Pertanyaan ini terus saja ada di benak saya, mulai dari awal saya menempuh study di jurusan Teknik Informatika pada sebuah PTS di Indonesia. Kenapa? Karena saat pertama kali masuk, di kelas saya cuma ada 5 orang mahasiswa berjenis kelamin w.a.n.i.t.a, selebihnya sudah bisa ditebak .. adalah kaum Adam.
Lalu kenapa hanya sedikit saja perempuan yang mengambil jurusan ini?
Beberapa semester berlalu, untuk kemudian saya tau jawabannya. Dalam sebuah mata kuliah, dijelaskan tentang glass ceiling syndrome di dunia IT. Buat yang mungkin belom tau artinya .. here we go:
“the unseen, yet unbreachable barrier that keeps minorities and women from rising to the upper rungs of the corporate ladder, regardless of their qualifications or achievements”
Ada beberapa alasan mengapa ‘glass ceiling’ ini berlaku di dunia IT, diantaranya yang masih saya ingat adalah:
- Masyarakat tradisional kita masih menganggap seorang sarjana komputer sebagai kandidat tepat untuk servis komputer (ooowh, that’s why we’ve got S.Kom at the end?!? stands for ‘Servis Komputer’?!? .. whahaha, just one of the ‘right joke’
) - Umumnya beberapa posisi pekerjaan IT yang dibuat dalam sebuah perusahaan memang mensyaratkan jenis kelamin laki-laki, karena pekerjaan tersebut dianggap tidak pantas untuk perempuan, karena beratnya tuntutan dan tekanan dalam mengerjakannya. .. *sejauh ini saya masih mau memaklumi :p
- Alasan yang ketiga ini agak menyakitkan sebenarnya, yaitu anggapan bahwa wanita tidak akan cukup mampu untuk mempelajari dan menguasai segala ‘kerumitan’ di dunia komputer. Jika ingin dipermudah bahasanya adalah ‘wanita tidak cukup pintar untuk mempelajari ilmu komputer’ (?!?!??). Goshhh!! .. untuk alasan yang satu ini saya benar-benar tersinggung. Tapi itulah potret masyarakat kita, yang masih sangat suka menempatkan wanita sebagai makhluk sekunder. Label 3M pada wanita nampaknya masih dianggap menghalanginya untuk menguasai ‘hal-hal cerdas’, termasuk IT.
*eniwe, label 3M yang saya maksud adalah: Masak, Macak (Jawa – bersolek, berdandan), Manak (Jawa – melahirkan anak).
Beberapa tahun kemudian, saat saya sudah menamatkan study .. saya mencoba mencari pekerjaan yang lebih mapan (karena sebenarnya saya sudah mulai bekerja di semester2 akhir kuliah saya, baik sebagai assisten dosen di kampus, maupun sebagai seorang system analyst pada sebuah ISV). Dan benar saja, saat saya mulai mencari pekerjaan ‘yang lebih mapan’ ini .. di situlah saya mulai diperhadapkan dengan realita glass ceiling ini. Sebagian besar posisi di bidang saya memang mensyaratkan jenis kelamin laki2 dengan sangat jelas. Namun yang lebih mengherankan lagi, beberapa posisi diantaranya, yang saya sangat tau bahwa sebenarnya tidak masalah jika diisi dengan wanita .. itupun disyaratkan laki2. Walopun akhirnya saya beberapa kali diterima di perusahaan berbeda2 dengan beberapa posisi bidang IT, namun ternyata permasalahan tidak berhenti di situ saja. Walaupun mungkin sudah bisa menembus ‘diskriminasi tahap pertama’, tapi masih ada diskriminasi tahap berikutnya. Apalagi jika posisi yang diduduki sebelumnya selalu diisi oleh laki2. Pandangan bahwa ‘dia sebenarnya hanya beruntung saja’ atau ‘bagaimanapun juga dia wanita, jangan berharap terlalu banyak padanya’ atau bahkan anggapan bahwa apapun yang kita kerjakan tidak akan pernah sebaik jika itu dipegang oleh lawan jenis kita, akan selalu muncul dan muncul lagi. Jika mungkin saya seorang laki-laki, mungkin hanya membutuhkan waktu 2-3 bulan untuk memperoleh kepercayaan mereka. Namun karena saya seorang w.a.n.i.t.a maka mereka nampaknya ingin melihat selama .. uhmmm .. satu tahun?!? Atau bahkan dua tahun?!??!?. Untuk kemudian setelah itu, jika ada sedikit saja kesalahan kecil, pasti mereka akan lebih mengingatnya sebagai sebuah kebodohan wanita (..s**t!!).
But, still .. I’m proud to be a woman .. never ‘n never regret about these ..
‘coz life’s to short to have regrets
.. i’ve learnt how to leave it where it is