Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa.
Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas.
Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya.
Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.
Freedom Writers Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa. Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas. Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya. Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.
Aku baru sadar kalo lagu ini bener-bener keren pas sore-sore kena macet di Jalan Mataram belakang Malioboro beberapa hari yang lalu, ujan-ujan lagi … kebetulan aku denger lagu ini dari radio yang sengaja aku puter buat nemenin di jalan, hehe 

