Datang ke bioskop 15 menit setelah film dimulai bukanlah hal yang saya harapkan tentunya. Tapi itulah yang terjadi sewaktu saya menonton film ini. Namun walaupun terlambat 15 menit ternyata tidak membuat saya kesulitan mengikuti alur cerita Hancock, sang manusia super yang digambarkan dalam keadaan ‘sangat tidak super’ oleh Will Smith. Hal ini menunjukkan bahwa alur cerita Hancock ‘cukup’ ringan untuk diikuti.
Jika dalam berbagai kisah super hero lainnya sang pahlawan selalu digambarkan dalam kondisi berkelimpahan (Batman), dipuja dan dikagumi (Superman), atau seorang yang berkemampuan khusus dengan keadaan khusus (X-Man, Spiderman), maka jangan mengharapkan hal serupa juga terjadi pada Hancock. Seperti yang saya katakan tadi, sosok pahlawan kita kali ini digambarkan sebagai manusia dengan keadaan ‘sangat tidak super’. Tidak mempunyai tempat tinggal layak, kumal, acak-acakan, bahkan mirip gelandangan, plus masih ditambah temperamen yang kasar dan seenaknya, walaupun sebenarnya hatinya baik.
Jika dicermati dengan seksama, Hancock merupakan sosok ‘plesetan’ yang mewakili citra kebaikan yang ada dalam diri setiap manusia, walaupun seburuk apapun manusia itu kelihatannya. Mengapa saya sebut sebagai citra ‘plesetan’, karena di sini sang penulis cerita ingin menampilkan nilai kebaikan yang ada dalam diri manusia tersebut melalui sebuah karakter ‘manusia super’ yang sangat tidak sempurna seperti biasanya.
Dikisahkan Hancock sebagai seorang yang lupa ingatan (bukan gila … tapi lebih ke arah amnesia), karena ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti siapa dia dan dari mana dia berasal. Namun begitu, dengan kekuatan super yang dia miliki, Hancock mempunyai niat baik dengan selalu menolong orang-orang yang dalam kesulitan, bahkan juga membantu aparat dalam menegakkan hukum dengan menghajar habis para gembong penjahat dan narkoba yang ada. Namun karena cara Hancock yang kasar dan urakan, membuat masyarakat bukannya menyayangi dia, namun justru membencinya, karena disetiap aksi yang dilakukannya, Hancock sering membuat banyak kerusakan fasilitas umum maupun pribadi milik masyarakat. Hal tersebut sekaligus merupakan sebuah parodi kehidupan yang sering kita temui dalam keseharian mengenai orang yang berniat baik namun menempuh cara yang kurang tepat sehingga niat baiknya justru dipandang sebaliknya oleh orang lain.
Hal lain yang bisa kita lihat dalam film ini adalah roman percintaan yang mengiringi kisah hidup Hancock, sang manusia super. Setegar-tegarnya seorang pahlawan, Hancock pun tak luput dari sebuah luka karena cinta dalam hidupnya. Dikisahkan, Hancock akhirnya bertemu dengan istrinya yang sebenarnya telah menemani hidupnya selama beratus-ratus tahun sebelumnya. Namun pada saat mereka bertemu, istrinya telah mendapatkan kebahagiaan dengan laki-laki lain, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Sedih, terbuang dan terkhianati, kurang lebih itulah perasaan Hancock ketika mengetahui bahwa istri sahabatnya ternyata adalah istrinya sendiri. Namun kenyataan bahwa jika mereka kembali bersama akan membuat sisi kekuatan mereka sebagai manusia super melemah dan kembali mengalami rentetan bencana karena orang-orang yang menginginkan kematian mereka berdua, membuat Hancock sadar bahwa cinta mereka tak harus memiliki satu sama lain. Klimaks film yang dibalut tajam dengan sisi pengorbanan Hancock untuk sang istri agar tetap hidup dan dapat meneruskan kehidupan dengan sahabatnya, membuat film ini terasa sangat manusiawi dan berbeda dengan film-film super hero lainnya. Kekuatan yang ditonjolkan sang penulis cerita dalam diri Hancock yang nampak dalam klimaks film ini adalah kekuatan hatinya yang mengalahkan semua ego dan keinginan pribadinya. Hancock lebih memilih untuk berkorban dan merelakan istrinya dapat hidup kembali serta menjalani kebahagiaan dengan sahabat karibnya sendiri. Sementara ia sendiri pergi menjauh dan menjalani lakonnya sebagai penolong masyarakat, tentunya dengan cara yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
Secara keseluruhan Hancock merupakan sebuah film perpaduan action, komedi dan roman yang cukup ringan namun sarat makna kehidupan. Penokohan Hancock pun dibuat lebih membumi daripada tokoh-tokoh super hero yang pernah ada. Saya lebih suka memaknai film ini dengan dua hal, yaitu kepahlawanan dalam diri manusia dan kekuatan hati orang yang mencintai.
