Bukan Malin Kundang

malinkundangSore ini seperti biasa, aku dan Mama menyempatkan duduk bersantai dan mengobrol panjang lebar, sana sini tentang aktivitas kami masing-masing seharian ini. Kali ini Mama bercerita tentang seorang nenek yang sudah beberapa bulan terakhir ini secara rutin datang ke rumah setiap beberapa hari sekali. Nenek ini sudah sangat tua, kata Mama buat jalan aja udah susah, udah jompo :(

Nenek ini sebenernya punya anak, punya menantu, punya cucu juga. Lalu apa yang membuat nenek yang seharusnya menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang di rumah ini sampai harus berada di jalanan? Nenek ini mulai datang ke rumah semenjak rumahnya dijual oleh anak semata wayangnya tersebut. Anak yang telah ia besarkan dengan penuh cinta kasih, telah menuntut hak warisnya sebagai anak tunggal. Tanpa prasangka apa pun nenek ini dan suaminya (pada waktu itu masih hidup) memberikan hak waris mereka atas semua milik mereka kepada si anak. Namun diluar dugaan, anak ini justru menjual rumah yang mereka wariskan dan mengusir pergi kedua orang tuanya. Tak lama setelah kejadian tersebut, suami nenek ini kemudian meninggal dunia. Dan jadilah nenek ini seorang diri menjalani sisa hidupnya. Karena sudah tidak mempunyai rumah sebagai tempat berteduh dan kehabisan uang tanpa sedikitpun bekal untuk bertahan hidup, nenek ini hidup sebagai gelandangan dari satu tempat ke tempat lain. Sebenarnya para tetangga di rumahnya dahulu yang bersimpati kadang memberikan tumpangan secara bergilir kepada nenek yang sudah jompo ini.

Namun nenek ini akhirnya merasa tidak enak hati menjadi beban bagi tetangga-tetangganya, sehingga diputuskannya untuk pergi dan hidup sebagai gelandangan. Pertama kali datang ke rumah, kata Mama, nenek ini masih terlihat bersih, tidak seperti sekarang yang terlihat kotor dan lusuh. Nenek ini datang bukan untuk minta uang, namun hanya meminta sepiring nasi untuk dimakan hari itu. Pernah Mama akan membekali nenek ini dengan beberapa bungkus Indomie dan uang, namun nenek ini menolak. Terakhir kemarin dia datang, oleh Mama diberi makan siang, beberapa tablet vitamin harian untuk bekal dan beberapa baju kebaya lama Mama yang sudah tidak pernah dipakai. Karena melihat nenek ini sudah sedemikian lusuh, Mama juga memberikan sabun mandi agar nenek ini bisa mandi setiap saat di kamar mandi umum yang dijumpainya.

Prince of My Dreams

Pada waktu kita kecil,
Setiap kita mungkin pernah punya satu sosok pangeran tampan berkuda yang kita impikan akan datang menjemput kita … ;)
Dengan akhir cerita bahagia selamanya tentunya … happily ever after

Sosok pangeran tampan ini pun terus terbawa dalam memory kita
Seiring dengan berjalannya waktu, realita telah membentuk satu sosok pangeran itu dalam kehidupan kita …

Yang membedakannya adalah, pangeran yang kini ada dalam memory kita bukanlah sosok pangeran berkuda lagi … tapi sudah berganti menjadi sosok pangeran yang kita harapkan bisa membuat kita nyaman … dan bahagia selamanya …

Waktu yang lama berputar telah membuat reka ulang sosok ideal pangeran dalam benak kita

Bukan lagi pangeran berkuda saja,
Tapi pangeran yang cakap dan cerdas
Pangeran yang bijaksana, penuh perhatian juga peduli kepada sesama (kalo di dongeng yaa pangeran yang adil dan bijaksana terhadap rakyatnya gituuu …)
Mungkin pangeran yang sanggup membawakan bintang di langit untuk hadiah (wuiihh … ck, ck, ck …) ato mungkin lebih realistisnya Toblerone putih tiap kali kita ngambek …
Mungkin pangeran yang bisa membantu ngerjain tugas akuntansi karena aku sering bolos mata pelajaran ini (mungkin yang ini pangeran sewaktu SMA … xixixi :D )
Mungkin pangeran yang menemani aku nyanyi dengan dentingan gitarnya (ehemm … tapi bukan Glenn Fredly looh … tapi kalo Ello yaa mau bangets … )
Mungkin pangeran yang nggak segan-segan dan nggak gengsi buat diajak naek gunung ato menikmati lezatnya bakmi jawa di pinggir jalan (????!!??)
Pangeran yang setia, selalu menepati janji (bukan janji Pramuka)
Pangeran yang selalu ada buat kita
Menemani hari-hari kita
Pangeran yang sanggup membuat saat terburuk kita menjadi saat yang terbaik …

that’s all about Prince of My Dreams … xixixi :D
(let your mind go for a walk … kata salah satu iklan di TV)

