Freedom Writers

Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa.
Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas.
Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya.
Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.
Freedom Writers Sebenernya aku pilih film ini karena tertarik sama judulnya. Freedom Writers, bukan judul film kebanyakan, terdengar menantang dan sangat realistis. Dan emang bener, film ini based on true story, dari buku harian murid-murid Woodrow Wilson High School, kelas bahasa inggris, di ruang 203. Adegan awal film ini dimulai dengan reportase kerusuhan di Los Angeles, California tahun 1992. Kerusuhan yang bersumber pada masalah geng dan rasial ini telah merenggut ratusan korban jiwa. Dan dari situlah kisah film ‘Freedom Writers’ ini dimulai. Woodrow Wilson H.S. sebagai setting utama film ini merupakan sebuah sekolah yang mengadopsi sistem baru yang mereka sebut sistem integrasi. Sistem ini mengijinkan anak-anak dari berbagai ras untuk mengenyam pendidikan yang sama. Di Long Beach California sendiri saat itu terdapat setidaknya tiga kelompok besar yang saling bermusuhan. Kelompok Negro (kulit hitam, Afro America), kelompok Asia (Jepang, China, Kamboja, dst) dan kelompok Latin (dari Amerika Selatan). Ketiga kelompok tersebut bermusuhan satu sama lain, baik dalam pergaulan, kekuasaan atau pun perebutan wilayah di distrik tersebut. Dan hal tersebut terjadi tak terkecuali di dalam kelas. Woodrow Wilson High School sebagai sebuah sekolah integrasi sebenarnya diharapkan dapat memperbaiki keadaan generasi mudanya melalui jalur pendidikan. Namun kenyataan berkata lain, pejabat sekolah ini justru membuat sekat-sekat semakin jelas dengan mendeskreditkan anak-anak nakal yang juga anggota geng dalam perolehan pendidikan yang layak. Hingga suatu hari kemudian datang seorang guru muda yang bersedia menangani kelas bahasa di sekolah tersebut, bernama Erin Gruwell atau yang nantinya akan banyak disebut Miss G oleh murid-muridnya. Kelas bahasa sendiri merupakan satu-satunya kelas yang dianggap cocok untuk murid-murid nakal yang oleh sekolah dianggap sebagai anak dibawah standart. Bahkan saking dianggap bodohnya, sekolah menganggap ‘Diary of Anne Frank’ sebagai bacaan yang terlalu berat bagi anak-anak nakal ini. Namun di sinilah Miss G akhirnya bisa membuktikan kepada sekolah, bahwa anak-anak tersebut layak menerimak pendidikan yang sama, sekaligus menyadarkan para muridnya tentang persamaan hak dan menyudahi pola pikir rasial yang selama ini menghalangi mereka untuk bersatu melalui sebuah studi mengenai Holocaust, sebuah potret abadi kekejaman Nazi atas Yahudi dan ras-ras lain yang dianggap tidak memiliki hak hidup. Totalitas Miss G dalam membukakan mata murid-muridnya terhadap bahaya pola pikir rasial memang merupakan sebuah integritas yang luar biasa dari potret seorang guru, terlebih dia berani membayar mahal untuk itu semua. Film ini sekaligus juga menyadarkan kita tentang mahalnya suatu nilai kehidupan dan moral kemanusiaan bagi sekelompok generasi muda, untuk membuat masa depan yang lebih baik dari hari ini.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Only Hope

a-walk-to-rememberAku baru sadar kalo lagu ini bener-bener keren pas sore-sore kena macet di Jalan Mataram belakang Malioboro beberapa hari yang lalu, ujan-ujan lagi … kebetulan aku denger lagu ini dari radio yang sengaja aku puter buat nemenin di jalan, hehe :) … Sebenernya lagu ini tuh soundrack film ‘A Walk to Remember’, film sederhana tapi dalem banget ceritanya. Ditambah satu closing film ini dimana si cowok bilang, “Jamie saved my life. She taught me everything. About life, hope and the long journey ahead … our love is like the wind. I can’t see it, but I can feel it.” …. wuiiihhh, dalem banget … Nah, kebetulan juga kemaren temenku malah ngasih lirik lagu ini kemaren :D

There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands
and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now you’re my only hope

Sing to me the song of the stars
Of Your galaxy dancing and laughing, and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that You have for me over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

I give You my destiny
I’m giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I’m giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you’re my only hope

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Made of Honor, Cinta Abadi Seorang Sahabat

Made of Honor

Made of Honor

Made of Honor atau MoH sendiri sebenarnya merupakan istilah untuk pendamping pengantin. Film ini memang bercerita tentang seorang wanita bernama Hannah yang meminta sahabatnya, Tom untuk menjadi pendamping pengantinnya.

