Menarik sekali sewaktu saya menyimak salah satu buku dari Trias Kuncahyono berjudul Jerusalem, yang tak sengaja saya beli waktu mampir di Grand Indonesia beberapa waktu lalu. Di buku ini Trias tidak hanya menulis mengenai sebuah kota bernama Jerusalem, tetapi juga mengenai cerita-cerita yang pernah berlangsung beribu tahun yang lalu di kota tua yang sekaligus dipercaya sebagai kota suci oleh agama-agama samawi di dunia.
Salah satu kisah yang menarik adalah mengenai Pontius Pilatus, seorang Gubernur Yudea yang berkuasa di bawah Kekaisaran Romawi. Yang menarik dalam kisah ini bukan karena Pontius Pilatus merupakan sosok seorang pemimpin yang sempurna, namun justru sebaliknya. Dari kelemahan-kelemahan seorang Pontius Pilatus yang digambarkan sebagai seorang pemimpin yang berhati lemah, sebenarnya banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
Seorang Pilatus yang berhati lemah, ternyata lebih mengutamakan kekuasaan daripada nilai sebuah keadilan. Hal ini secara jelas tergambar dari cara Pilatus untuk melakukan ritual ‘cuci tangan’ sebagai langkah melarikan diri dari tanggungjawabnya sebagai pemimpin yang sebenarnya diharapkan dapat membuat keputusan secara adil di depan rakyatnya. Sungguhpun ia sendiri tidak menjumpai kesalahan dalam diri Yesus, namun Pilatus sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk menyatakan yang benar sebagai yang benar, dan yang salah sebagai yang salah. Ia sadar betul jika rakyat menginginkan Yesus dihukum walaupun tidak didapati kesalahan apapun dalam diri Yesus. Dan yang lebih penting lagi, dia sangat sadar bahwa jika ia melawan kehendak rakyat dan menyatakan Yesus tidak bersalah seperti yang diketahuinya, maka taruhannya adalah kekuasaannya. Dan Pilatus mengambil langkah untuk menyelamatkan kekuasaannya.
Hati seorang Pilatus ternyata tidak cukup kuat untuk memenangkan kebenaran yang diketahuinya ada pada diri Yesus. Hati seorang pemimpin merupakan sumber kehidupan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering tidak kita sadari pentingnya makna sebuah hati yang memimpin. Sebenarnya memimpin sama sekali bukan mengenai sebuah kedudukan ataupun kekuasaan, tetapi memimpin adalah tentang hati seorang gembala yang dapat membuat nyaman domba-domba untuk selalu mengikutinya. Hati yang memimpin adalah hati yang bisa membuat teduh dan aman semua anak buah maupun staff untuk mengikutinya, bukan dengan paksaan, ketakutan ataupun ancaman.
Pemimpin yang mempergunakan kekuasaan untuk memimpin adalah pemimpin yang tidak punya hati untuk memimpin. Ia harus memakai kekuasaan untuk membuat anak buahnya tunduk mengikutinya. Namun dari pemimpin semacam ini, tidak akan pernah didapati kesetiaan dan tidak akan ada pula tempat di hati anak buah ataupun staff yang dipimpinnya. Seorang pemimpin seperti ini hanya akan dihormati karena jabatannya, dan yang lebih mengerikan lagi ia hanya akan dihormati selama ia menjabat.
Namun pemimpin yang memimpin dengan hati, akan dapat memenangkan hati anak buah dan staff-nya kapan pun dan di mana pun ia berada. Bahkan seorang yang memimpin dengan hati mungkin juga tidak memerlukan pangkat atau jabatan tertentu untuk membuat orang yang dipimpinnya mengikutinya. Karena hati seorang pemimpin yang baik akan selalu mengerti keadaan orang-orang yang dipimpinnya dan mengetahui dengan pasti ke mana ia akan membawa orang-orang tersebut melangkah.