Listen More Than You Speak

Dengerin aja deh ...

Dengerin aja deh ...

I very rarely say something I didn’t already know, but I often hear other people say things and think …

Pernah nggak terpikir oleh kita bahwa ternyata banyak banget hal yang bisa kita pelajari dari mendengar. Mendengar tuh nggak ubahnya adalah sebuah proses belajar pasif yang paling aktif. Lho, kok bisa? Ya bisa dunk … dengan mendengar, nggak ubahnya kita tuh jadi kayak spons yang diletakkan di suatu genangan air. Spons itu akan diam di situ (pasif) tapi dia akan menyerap banyak (aktif kan?!?).

Begitu juga dengan kita, pada saat kita mulai mau mendengar orang lain di sekitar kita, entah dia lebih pintar atau bodoh sekalipun, sebenarnya kita sedang belajar. Kalo dia lebih pintar dari kita, berarti kita sedang belajar buat upgrade capability … hehe :D But, kalo pun ternyata dia nggak lebih dari kita, sekonyol apa pun pikirannya, dengarkan aja, coba pahami kenapa dia bisa berpikir seperti itu … dengan begitu kita sekaligus sedang belajar untuk lebih bijaksana dan bertoleransi.

Siapa pun kita hari ini adalah hasil dari siapa pun orang yang pernah kita jumpai dan bersama kita sebelumnya. Cara berpikir kita pun sebenarnya juga merupakan hasil dari apa yang pernah kita alami sebelumnya. Karena dengan cara itulah manusia sebenarnya sedang belajar … (lagi bijaksana neh)

This Christmas, this holiday …

Wuiih, pagi ini harus bangun dengan mata belum rela terbuka … masih pengen liburan :( alhasil absensi pun kembali harus berdarah alias merah ;) Padahal taon depan udah mo bikin satu resolusi: anti keterlambatan (bisa gak yah?!?) yaah, paling nggak maksudnya minimal, paling nggak sebisa-bisanya … diusahain … ada satu bulan di mana absennya gak berdarah-darah, alias merah … hihihi :D Emang aku ada masalah kronis dengan ketertiban absen ini …

Pagi ini, masih suasana Natal yah, but capek bener, tadi malem baru abis pulang dari tanah leluhur, hehehe … coz ada tante yang nikah, otomatis semua sodara ngumpul semua. Natalan sembari ada yang nikahan gituu …. jadi rame bener Natalan taon ini. Busyeet banyak benerr ya sodara-sodara kalo dikumpulin semua … se-Indonesia raya :D Kangen juga ngumpul-ngumpul kayak gini. Dulu tiap kali libur kenaikan kelas, kita always selalu selalu ngumpul-ngumpul gini di rumah Eyang. But sekarang setelah kita udah gedhe, dengan kesibukan masing-masing … hiks, susaaaah banget buat ketemuan ‘n kumpul2 kayak gini. Sayangnya, liburan orang kerja tuh gak bisa sepanjang libur kenaikan kelas kita dulu waktu SD :( bisa diitung jari deh liburnya, abis itu … as usually, u have to comeback to your job :) And after this holiday ended, let me say you this … Merry Merry Christmas and Have A Prosperous New Year :D

Transporter 3 : Breakin’ The Rules

Transporter 3

Transporter 3

Setelah lama mupeng ngeliat trailler Transporter 3, akhirnya kesampaian juga nonton film laga ini. Sabtu kemaren pas lagi enak-enak tidur siang, Onik interupsi ngajakin nonton bareng2 Ko’ Marcel & Hendra. Yaa jelas mau dunk, orang udah nungguin lama.

Jadilah kita berempat nonton itu film, kebagian jatah yang 21.30 n seperti biasa … telaat :( hua2 haha …. gara2 tasnya Onik ketinggalan di gereja, so Ko’ Marcel harus jadi Transporter 2,5 dulu buat kejar waktu balik gereja lagi ngambil tas :D

Kembali ke topik semula, Transporter 3 … kita masuk udah telaat, pas adegan ’duaarrr!!’ ledakan gitu intinya …. Transporter 3, seperti biasa Frank Martin dan mobil canggihnya masih berprofesi sama. Kata Onik, ini film tentang TIKI JNE gituu … hehehe :D Kalo cuman nyuguhin cerita action balapan ngantar barang, kelahi sambil mengungkap kasus, pastinya gak akan bikin perbedaan dengan 2 seri Transporter sebelumnya. So, apa yang berubah dari seri Transporter ini? Frank Martin tetap diperankan Jason Statham yang diberi karakter dingin namun tetep aja memukau dengan action laganya. Yang berbeda adalah munculnya karakter cewek dalam Transporter 3 ini. Valentina, diperankan oleh Natalya Rudakova, adalah anak seorang menteri Ukraina yang sedang diminta persetujuannya untuk import limbah dalam kapasitas suangaat besar (sekitar 8 kapal). Pak menteri ini sebenernya nggak setuju, but dipaksa dengan jalan anaknya diculik.