Cerita diawali dengan pertemuan secara tak sengaja Tom (Patrick Dempsey) dan Hannah (Michelle Monaghan) sewaktu di bangku kuliah pada sebuah pesta. Keistimewaan Hannah sebagai seorang wanita yang cerdas dan berprinsip rupanya justru menarik perhatian Tom yang merupakan seorang ‘Cassanova’ kampus. Namun tidak demikian halnya dengan Hannah, dia hanya menganggap Tom sebagai teman. Akhirnya keduanya justru bersahabat hingga lulus.

Cerita kemudian bergulir 1o tahun kemudian, dimana dua orang ini masih bersahabat, walaupun masing-masing mempunyai kehidupan pribadi sendiri, namun keduanya selalu meluangkan waktu satu sama lain. Kemudian tibalah satu waktu, dimana pekerjaan menuntut Hannah untuk pergi ke Scotlandia selama 6 minggu. Perpisahan itu merupakan perpisahan terpanjang yang pernah dialami keduanya selama bersahabat, namun justru selama 6 minggu itulah Tom tersadar bahwa sebenarnya wanita yang dia cintai adalah Hannah, bukan salah satu dari deretan pacar-pacarnya selama ini. Oleh karenanya, dia berniat untuk segera memberitahukan Hannah sekembalinya dari Scotlandia (kebetulan Hannah juga telah putus dari pacarnya terdahulu).

Tibalah waktu yang ditunggu, Hannah kembali dari Scotlandia. Bahkan Hannah menghubungi Tom untuk makan malam bersama. Namun di luar dugaan, tujuan Hannah mengajak Tom makan malam adalah untuk memperkenalkan Tom pada Collin, seorang pemuda Scotland yang tak lain adalah calon suami Hannah. Dari sinilah sebenarnya cerita dimulai. Berbagai cara dilakukan Tom untuk menjatuhkan Collin dan merebut hati Hannah. Bahkan Tom mengiyakan permintaan Hannah untuk menjadikannya ‘Made of Honor’, hanya agar ia bisa menghabiskan hari bersama Hannah dan menunjukkan kepada Hannah bahwa ia sudah berubah. Di satu sisi, semakin Tom mencari kelemahan Collin untuk menjatuhkannya, semakin ia dapati bahwa Collin lebih sempurna dari dia. Hal ini tentu saja membuat Tom sangat kesal dan putus asa. Padahal di lain pihak menjelang hari–H, Hannah sebenarnya sedang banyak mendapati ketidaksesuaian dengan kebiasaan Collins maupun keluarganya yang bangsawan Scotlandia.

Akhirnya nasib baik berpihak pada Tom, ia berhasil meyakinkan Hannah, bahwa ia mencintainya. Namun apakah semua bisa berjalan mulus begitu saja? Ternyata tidak, bahkan terjadi accident yang membuat Hannah mengurungkan kepercayaannya pada cinta Tom dan membuat Tom diusir pulang ke Amerika justru tepat pada saat sebelum pernikahan Hannah dilaksanakan.

So happy ending enggak?? Ya jelas happy ending dunk :D Pesan dari film drama komedi ini sebenarnya sederhana … kadang kita mencari sosok ideal kita pada banyak orang (yang kita pacarin) but terkadang kita sampai buta bahwa sosok ideal kita tuh sedang berjalan bersama-sama kita, yaitu sahabat kita sendiri. Pacaran sendiri sebenernya penjajakan kan? Mencari kecocokan & kesesuaian. Padahal sahabat sebenarnya merupakan sosok yang paling membuat kita merasa nyaman, comfort … karena dari persahabatan itu sendiri sbenernya udah membuktikan kecocokan kedua belah pihak. So, ngapain gak jadi sahabat abadi aja?? Mungkin gitu pesan dari filmnya .. hehe ;)

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Transporter 3 : Breakin’ The Rules

Transporter 3

Transporter 3

Setelah lama mupeng ngeliat trailler Transporter 3, akhirnya kesampaian juga nonton film laga ini. Sabtu kemaren pas lagi enak-enak tidur siang, Onik interupsi ngajakin nonton bareng2 Ko’ Marcel & Hendra. Yaa jelas mau dunk, orang udah nungguin lama.

