Jika kita mau mengamati, dalam suasana kerja sehari-hari, terdapat berbagai macam sebutan yang biasa kita pakai untuk menyapa teman, atasan ataupun bawahan kita. Khusus untuk sebutan kepada atasan, mungkin tidak perlu kita bahas, karena sebutan untuk atasan cenderung bersifat umum dan tidak banyak menimbulkan konotasi. Lain halnya dengan sebutan kepada mereka yang secara struktural berada di bawah kita. Adakalanya kita tidak menyadari, bahwa arti sebuah sebutan akan teramat mewakili gambaran kita sebagai seorang atasan terhadap orang yang kebetulan berada di bawah ‘garis komando’ kita. Coba bedakan keempat kalimat ini.
“Okey, biar nanti orang saya ke sana untuk membereskan”
“Okey, nanti saya suruh anak buah saya untuk membereskan”
“Okey, biar nanti staff saya yang urus sampai tuntas”
“Okey, biar nanti teman2/rekan2 saya yang urus sampai tuntas”
Kalimat pertama memakai sebutan ‘orang saya’, inilah sebutan ‘paling kasar’ untuk diartikan. Karena dari atasan semacam ini akan sangat sulit didapatkan penghargaan secara profesional, karena dia berasumsi bahwa kita bekerja untuk dia, kita adalah tenaga kerja miliknya, dengan kata lain … posisi kita adalah orang yang membutuhkan dia. Atasan yang menyebut orang di bawahnya dengan sebutan ‘orang saya’ biasanya berasumsi bahwa masih banyak orang mau bekerja untuk dia, sehingga dia merasa mempunyai ‘hak penuh’ atas orang di bawah ‘garis komando’-nya.
Kalimat kedua memakai sebutan ‘anak buah’. Dengan menyebut orang di bawahnya sebagai anak buah, otomatis dia menempatkan diri sebagai ‘bapak buah’, alias boss yang memimpin. Sebutan ini tidak sepenuhnya salah, namun jangan kaget jika mengetahui bahwa seorang preman pasar pun menyebut pengikutnya dengan anak buah … hehehe … :p
Kalimat ketiga memakai sebutan ‘staff’. Sebutan ini jauh lebih professional dibandingkan kedua sebutan sebelumnya tadi. Staff merupakan panggilan resmi struktural yang halus. Walaupun tetap menegaskan diri sebagai seorang pemimpin, namun orang yang memakai istilah ‘staff’ untuk menyebut orang di bawahnya, berarti memberikan aspek penghargaan atas profesionalitas kerja dalam pekerjaannya.
Yang terakhir, kalimat keempat adalah ‘teman/rekan’. Mungkin akan sangat jarang seorang atasan yang rela menyebut ‘bawahannya’ dengan sebutan ini, karena biasanya orang beranggapan bahwa yang pantas disebut dengan teman/rekan hanyalah mereka yang berada 1 level dengan mereka. Namun tahukah Anda, justru panggilan inilah yang akan dapat ‘memenangkan hati’ orang-orang yang dia pimpin. Aspek penghargaan sebagai rekan sekerja jelas tergambar dalam sebutan ini. Beberapa orang yang saya kenal memakai sebutan ini untuk orang-orang yang dipimpinnya umumnya menyadari bahwa keberhasilan pekerjaan mereka tidak lepas dari solidnya team yang mereka miliki. Team berlaku seperti tangan dan mata, ketika mata menangis, tangan menyeka air mata, begitupun sebaliknya, ketika tangan terluka, mata akan menangis. Tak heran jika pemimpin seperti ini dihargai dan disayangi orang yang ia pimpin atau pernah ia pimpin, tidak hanya di dalam tembok kantor saja, namun juga selepas ia melepas pakaian kerjanya. Karena merekalah pemimpin sejati.
Sama seperti Tuhan yang menginginkan kita manusia berdosa menjadi rekan sekerjaNya. Mengapa tidak, kita menempatkan orang yang dipercayakan Tuhan untuk kita pimpin sebagai rekan sekerja kita?
Dia adalah seseorang yang dapat mengerti aku sehingga tidak akan membuat aku meminta apapun darinya. Dia adalah seseorang yang dapat membuat aku nyaman bersandar tanpa aku perlu merasa kuatir tentang hari esok. Dia adalah seseorang yang dapat membuat aku teduh dengan sinar matanya tanpa sebersitpun dusta.
Menghapus isi ‘Recycle Bin’ mungkin merupakan hal yang biasa … tapi kali ini tiba-tiba ada yang menarik dari sistem pembuangan sampah yang selalu ada di desktop komputer kita ini. Ada kalanya hidup kita seperti sebuah sistem yang juga mempunyai file-file yang sudah tidak terpakai, file yang salah, file yang tidak ingin kita simpan lagi, dan lain sebagainya.