Iman Yang Mengatasi Segalanya

child_prayingKisah ini diceritakan oleh seorang pendeta dari Filipina. Tentang doa seorang anak kecil sederhana yang sering ia temui datang ke gereja tempat ia melayani. Setiap sepulang sekolah anak kecil ini selalu menyempatkan diri mendatangi gereja. Ia selalu memilih baris terdepan di dekat altar sebelum kemudian ia berlutut dan berdoa. Hari itu sang pendeta sengaja ingin menyapa anak ini.

“Nak, kenapa kamu selalu datang kemari?”, tanya pendeta ini. “Aku hanya ingin bertemu Sahabatku Bapa”, katanya polos. Pendeta ini kemudian tersenyum dan mempersilakan anak ini menemui Sahabatnya.  Namun diam-diam dari balik tembok, pendeta ini mendengarkan ‘cerita’ anak ini pada Sahabatnya.

Dan inilah cerita anak ini kepada Sahabatnya:

“Tuhan Yesus, Engkau adalah sahabatku … jadi pastilah Engkau mau mendengarkan ceritaku hari ini. Tuhan, hari ini aku ada ulangan matematika di sekolah. Soalnya susah sekali. Aku berusaha mengerjakan tapi tidak bisa.  Aku tidak yakin apakah aku bisa mendapat nilai yang baik. Tapi walaupun susah, aku tidak mencontek. Tuhan, aku mengerjakannya sendiri, walaupun teman-temanku banyak yang mencontek”, tuturnya di awal doa. Kemudian ia menyambung lagi ceritanya, ”Pagi ini ayah memberiku tiga potong roti sebagi sarapan sekaligus bekalku, karena ayah sekarang sedang tidak punya uang. Tuhan, kemarin ayah di-PHK dari tempatnya bekerja dan hari ini dia sedang berusaha mencari pekerjaan. Tolong ayah ya Tuhan agar cepat mendapatkan pekerjaan lagi. Tentang rotinya, dua potong roti sudah aku makan di sekolah, karena aku sangat lapar sekali. Sedangkan yang satu potong lagi aku simpan untuk siang. Tapi tadi di tengah jalan pulang aku melihat seekor kucing kecil yang nampaknya sangat kelaparan. Kasihan Tuhan. Lalu aku berikan rotiku yang satu potong agar dia bisa makan. Tapi walaupun begitu sampai sekarang aku belum lapar lagi”.

Tidak sampai di situ saja, anak ini masih meneruskan, “Tuhan lihat sepatuku yang sudah mulai rusak ini?? Mungkin minggu depan aku ke sekolah sudah tidak lagi memakai sepatu. Aku tahu ayah sangat ingin membelikan aku sepatu baru, tapi ayah belum punya cukup uang. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku masih bersyukur bisa sekolah walau mungkin tanpa memakai sepatu, karena masih banyak anak-anak yang bahkan tidak bisa bersekolah”. Pendeta yang mendengarkan cerita anak ini menghela napas mendengarkan cerita anak ini kepada Sahabatnya.

“Tuhan hari ini badanku juga sakit, karena tadi pagi aku dipukuli ibu. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku tahu Engkau pasti akan menyembuhkan luka-lukaku. Mungkin ibu marah karena kami kehabisan uang dan tidak punya apa-apa”. Anak ini berhenti sejenak sebelum kemudian tersenyum dalam doanya dan melanjutkan, “Tuhan hari ini aku juga jatuh cinta. Ada seorang anak perempuan yang baru saja masuk di kelasku. Dia sangat cantik. Aku mencintainya, tapi aku tidak yakin apakah dia mau mencintai aku. Tapi aku tahu satu hal yang pasti Tuhan, bahwa Engkau pasti akan selalu mencintai aku”.

“Terima kasih Tuhan untuk hari ini, Amin”. Anak ini menutup doanya dengan wajah berseri kemudian meninggalkan rumah Sahabatnya tersebut.

Mungkin inilah yang disebut iman yang dapat mengatasi segalanya, walaupun mungkin hanya dalam sebuah keluguan pemahaman anak kecil.