Jadilah kita berempat nonton itu film, kebagian jatah yang 21.30 n seperti biasa … telaat :( hua2 haha …. gara2 tasnya Onik ketinggalan di gereja, so Ko’ Marcel harus jadi Transporter 2,5 dulu buat kejar waktu balik gereja lagi ngambil tas :D

Kembali ke topik semula, Transporter 3 … kita masuk udah telaat, pas adegan ’duaarrr!!’ ledakan gitu intinya …. Transporter 3, seperti biasa Frank Martin dan mobil canggihnya masih berprofesi sama. Kata Onik, ini film tentang TIKI JNE gituu … hehehe :D Kalo cuman nyuguhin cerita action balapan ngantar barang, kelahi sambil mengungkap kasus, pastinya gak akan bikin perbedaan dengan 2 seri Transporter sebelumnya. So, apa yang berubah dari seri Transporter ini? Frank Martin tetap diperankan Jason Statham yang diberi karakter dingin namun tetep aja memukau dengan action laganya. Yang berbeda adalah munculnya karakter cewek dalam Transporter 3 ini. Valentina, diperankan oleh Natalya Rudakova, adalah anak seorang menteri Ukraina yang sedang diminta persetujuannya untuk import limbah dalam kapasitas suangaat besar (sekitar 8 kapal). Pak menteri ini sebenernya nggak setuju, but dipaksa dengan jalan anaknya diculik.

Nah si Valentina inilah yang harus di-transporter sama Frank Martin, alias dialah barang bawaannya dari Marseilles ke Odessa. Cerita selanjutnya hampir mirip film … lupaa (apa yah judulnya? yang ada anak gadis pengusaha Jepang diculik trus malah jatuh cinta sama penculiknya) Emang nggak segitu miripnya, intinya setelah Frank Martin tau kalo barang bawaannya tuh ini cewek, maka singkat kata sikapnya trus berubah seperti pada umumnya laki-laki normal :D

Trus kenapa aku bilang Transporter 3 kali ini ’breakin the rules’? Yaa karena Si Frank Martin membuat perkecualian-perkecualian dalam tugasnya kali ini. Perkecualian pertama, dia biasa kerja sendiri (nobody in his side). Kali ini ada Valentina, sebenernya dia nggak mau (waktu itu belum tau kalo barang bawaannya tuh cewek ini, dia pikir tas yang dimasukkan di bagasi). Tapi daripada cewek ini ditembak mati sama si penjahat, yaa jadinya dia bikin perkecualian. Perkecualian kedua di Transporter 3 ini, Frank Martin menanyakan nama &  malah ngajakin kenalan. Belum lagi keterlibatan secara pribadi antara kerjaan dan masalah hati (namanya juga manusia … ). Trus buat Anda kaum feminis, bersiaplah dongkol, karena tokoh Valentina ini terlihat lebih mirip cewek nakal daripada anak pejabat yang berkelas, begitu juga kelakuannya. Jadi buat para feminis yang selama ini puas dengan action smart girl-nya Angelina Jolie ato pun Jenifer Lopez … yaa patah hati aja deh, liat yang satu ini  :D

Yaa, gitulah intinya Transporter 3, it’s breakin the rules …

Ditulis dalam Cinema. 2 Komentar »

Dari Denias Hingga Laskar pelangi

Akhirnya, setelah sekian lama … kesampaian juga buat nonton Laskar Pelangi, film yang sempat bikin aku penasaran karena pemberitaannya yang ramai dan juga karena sudah diawali dengan kesuksesan novelnya. Sore kemarin, sepulang kerja, kebetulan ada tawaran tiket promo gratis ‘n gak pake ngantri … so ngapain enggak?? Jadilah aku kemaren pulang tenggo … alias begitu ‘teng’ bel pulang, langsung ‘go’. Bersama salah satu rekan kerja di kantor, aku langsung meluncur ke Studio 21 di Amplaz.

