Selingkuh, Pernahkah Menjadi Benar?

Semalam secara tak sengaja, waktu terbangun tengah malam aku melihat sebuah sinetron ‘live’ di SCTV. Awalnya seperti biasa, aku tidak pernah tertarik dengan sinetron-sinetron lokal, karena dari yang pernah aku ikuti sebelumnya, tidak banyak ‘nilai’ yang bisa dipelajari dari tayangan lokal ini, rata-rata hanya menjual mimpi dan tampang (bukan bermaksud sinis loh). Belum lagi kalo jalan ceritanya mulai nggak masuk akal … seakan-akan penonton dianggap bodoh, itu yang paling aku nggak suka.

Tapi seperti yang aku bilang tadi, begitu melihat sinetron ini bersifat ‘live’, kontan aja rasa penasaranku muncul. Ceritanya sih sederhana banget, tentang perselingkuhan. Mungkin tema ini sudah banyak diangkat baik dalam novel, film, drama dan tak terkecuali sinetron. But, yang menarik di sini adalah karena yang selingkuh adalah sang istri. Masih sangat jarang tema yang mengangkat perselingkuhan yang dilakukan oleh pihak wanita, walaupun mungkin dalam kehidupan nyata tidak demikian faktanya. Mungkin karena arogansi budaya patriakat saja yang kemudian membuat perselingkuhan sebagai sebuah monopoli kaum adam dengan segala permaklumannya.

Selingkuh memang menjadi hal yang sensitif untuk dibicarakan, karena bagaimanapun juga jika berbicara tentang sebuah perselingkuhan, kita akan senantiasa dihadapkan pada dua kubu. Yang tersakiti dan yang menyakiti, yang dikhianati dan yang mengkhianati, belum lagi saling tuding dan menyalahkan satu sama lain, mencari alasan untuk membenarkan diri, dan lain sebagainya.

Kembali ke sinetron ‘live’ yang aku tonton semalam, dalam sinetron sebabak ini dikisahkan bagaimana sang istri akhirnya jatuh ke pelukan lelaki lain, dengan segala faktor yang membuat rentannya kehidupan perkawinan mereka. Menjelang klimaks cerita, penonton dipersilakan menentukan akhir cerita secara langsung ‘live’, by phone. Apakah penonton menginginkan sang istri jujur kepada suami mengenai perselingkuhannya, ataukah sebaliknya, mendiamkan dan menutupi perselingkuhan tersebut. Yang menarik adalah jawaban dari pemirsa ini mungkin juga mewakili suara masyarakat kita selama ini.

Lebih baik diam dan membiarkan semuanya pulih seperti sediakala. Apakah itu yang terbaik? Namun sebagai orang beriman, pastilah kejujuran tetap merupakan hal yang terbaik, terlebih karena perkawinan merupakan janji suci di hadapan Allah. Namun bagaimana jika ternyata sebuah kejujuran itu harus dibayar mahal dengan perasaan sakit hati, terkhianati dan hilangnya kepercayaan dari pasangan? Ada seorang rekan yang mengatakan, lebih baik diam, tapi bertobat dan tidak mengulanginya. Tapi benarkan bisa begitu saja? Bagaimana jika suatu saat dia kembali berpikir dapat melakukannya lagi tanpa ketahuan seperti ‘kemarin’? Kembali kepada kejujuran, memang ada ‘harga mahal’ yang harus dibayar dengan kejujuran, namun kesakitan itu pula yang mungkin akan selalu mengingatkan kita untuk tidak mengulanginya lagi. Ibaratnya orang yang harus diimunisasi, ia harus sakit dahulu, agar sakit yang sama tidak akan pernah terulang lagi sepanjang hidupnya.

Ibarat air dan api, kesetiaan dan pengkhianatan merupakan dua hal yang tidak akan pernah sejalan. Kesetiaan akan memupus pengkhianatan, sebaliknya pengkhianatan juga akan mengikis habis nilai sebuah kesetiaan. Aku masih ingat betul saat salah seorang rekan menceritakan perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya. Dan yang lebih parah lagi, suaminya berselingkuh ‘hanya’ dengan SPG-SPG. Ya ampun, apa sih kurangnya rekanku ini sampai suaminya bisa menduakan dia begitu saja dengan SPG? Aku membayangkan betapa sakitnya perasaan rekanku ini. Gimana enggak, dalam masa pacaran aja diduakan itu udah hal yang enggak buanget buat aku … apalagi rekanku ini sudah menikah. Aku lihat di dompet cowokku ada foto cewek lain aja, aku udah minta putus. Lihat cowokku pergi makan sama cewek lain aja, udah cukup bikin aku pergi ninggalin dia … Nah ini, suaminya jelas-jelas ngaku selingkuh … waduuh, parah banget pikirku. Mau nyuruh dia pergi ninggalin suaminya? Secara rasional dan emosi pastilah itu saran yang pengen aku bilang ke dia. But, ini dunia pernikahan, jelas nggak bisa dengan cara tadi. Apalagi pernikahan adalah sekali seumur hidup … banyak hal yang harus dipikirkan. Kata orang, dalam sebuah pernikahan harus menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangannya, tapi apakah yang dimaksud kekurangan disini juga termasuk ‘kurang setia’ dan ‘kurang ajar’?? Dari sisi religius sendiri, aku lebih suka mengartikan perselingkuhan sebagai ketidaksetiaan terhadap tiga hal, yaitu ketidaksetiaan terhadap janji, ketidaksetiaan terhadap pasangan dan ketidaksetiaan terhadap Allah. Karena ketiga hal tersebut yang manusia pertaruhkan pada saat menikah.

That’s why, you have to be the one and only in his life …

Satu Tanggapan ke “Selingkuh, Pernahkah Menjadi Benar?”

  1. djiesutisna Says:

    ya selingkuh memang indah ..kata orang…but berisiko banget ,apalagi yang sudah berkeluarga…siapapun yang berselingkuh mau istri atau suami itu berarti sudah siap dengan api…api dunia mungkin bisa disiram dengan air biasa..tapi api neraka ….mungkin dengan tobat..jadi para selingkuh mulailah bertbat…..


Tinggalkan Balasan