Sore ini seperti biasa, aku dan Mama menyempatkan duduk bersantai dan mengobrol panjang lebar, sana sini tentang aktivitas kami masing-masing seharian ini. Kali ini Mama bercerita tentang seorang nenek yang sudah beberapa bulan terakhir ini secara rutin datang ke rumah setiap beberapa hari sekali. Nenek ini sudah sangat tua, kata Mama buat jalan aja udah susah, udah jompo
Nenek ini sebenernya punya anak, punya menantu, punya cucu juga. Lalu apa yang membuat nenek yang seharusnya menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang di rumah ini sampai harus berada di jalanan? Nenek ini mulai datang ke rumah semenjak rumahnya dijual oleh anak semata wayangnya tersebut. Anak yang telah ia besarkan dengan penuh cinta kasih, telah menuntut hak warisnya sebagai anak tunggal. Tanpa prasangka apa pun nenek ini dan suaminya (pada waktu itu masih hidup) memberikan hak waris mereka atas semua milik mereka kepada si anak. Namun diluar dugaan, anak ini justru menjual rumah yang mereka wariskan dan mengusir pergi kedua orang tuanya. Tak lama setelah kejadian tersebut, suami nenek ini kemudian meninggal dunia. Dan jadilah nenek ini seorang diri menjalani sisa hidupnya. Karena sudah tidak mempunyai rumah sebagai tempat berteduh dan kehabisan uang tanpa sedikitpun bekal untuk bertahan hidup, nenek ini hidup sebagai gelandangan dari satu tempat ke tempat lain. Sebenarnya para tetangga di rumahnya dahulu yang bersimpati kadang memberikan tumpangan secara bergilir kepada nenek yang sudah jompo ini.
Namun nenek ini akhirnya merasa tidak enak hati menjadi beban bagi tetangga-tetangganya, sehingga diputuskannya untuk pergi dan hidup sebagai gelandangan. Pertama kali datang ke rumah, kata Mama, nenek ini masih terlihat bersih, tidak seperti sekarang yang terlihat kotor dan lusuh. Nenek ini datang bukan untuk minta uang, namun hanya meminta sepiring nasi untuk dimakan hari itu. Pernah Mama akan membekali nenek ini dengan beberapa bungkus Indomie dan uang, namun nenek ini menolak. Terakhir kemarin dia datang, oleh Mama diberi makan siang, beberapa tablet vitamin harian untuk bekal dan beberapa baju kebaya lama Mama yang sudah tidak pernah dipakai. Karena melihat nenek ini sudah sedemikian lusuh, Mama juga memberikan sabun mandi agar nenek ini bisa mandi setiap saat di kamar mandi umum yang dijumpainya.
Kisah ini diceritakan oleh seorang pendeta dari Filipina. Tentang doa seorang anak kecil sederhana yang sering ia temui datang ke gereja tempat ia melayani. Setiap sepulang sekolah anak kecil ini selalu menyempatkan diri mendatangi gereja. Ia selalu memilih baris terdepan di dekat altar sebelum kemudian ia berlutut dan berdoa. Hari itu sang pendeta sengaja ingin menyapa anak ini.
Tadi malem, cuman mo tidur aja susah banget. Mungkin gara2 tadi udah ketiduran terlalu awal.. hehe
Ungkapan di atas mengingatkan aku pada masa-masa aku SMA. Dalam catatan 3 tahun SMA-ku, menurut teman-teman aku punya record kecelakaan lalu lintas paling tinggi (hiiyy, ngeri kalo inget … ). Sebagian karena kelalaianku, namun sebagian yang lain adalah kelalaian orang lain. Entah itu aku udah nyalain lampu sign tapi tetep diseruduk, ato lagi jalan ngebut tiba-tiba di depan ada yang belok sembarangan tanpa ngasih lampu sign dulu. Mulai dari yang paling sepele, bahkan beberapa kali waktu kuliah kasusnya udah meningkat jadi nggak sepele sama sekali. Sampai-sampai dulu ortu sempet ngelarang naik sepeda motor lagi. Nggak mauuu … jawabku enteng. Tetep naik motor, cepet, asyik, nggak ribet (kecuali kalo hujan).
Yang terjadi di dalam diri kita, lebih penting daripada yang terjadi pada diri kita.