Tentang film Laskar Pelangi ini, sepintas langsung mengingatkan aku dengan film sejenis beberapa tahun lalu, ‘Denias, Senandung di Atas Awan’. Apalagi sama-sama mengangkat masalah keterbelakangan pendidikan di daerah terpencil Indonesia, keduanya juga based on true story, sama-sama ada latar belakang kesenjangan ekonomi dan pendidikan (Denias : Freeport sedangkan Laskar Pelangi : PN Timah) dan juga sama-sama dibintangi Matias Muchus, hehehe … kebetulan banget nggak sih?? Bedanya mungkin Denias nggak sampe ditonton presiden dan rombongan pejabat kayak Laskar Pelangi ini. But, walau pun begitu, Denias sempat memenangkan penghargaan film terbaik dalam Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2006, sekaligus juga sebagai Film Anak-anak Terbaik se-Asia Pasific, bahkan juga sempat masuk dalam seleksi Oscar 2008.

Denias atau pun Laskar Pelangi merupakan sebuah gambaran kenyataan dunia pendidikan Indonesia yang sudah merdeka selama lebih dari 63 tahun ini. Sama-sama bersetting daerah terpencil dengan kekayaan tambang yang berlimpah, namun penduduk aslinya justru tidak dapat mengecap kemakmuran dari kekayaan tambang tersebut. Kalau di film ‘Denias, Senandung di Atas Awan’ kita bisa melihat kesenjangan antara warga asli pribumi dan para pendatang yang bermukim di ‘zona nyaman’ perusahaan tambang asing, PT. Freeport. Sedangkan di film ‘Laskar Pelangi’ kita disuguhi pula sekat kesenjangan serupa dari warga masyarakat Gantong yang juga bersetting perusahaan tambang, PN. Timah.

Kemiskinan dan keterbatasan tidak boleh mematahkan semangat anak-anak Indonesia untuk mendapat pendidikan dan mengejar cita-citanya. Mungkin itulah tema dasar kedua film ini, baik Denias maupun Laskar Pelangi. Denias banyak mengangkat realita yang menyebabkan anak-anak di pedalaman Papua tidak dapat mengenyam pendidikan yang layak. Seolah ingin mematahkan asumsi masyarakat luas selama ini yang hanya melihat anak-anak pedalaman sebagai sekumpulan anak malas, liar dan bodoh. Ari Sihasale sendiri pernah mengungkapkan bahwa ide film Denias ini memang ingin menyuguhkan realita penyebab anak-anak di Papua belum dapat mengenyam pendidikan yang layak. “Bukan karena mereka malas, bukan karena otak mereka pas-pasan”, ungkap sang penggagas film Denias ini.

Lalu bagaimana dengan Laskar Pelangi? Menurutku film Laskar Pelangi ini lebih menitikberatkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Bahwa dunia pendidikan tidak semata berbicara mengenai penyampaian materi kurikulum, tapi juga lebih pada pendidikan akhlak dan budi pekerti setiap anak didik. Banyak wejangan bermanfaat dari para guru di Laskar pelangi ini, mulai dari bagaimana menjadi pemimpin yang baik, bagaimana belajar mencapai cita-cita, tentang kepercayaan diri, bahkan juga tentang arti sebuah pertemanan. Salah satu nasehat yang paling aku ingat dari Laskar Pelangi ini adalah nasehat yang disampaikan Pak Guru yang akrab dipanggil Pak Cik oleh Bu Muslimah, tentang menjadi orang yang lebih banyak memberi dalam kehidupan, jangan menjadi orang yang ingin lebih banyak menerima, … that’s so meaningful. Aku nggak tahu bagaimana dengan novelnya, karena aku sendiri belum sempat membacanya, but secara keseluruhan film Laskar Pelangi sebenarnya bagus, namun sayangnya kurang mampu menyajikan klimaks cerita dengan tajam. Amat disayangkan jika Riri Riza maupun Mira Lesmana kurang dapat menampilkan klimaks cerita ini dengan lebih maksimal, ataukah memang karena terlalu banyak sekuel kejadian yang ingin ditonjolkan dalam film ini??