Freedom Writers

Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa.
Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas.
Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya.
Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.
Freedom Writers Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa. Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas. Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya. Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Cinta Cuma Satu

love_heart1Tadi malem, cuman mo tidur aja susah banget. Mungkin gara2 tadi udah ketiduran terlalu awal.. hehe ;) Maksudnya cari aktifitas yang bisa bikin ngantuk … ngenet, malah jadi gak ngantuk, bawaannya malah mo browsing sana sini. Mo baca-baca, stok bacaannya abis tuh, malah jadi inget kemaren ngincer buku di Gramedia yang blom sempet kebeli, judulnya kalo gak salah ‘Why Men Lies and Woman Cry’ … hehe, tunggu aja tanggal maennya.

Abis itu nyalain TV, aku yakin banget jam segitu aku udah bisa terhindar dari wabahnya Si Mami, …. yang namanya sinetron :D ada beberapa film, but akhirnya malah nonton karnaval musiknya SCTV. Dari banyak lagu yang diputer SCTV, aku malah excited ma lagu yang dibawain Nindy, judulnya Cinta Cuma Satu. Hehe, lagu bikinannya Bebi Romeo, lagunya sederhana, termasuk easy listening … liriknya sederhana pula, but realistis, bercerita tentang capek ‘n sakitnya dikhianati. Intinya, sama kayak judul lagunya, cinta yang cuma satu, dipertaruhkan untuk mencintai satu orang saja … please2 jangan dikhianati or dipermainkan … capek deh rasanya …

Mungkin cerita dalam lagu yang dibuat Bebi Romeo ini bisa menimpa siapa saja. Tentang capek dan sakitnya orang yang pernah dikhianati. Kalo pun dia kemudian mencoba untuk bisa mencintai lagi, pertaruhannya cuman ada satu cinta yang dia harap masih bisa diyakininya, walo mungkin so hard to do … namun pertaruhan seperti ini berat banget buat yang menjalaninya. Sekali kepercayaan itu disia-siakan, akan semakin sulit buat dia untuk bisa mempercayai lagi :( hiks99x …

Misalnya, dulu nggak pernah masalah buat dia kalo cowoknya jalan sama temen cewek lain asal ada keterangan, entah itu keperluan kerja, temen, sahabat ato apalah yang rasional. Trus tiba2 satu saat dia liat cowoknya jalan sama cewek lain, makan di tempat favorit mereka pula, padahal sebelumnya cowoknya bilang mo tugas ke luar kota. Akhirnya, emang ketahuan kalo cowoknya ini selingkuh. Mereka pisah. Sakit? Ya pasti sakit, apalagi dia ngerasa nggak pernah bikin salah dalam hubungan itu … tapi ya udah … Titik. But masalah gak berhenti sampe di situ … di kemudian hari, lain waktu, pada waktu cewek ini dah punya cowok baru, akan beda rasanya pada saat dia ngeliat cowoknya jalan ato sekedar akrab dengan cewek lain. Yang ada di benaknya udah nggak bisa selurus dulu lagi, masa lalunya udah merubah semuanya. Itulah kenapa orang bilang, siapa kita hari ini adalah semua yang pernah kita lalui di waktu yang lalu.

Cinta Cuma Satu … absolutely right Nindy …

Mendengar Apa yang Tidak Dikatakan

babylisteningUngkapan di atas mengingatkan aku pada masa-masa aku SMA. Dalam catatan 3 tahun SMA-ku, menurut teman-teman aku punya record kecelakaan lalu lintas paling tinggi (hiiyy, ngeri kalo inget … ). Sebagian karena kelalaianku, namun sebagian yang lain adalah kelalaian orang lain. Entah itu aku udah nyalain lampu sign tapi tetep diseruduk, ato lagi jalan ngebut tiba-tiba di depan ada yang belok sembarangan tanpa ngasih lampu sign dulu. Mulai dari yang paling sepele, bahkan beberapa kali waktu kuliah kasusnya udah meningkat jadi nggak sepele sama sekali. Sampai-sampai dulu ortu sempet ngelarang naik sepeda motor lagi. Nggak mauuu … jawabku enteng. Tetep naik motor, cepet, asyik, nggak ribet (kecuali kalo hujan).

Tentang record kecelakaan yang sama sekali tidak membanggakan itu, salah satu teman sempet bilang ke aku, “Nit, nggak cukup kalo kamu cuman perhatiin lampu sign orang lain. Yang terpenting di jalan raya tuh kamu harus peka membaca sekitarmu dengan cepat. Kadang orang nggak nyalain lampu sign, tapi dari gelagat dia untuk berjalan semakin ke kiri ato ke kanan kita harus cepet sadar kalo ada kemungkinan dia berbelok”. Dengan kata lain, seperti yang dikatakan Peter Drucker tentang mendengar apa yang tidak dikatakan, sama juga dengan di jalan raya, kadang kita juga harus mengerti orang lain, walaupun dia tidak ‘menyalakan rambunya’.

