani hidupnya selama beratus-ratus tahun sebelumnya. Namun pada saat mereka bertemu, istrinya telah mendapatkan kebahagiaan dengan laki-laki lain, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Sedih, terbuang dan terkhianati, kurang lebih itulah perasaan Hancock ketika mengetahui bahwa istri sahabatnya ternyata adalah istrinya sendiri. Namun kenyataan bahwa jika mereka kembali bersama akan membuat sisi kekuatan mereka sebagai manusia super melemah dan kembali mengalami rentetan bencana karena orang-orang yang menginginkan kematian mereka berdua, membuat Hancock sadar bahwa cinta mereka tak harus memiliki satu sama lain. Klimaks film yang dibalut tajam dengan sisi pengorbanan Hancock untuk sang istri agar tetap hidup dan dapat meneruskan kehidupan dengan sahabatnya, membuat film ini terasa sangat manusiawi dan berbeda dengan film-film super hero lainnya. Kekuatan yang ditonjolkan sang penulis cerita dalam diri Hancock yang nampak dalam klimaks film ini adalah kekuatan hatinya yang mengalahkan semua ego dan keinginan pribadinya. Hancock lebih memilih untuk berkorban dan merelakan istrinya dapat hidup kembali serta menjalani kebahagiaan dengan sahabat karibnya sendiri. Sementara ia sendiri pergi menjauh dan menjalani lakonnya sebagai penolong masyarakat, tentunya dengan cara yang sudah lebih baik dari sebelumnya.

Secara keseluruhan Hancock merupakan sebuah film perpaduan action, komedi dan roman yang cukup ringan namun sarat makna kehidupan. Penokohan Hancock pun dibuat lebih membumi daripada tokoh-tokoh super hero yang pernah ada. Saya lebih suka memaknai film ini dengan dua hal, yaitu kepahlawanan dalam diri manusia dan kekuatan hati orang yang mencintai.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Hati Seorang Pemimpin

Menarik sekali sewaktu saya menyimak salah satu buku dari Trias Kuncahyono berjudul Jerusalem, yang tak sengaja saya beli waktu mampir di Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Di buku ini Trias tidak hanya menulis mengenai sebuah kota bernama Jerusalem, tetapi juga mengenai cerita-cerita yang pernah berlangsung beribu tahun yang lalu di kota tua yang sekaligus dipercaya sebagai kota suci oleh agama-agama samawi di dunia.

Salah satu kisah yang menarik adalah mengenai Pontius Pilatus, seorang Gubernur Yudea yang berkuasa di bawah Kekaisaran Romawi. Yang menarik dalam kisah ini bukan karena Pontius Pilatus merupakan sosok seorang pemimpin yang sempurna, namun justru sebaliknya. Dari kelemahan-kelemahan seorang Pontius Pilatus yang digambarkan sebagai seorang pemimpin yang berhati lemah, sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita ambil.

Seorang Pilatus yang berhati lemah, ternyata lebih mengutamakan kekuasaan daripada nilai sebuah keadilan. Hal ini secara jelas tergambar dari cara Pilatus untuk melakukan ritual ‘cuci tangan’ sebagai langkah melarikan diri dari tanggungjawabnya sebagai pemimpin yang sebenarnya diharapkan dapat membuat keputusan secara adil di depan rakyatnya. Sungguhpun ia sendiri tidak menjumpai kesalahan dalam diri Yesus, namun Pilatus sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan yang benar sebagai yang benar, dan yang salah sebagai yang salah. Ia sadar betul jika rakyat menginginkan Yesus dihukum walaupun tidak didapati kesalahan apapun dalam diri Yesus. Dan yang lebih penting lagi, dia sangat sadar bahwa jika ia melawan kehendak rakyat dan menyatakan Yesus tidak bersalah seperti yang diketahuinya, maka taruhannya adalah kekuasaannya. Dan Pilatus mengambil langkah untuk menyelamatkan kekuasaannya.

Hati seorang Pilatus ternyata tidak cukup kuat untuk memenangkan kebenaran yang diketahuinya ada pada diri Yesus. Hati seorang pemimpin merupakan sumber kehidupan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering tidak kita sadari pentingnya makna sebuah hati yang memimpin. Sebenarnya memimpin sama sekali bukan mengenai sebuah kedudukan ataupun kekuasaan, tetapi memimpin adalah tentang hati seorang gembala yang dapat membuat nyaman domba-domba untuk selalu mengikutinya. Hati yang memimpin adalah hati yang bisa membuat teduh dan aman semua anak buah maupun staff untuk mengikutinya, bukan dengan paksaan, ketakutan ataupun ancaman.

Pemimpin yang mempergunakan kekuasaan untuk memimpin adalah pemimpin yang tidak punya hati untuk memimpin. Ia harus memakai kekuasaan untuk membuat anak buahnya tunduk mengikutinya. Namun dari pemimpin semacam ini, tidak akan pernah didapati kesetiaan dan tidak akan ada pula tempat di hati anak buah ataupun staff yang dipimpinnya. Seorang pemimpin seperti ini hanya akan dihormati karena jabatannya, dan yang lebih mengerikan lagi ia hanya akan dihormati selama ia menjabat.

Namun pemimpin yang memimpin dengan hati, akan dapat memenangkan hati anak buah dan staff-nya kapan pun dan di mana pun ia berada. Bahkan seorang yang memimpin dengan hati mungkin juga tidak memerlukan pangkat atau jabatan tertentu untuk membuat orang yang dipimpinnya mengikutinya. Karena hati seorang pemimpin yang baik akan selalu mengerti keadaan orang-orang yang dipimpinnya dan mengetahui dengan pasti ke mana ia akan membawa orang-orang tersebut melangkah.