Akhirnya, setelah sekian lama … kesampaian juga buat nonton Laskar Pelangi, film yang sempat bikin aku penasaran karena pemberitaannya yang ramai dan juga karena sudah diawali dengan kesuksesan novelnya. Sore kemarin, sepulang kerja, kebetulan ada tawaran tiket promo gratis ‘n gak pake ngantri … so ngapain enggak?? Jadilah aku kemaren pulang tenggo … alias begitu ‘teng’ bel pulang, langsung ‘go’. Bersama salah satu rekan kerja di kantor, aku langsung meluncur ke Studio 21 di Amplaz.
Tentang film Laskar Pelangi ini, sepintas langsung mengingatkan aku dengan film sejenis beberapa tahun lalu, ‘Denias, Senandung di Atas Awan’. Apalagi sama-sama mengangkat masalah keterbelakangan pendidikan di daerah terpencil Indonesia, keduanya juga based on true story, sama-sama ada latar belakang kesenjangan ekonomi dan pendidikan (Denias : Freeport sedangkan Laskar Pelangi : PN Timah) dan juga sama-sama dibintangi Matias Muchus, hehehe … kebetulan banget nggak sih?? Bedanya mungkin Denias nggak sampe ditonton presiden dan rombongan pejabat kayak Laskar Pelangi ini. But, walau pun begitu, Denias sempat memenangkan penghargaan film terbaik dalam Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2006, sekaligus juga sebagai Film Anak-anak Terbaik se-Asia Pasific, bahkan juga sempat masuk dalam seleksi Oscar 2008.
Denias atau pun Laskar Pelangi merupakan sebuah gambaran kenyataan dunia pendidikan Indonesia yang sudah merdeka selama lebih dari 63 tahun ini. Sama-sama bersetting daerah terpencil dengan kekayaan tambang yang berlimpah, namun penduduk aslinya justru tidak dapat mengecap kemakmuran dari kekayaan tambang tersebut. Kalau di film ‘Denias, Senandung di Atas Awan’ kita bisa melihat kesenjangan antara warga asli pribumi dan para pendatang yang bermukim di ‘zona nyaman’ perusahaan tambang asing, PT. Freeport. Sedangkan di film ‘Laskar Pelangi’ kita disuguhi pula sekat kesenjangan serupa dari warga masyarakat Gantong yang juga bersetting perusahaan tambang, PN. Timah.
Kemiskinan dan keterbatasan tidak boleh mematahkan semangat anak-anak Indonesia untuk mendapat pendidikan dan mengejar cita-citanya. Mungkin itulah tema dasar kedua film ini, baik Denias maupun Laskar Pelangi. Denias banyak mengangkat realita yang menyebabkan anak-anak di pedalaman Papua tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak. Seolah ingin mematahkan asumsi masyarakat luas selama ini yang hanya melihat anak-anak pedalaman sebagai sekumpulan anak malas, liar dan bodoh. Ari Sihasale sendiri pernah mengungkapkan bahwa ide film Denias ini memang ingin menyuguhkan realita penyebab anak-anak di Papua belum dapat mengenyam pendidikan yang layak. “Bukan karena mereka malas, bukan karena otak mereka pas-pasan”, ungkap sang penggagas film Denias ini.
Lalu bagaimana dengan Laskar Pelangi? Menurutku film Laskar Pelangi ini lebih menitikberatkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Bahwa dunia pendidikan tidak semata berbicara mengenai penyampaian materi kurikulum, tapi juga lebih pada pendidikan akhlak dan budi pekerti setiap anak didik. Banyak wejangan bermanfaat dari para guru di Laskar pelangi ini, mulai dari bagaimana menjadi pemimpin yang baik, bagaimana belajar mencapai cita-cita, tentang kepercayaan diri, bahkan juga tentang arti sebuah pertemanan. Salah satu nasehat yang paling aku ingat dari Laskar Pelangi ini adalah nasehat yang disampaikan Pak Guru yang akrab dipanggil Pak Cik oleh Bu Muslimah, tentang menjadi orang yang lebih banyak memberi dalam kehidupan, jangan menjadi orang yang ingin lebih banyak menerima, … that’s so meaningful. Aku nggak tahu bagaimana dengan novelnya, karena aku sendiri belum sempat membacanya, but secara keseluruhan film Laskar Pelangi sebenarnya bagus, namun sayangnya kurang mampu menyajikan klimaks cerita dengan tajam. Amat disayangkan jika Riri Riza maupun Mira Lesmana kurang dapat menampilkan klimaks cerita ini dengan lebih maksimal, ataukah memang karena terlalu banyak sekuel kejadian yang ingin ditonjolkan dalam film ini??
Namun begitu, kita memang harus mengapresiasi keberanian para sineas kita dalam menggarap pangsa film seperti Denias maupun Laskar Pelangi ini. Film-film seperti inilah sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat kita. Film yang berbicara tentang realita hidup, mempunyai pesan-pesan moral, idealisme serta mengandung nilai edukasi yang tinggi. Bukan sekedar film yang consumer oriented, yang mengacu pada selera pasar dan rupiah yang dihasilkan semata.