Nah si Valentina inilah yang harus di-transporter sama Frank Martin, alias dialah barang bawaannya dari Marseilles ke Odessa. Cerita selanjutnya hampir mirip film … lupaa (apa yah judulnya? yang ada anak gadis pengusaha Jepang diculik trus malah jatuh cinta sama penculiknya) Emang nggak segitu miripnya, intinya setelah Frank Martin tau kalo barang bawaannya tuh ini cewek, maka singkat kata sikapnya trus berubah seperti pada umumnya laki-laki normal :D

Trus kenapa aku bilang Transporter 3 kali ini ’breakin the rules’? Yaa karena Si Frank Martin membuat perkecualian-perkecualian dalam tugasnya kali ini. Perkecualian pertama, dia biasa kerja sendiri (nobody in his side). Kali ini ada Valentina, sebenernya dia nggak mau (waktu itu belum tau kalo barang bawaannya tuh cewek ini, dia pikir tas yang dimasukkan di bagasi). Tapi daripada cewek ini ditembak mati sama si penjahat, yaa jadinya dia bikin perkecualian. Perkecualian kedua di Transporter 3 ini, Frank Martin menanyakan nama &  malah ngajakin kenalan. Belum lagi keterlibatan secara pribadi antara kerjaan dan masalah hati (namanya juga manusia … ). Trus buat Anda kaum feminis, bersiaplah dongkol, karena tokoh Valentina ini terlihat lebih mirip cewek nakal daripada anak pejabat yang berkelas, begitu juga kelakuannya. Jadi buat para feminis yang selama ini puas dengan action smart girl-nya Angelina Jolie ato pun Jenifer Lopez … yaa patah hati aja deh, liat yang satu ini  :D

Yaa, gitulah intinya Transporter 3, it’s breakin the rules …

Ditulis dalam Cinema. 2 Komentar »

What The Money Can’t Buy

Tulisan ini aku dapet dari seorang kawan di millis … sederhana sih ceritanya, but cukup menyadarkan betapa uang memang nggak pernah bisa membeli waktu dan kebahagiaan bersama orang yang kita sayangi. Berapa banyak waktu kita habis hanya untuk mencari uang, bahkan kadang kita lupa untuk apa kita mencari uang. Uang yang kita cari nggak pernah bisa membeli kembali waktu yang terlewatkan saat kita tidak bisa bersama orang-orang yang kita sayangi. Nice story … thank you friend :)

Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?,” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu dan minggu libur, kadang sabtu Ayah masih lembur. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya. “Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak.

Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp.5.000,- nggak?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”. “Tapi, Ayah…”
Kesabaran Rudi habis. “Ayah bilang tidur!,” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak
pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron.Buat apa sih minta uang malam-m alam begini? Kalau mau beli mainan, besok’kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini. “Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu Ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,- . Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya ….

by Guejays

Don’t Ask Why, But How …

So, apa yang penting dari ultah kali ini? Merenung tentang semua hal yang terjadi satu tahun terakhir ini … mmmffh … banyak buanget yah … mulai dari hal yang aku syukuri sampe hal yang aku nggak ngerti kenapa bisa sampe terjadi. But aku slalu inget, dalam hidup ini … don’t ask why, but how … Karena jika pada setiap masalah kita hanya bertanya ‘kenapa’, maka kita nggak akan pernah bisa melewatinya. Tanyakan ‘bagaimana’ agar semua dapat kita lewati :)

Ada sebuah analogi yang cukup menarik tentang kehidupan. Kehidupan itu nggak jauh beda dengan orang naik mobil. Ada 2 kaca yang penting buat dia, yaitu kaca spion dan kaca depan. Kenapa kaca depan selalu dibuat jauh lebih besar dari kaca spion? Karena kita sedang berjalan maju, kita perlu melihat jelas ke depan. Sedangkan kaca spion dibuat dengan ukuran kecil saja, karena hanya kita butuhkan sesekali untuk melihat ke belakang, saat kita hendak berbelok atau membuat keputusan penting dalam hidup kita.

Begitu juga dengan hidup, kita membutuhkan kaca depan yang luas untuk melihat dengan jelas arah hidup kita ke depan. Sedangkan kaca spion atau cermin masa lalu, hanya kita butuhkan sesekali saat kita akan membuat keputusan. Orang yang selalu melihat ke belakang nggak ubahnya seperti orang yang selalu melihat ke spion … bahaya kan??! ;)

Yang jelas, aku bersyukur banget mempunyai banyak orang yang ditempatkan Tuhan di sekitar aku dan menyayangi aku … buat aku itu adalah berkat yang luar biasa :D

Tuhan berurusan dengan kita untuk kepentingan masa depan kita, bukan masa lalu.
(Warren Wiersby)

So, this for B’day

Instead of counting candles,
Or tallying the years,
Contemplate your blessings,
As your birthday nears.

Consider special people
Who love you, and who care,
And others who’ve enriched your life
Just by being there.

Think about the memories
Passing years can never mar,
Experiences great and small
That have made you who you are.

Another year is a happy gift,
So cut your cake, and say,
“Instead of counting birthdays,
I count blessings every day!”