Mengerti gelagat orang lain dalam memakai jalan, hampir sama juga dengan mengerti orang lain walaupun mungkin orang tersebut tidak pernah mengatakan maksudnya, namun dari apa yang dia lakukan saja, kita juga sudah seharusnya peka membaca setiap maksud dari perbuatannya.

Mendengar apa yang tidak dikatakan, berarti bukan mendengar dengan telinga. Mendengar apa yang tidak dikatakan berarti mendengar dengan mata, mendengar dengan hati, dari setiap laku yang tersirat.

Bad Hair Day (or season??) …

Rambut adalah mahkota wanita … ungkapan ini nggak pernah bener-bener aku sadari artinya kalo nggak gara-gara kejadian salah potong rambut kemarin di salon. Ide awalnya sih cuman sederhana, aku cuman pengen rambut yang rapi bin nggak ribet aja. But, ini kapster mungkin kebablasan ato gimana, udah dibilang juga poni tetep panjang, eh dia babat gitu aja … hasilnya, ya ampuuun kayak jaman-jaman SMA dulu kalo mo maju lomba baris pleton inti (masih mending dulu, sekali babat banyak temennya). Sampe-sampe begitu nyampe rumah, of course Si Mami langsung ketawa-ketawa, suruh aku skalian ganti pake seragam pleton inti Namche-ku dulu. Haduuuh …. :(

Itu juga yang bikin mood hari ini jadi jelek banget buat keluar n ketemu2 orang jadi maleeeshh banget. Malah kalo bisa tadi pagi tuh maunya bolos skalian (emangnya anak kuliahan …) masuknya nunggu rambut agak panjangan dikiit …. hihihi :D Pulang kerja juga langsung pulang. Pokoknya intinya, gak akan pergi ke mana-mana … klo gini yang paling seneng Si Mami, anaknya anteng aja, diem2 di rumah … ;)

Imaginary Regret

regretYang terjadi di dalam diri kita, lebih penting daripada yang terjadi pada diri kita.

Malem ini kebetulan bisa nonton acaranya ‘Mario Teguh’, ‘coz latihan Minggu ini libur. Aku suka acara ini, but sejak acara ini pindah jam tayang, aku jadi gak bisa ikutin lagi karena jam tayangnya tabrakan sama jadwal latihanku.  Tema kali ini menarik banget, The Power of Imaginary Regret.

Kadang secara tidak sadar kita hanya terpukau berhenti pada apa yang terjadi pada diri kita. Hal ini hanya akan membawa pada sebuah penyesalan yang hanya akan melukai diri sendiri saja. Namun sebenarnya yang paling berharga dari sebuah permasalahan yang terjadi adalah proses bagaimana kita melaluinya. Yang terpenting adalah bagaimana dari dalam diri kita menerima dan melaluinya. Karena dalam setiap peristiwa itulah yang kelak menjadikan siapa diri kita hari ini. Kesalahan yang bisa membuat kita menjadi lebih baik sebenarnya bukanlah kesalahan, namun pelajaran.

Semua jalan kebaikan adalah jalan Tuhan
Kita yang berjalan dalam kebaikan sebenarnya sedang berjalan bersama Tuhan

(hmmm, keren kan?!)

Bandingin Buku Harian = Bandingin …

Beres-beres meja belajar … ato sekarang udah harus ganti nama jadi meja kerja ya? Hehe, nggak sengaja di tumpukan arsip-arsip tempo doloe, … aku nemuin juga buku harianku dua tahun yang lalu, tepatnya buku harian tahun 2007. Kebiasaanku dari dulu tuh yang namanya buku harian bener-bener jadi buku sehari-hari alias jadi log harianku, mulai dari masalah kerjaan, daftar tugas, janjian, sampe cord2 gitar dan resep masakan yang baru aku dapet, or baru aku revisi setelah melalui tahap uji coba … semua ada di situ, hehe … :D buka-buka buku harian ini bener-bener bikin aku inget jaman dulu, walo pun cuman baca-baca sekilas isinya, but rasanya ‘hidup banget’ deh waktu itu.

Masih sempet masak, bikin-bikin roti, blajar gitar … hehe, lagu pertama yang aku bisa tuh ‘Last Kiss’-nya Pearl Jam, …  Belom lagi kalo inget waktu itu hobby yang namanya wisata kuliner …. hehe ;) Iseng aku bandingin sama buku harianku yang sekarang, haha … beda jauh banget deh … jangan tanya kenapa. Trus, yang paling akhir aku sempet baca ‘Wishing List’-ku … hehe :) Dear God, kapan bisa comin’ true yah??