Namun begitu, kita memang harus mengapresiasi keberanian para sineas kita dalam menggarap pangsa film seperti Denias maupun Laskar Pelangi ini. Film-film seperti inilah sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat kita. Film yang berbicara tentang realita hidup, mempunyai pesan-pesan moral, idealisme serta mengandung nilai edukasi yang tinggi. Bukan sekedar film yang consumer oriented, yang mengacu pada selera pasar dan rupiah yang dihasilkan semata.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Love, Potret Cinta dalam Kehidupan Manusia

Alasan utama saya menonton film ini adalah karena film ini merupakan karya terakhir Almarhum Sophan Sophiaan bersama istrinya, Widyawati. Pasangan artis legendaris ini termasuk dalam ’sedikit saja’ artis tanah air yang saya kagumi, tidak hanya karena totalitas mereka dalam setiap peran yang dimainkan, namun juga karena kekompakan dan keharmonisan mereka berdua baik dalam kehidupan layar kaca, maupun kehidupan nyata. Ide cerita film ini adalah mengangkat sebuah arti cinta dalam kehidupan manusia, dipandang dari berbagai sisi kehidupan. Mulai dari sisi anak muda, orang dewasa, hingga orang tua. Juga dari berbagai latar belakang kehidupan, dan status sosial. Seolah sang penulis cerita ingin membuktikan kepada penonton bahwa cinta bukanlah monopoli usia tertentu, latar belakang tertentu ataupun strata sosial tertentu.

Dengan manis film bertajuk ‘Love’ ini seolah ingin mengajak penonton memahami sifat cinta yang universal dan selalu abadi dalam kehidupan manusia yang fana. Film ini setidaknya mengangkat lima cerita cinta yang berbeda, yang sebenarnya tidak terhubung dalam satu dimensi secara langsung. Namun kelima cerita yang bergulir ini disatukan oleh satu tema dasar, yaitu kekuatan sebuah cinta. Sebenarnya ide pembuatan alur yang demikian ini sudah bukanlah hal yang baru, karena ide penyajian alur cerita seperti ini pernah dipakai oleh sebuah film barat (walapun saya lupa judulnya… )

Kisah yang pertama berlatar kehidupan anak muda yang secara tak sengaja bertemu di sebuah busway, rangkaian cerita yang terjadi kemudian membawa pada terjalinnya rasa cinta diantara keduanya, namun di saat perasaan tersebut diungkap, di saat itu pula diketahui bahwa Dinda  mengidap kanker ganas. Sanggupkah cinta di hati dua remaja ini bertahan hingga kematian datang menjemput. Semuanya terpapar pedih dalam cerita ini.

Kisah kedua adalah tentang perjalanan seorang gadis dari Sukabumi bernama Iin yang datang ke Jakarta untuk meminta pertanggungjawaban kekasihnya. Tiba di Jakarta, ternyata semua tidak semudah yang dibayangkan. Kekasihnya sudah pindah dari alamat kantor yang diberikan kepada Iin. Ia kemudian berniat mencari lewat selebaran, hal ini pulalah yang membawa ia bertemu dengan Rama, adik dari pemilik percetakan yang didatangi Iin. Iin dan Rama merupakan potret dari dua orang yang sama-sama pernah dikandaskan oleh cinta. Iin dikandaskan cinta karena mendapati kekasih yang dicarinya telah bersama wanita lain, sedangkan Rama dikecewakan oleh kekasihnya yang memilih menikah dengan kakak kandungnya sendiri. Keduanya merupakan  cermin dari sebuah usaha manusia untuk bangkit kembali dalam menemukan kebahagiaan dari apa yang disebut cinta. “Kalau kita nggak berusaha, kita nggak akan tau apa yang terjadi esok”, setidaknya kalimat ini menggambarkan betapa tabahnya mereka berdua untuk berusaha menemukan kebahagiaan, walau separah apapun ‘cinta’ pernah melukai hidup mereka.

Kisah ketiga merupakan cerita tentang bagaimana cinta dapat menopang seseorang untuk bangkit dan meraih impiannya, bahkan semustahil apa pun itu awalnya. Cinta dapat membuat seseorang melakukan apa pun untuk mewujudkan impian orang yang disayanginya, tak terkecuali impian untuk menjadi seorang penulis terkenal. Dikisahkan Tere yang merupakan seorang penulis novel terkenal mencoba mewujudkan impian kekasihnya, Erwin yang hanya berprofesi sebagai penjaga toko buku. Namun ketulusan Tere membantu sempat disalahartikan oleh Erwin, dan membuat keduanya sejenak menjauh. Namun akhirnya cinta pula yang kemudian menyatukan mereka dan membuat impian mereka terwujud.

