Mungkin itulah judul paling tepat buat cerita ini, walaupun bukan alur cerita film itu yang terjadi
Ini hanya sekedar cerita tentang seberapa cepat kita menyadari sebuah proses hidup berlangsung.
Dua minggu yang lalu, aku menghadiri sebuah pesta resepsi salah seorang sahabat lamaku. Kami bersahabat memang sudah cukup lama, sejak di bangku SMP tepatnya di SMP Negeri 5. Seluruhnya kami ada tujuh orang, dan selepas dari bangku SMP hingga kini pun kami masih selalu keep in touch dan menyempatkan diri buat hang out bareng di tengah kesibukan kami masing-masing. Mulai dari keluh kesah pekerjaan masing-masing hingga cerita cinta pun sudah bukan menjadi rahasia bagi kami. Memang, tidak semua dari kami bisa mempunyai intensitas kedekatan yang sama satu dengan yang lain, namun begitu kedekatan kami yang sudah belasan tahun tetap membuat sebuah keterikatan tersendiri diantara kami. Ada sesuatu diantara kami yang selalu membuat kami meluangkan waktu atau mendahulukan, jika ada salah satu diantara kami yang membutuhkan. Inilah mungkin yang istimewa dari persahabatan kami.
Dan hari itu, aku bersama temanku yang lain berdiri menatap ‘salah seorang’ dari antara kami yang ternyata telah melangkah mendahului kami di pelaminan. Salah seorang temanku sempat berceloteh, “Dia yang terlalu cepat, atau kita yang terlalu lama yah??”. Spontan kami semua tertawa mendengarnya. Entah mengapa dari banyak pernikahan yang pernah aku hadiri, pesta pernikahan kali ini terasa lebih spesial, … bukan karena gedungnya, dekorasinya ataupun kateringnya. Tetapi karena yang berdiri di sana adalah salah seorang sahabat kami, yang kami kenal sejak dia masih naik sepeda BMX hingga dia naik mobil … hehehe
Keberaniannya untuk memutuskan menikahi wanita yang dicintainya cukup membuat kami semua salut … Seminggu sebelum pernikahannya, kami sempat ngobrol panjang lebar. Dia bercerita tentang calon istrinya, bagaimana mereka bertemu, hingga keputusannya untuk menikah. “Kalo semua yang kita minta udah dikabulkan, mau tunggu apa lagi?”, kurang lebih begitulah katanya waktu itu. He’s got the answer of what his longing for … “Aku sih minta sama Tuhan yang sederhana aja, karena gak ada manusia yang sempurna di dunia ini”. Benar juga, nggak akan pernah ada yang persis sempurna seperti yang manusia inginkan, karena Allah memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Jadi lebih baik berdoa minta kepada Allah agar memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena siapakah yang tahu terbaik untuk kita, kalau bukan Pencipta kita. Ask Him the best for us, not about what we want … Maybe that would be my pray …