Kisah berikutnya adalah cerita cinta dalam sebuah pernikahan yang dibalut dengan berbagai konflik. Cinta pasangan ini cukup kuat untuk mengatasi permasalahan anak mereka yang mengidap autis, namun di lain sisi cinta mereka ternyata tidak cukup kuat untuk saling setia dan memaafkan. Kisah keempat ini merupakan gambaran unhappy marriage walaupun mereka diberi kelimpahan materi oleh Tuhan. Satu-satunya cinta yang mereka miliki dan cukup kuat untuk membuat mereka bertahan adalah cinta mereka pada si buah hati. Namun cinta mereka sebagai pasangan suami istri tidak mampu bertahan menghadapi terpaan masalah yang muncul. Pernikahan tanpa cinta sama saja adalah sebuah ikatan tanpa tali.

Kisah yang terakhir adalah sebuah cerita cinta di usia senja. Kisah ini sekaligus membuktikan betapa berartinya cinta, bahkan untuk orang-orang yang sudah lanjut usia sekalipun. Kisah bertemunya seorang duda yang berprofesi sebagai guru, dengan seorang janda pemilik sebuah rumah makan dekat dengan sekolah tempat Pak Guru mengajar. Kisah sederhana ini diperankan dengan manis oleh pasangan legenda film nasional, Sophan Sopiaan (sebagai Pak Guru) dan Widyawati (sebagai Janda Pemilik Rumah Makan). Keduanya bertemu di saat telah ditinggalkan oleh pasangannya masing-masing oleh suatu takdir Tuhan yang disebut kematian. Pak Guru yang telah lanjut usia dan menderita penyakit alzheimer (sebuah penyakit yang menyerang ingatan manusia seiring dengan bertambahnya usia), secara tak sengaja bertemu dengan Bu Lestari, pemilik sebuah rumah makan, tempat Pak Guru dahulu biasa mereparasi jamnya. Perkenalan tersebut rupanya membekas di hati keduanya sehingga sanggup menumbuhkan cinta kasih diantara keduanya. Kenyataan tentang penyakit alzheimer yang diidap oleh Pak Guru pun dapat diterima dengan tulus oleh Bu Tari (Lestari), dan justru membuat Bu Tari lebih memperhatikan Pak Guru. For Better or Worst, till Death Do Us Part, setidaknya kalimat itu yang terlintas di benak saya. Cinta di sini memampukan manusia untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, baik dalam sehat, dan sakit, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam suka dan duka, hingga kematian memisahkan. That’s so deep …

Sesuai judulnya, tema cinta dalam setiap alur cerita film ‘Love’ ini terasa sangat kuat dan diperankan dengan sangat baik oleh aktor dan artis yang bermain di dalamnya. Pemakain setting dan latar belakang cerita yang berbeda-beda telah berhasil membawa penonton untuk memahami arti universal dalam makna cinta yang ingin dikisahkan.

Cinta diizinkan Tuhan untuk hadir di hati semua orang dengan berbagai macam wujudnya. Cinta memang dapat menjadi sebuah kenyataan yang paling manis, namun cinta juga dapat menjadi satu hal yang paling menyakitkan. Seperti kata bijak, orang yang paling dapat menyakiti kita adalah orang yang paling kita sayangi. Begitu pula cinta, kita tidak dapat hidup tanpanya, walaupun sesakit apa pun cinta telah melukai kita, namun tidak boleh membuat kita berhenti untuk berusaha menemukan kebahagiaan dalam sebuah cinta yang sejati. Rangkaian suka duka dalam cerita kehidupan setiap manusia telah diatur oleh Sang Pencipta dengan sedemikian rupa untuk mempertemukannya dengan sebuah makna cinta sejati dalam kehidupan.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »

Titanic, Film Tragedi Kemanusiaan

Bicara tentang film ‘Titanic’ berarti juga bicara tentang film drama yang telah berusia lebih dari 11 tahun. Yaa … jelas aja ingat, kan pertama kali nonton film ini waktu ‘my first date in senior high school’ gitu looh … :D

Sebenarnya latar belakang yang mendasari roman cerita antara Jack (Leonardo DiCaprio) dan Rose (Kate Winslet) ini diilhami dari true story tragedi tenggelamnya kapal Titanic setelah menabrak gunung es di Samudera Atlantik. Titanic sendiri menjadi simbol keangkuhan manusia, karena di awal cerita dikisahkan bahwa pembuatnya mengatakan Titanic sebagai kapal yang sempurna, “Bahkan Tuhan pun tak sanggup menenggelamkannya”, kata sang pembuat. Namun keangkuhan manusia inilah yang rupanya membawa bencana, rupanya Tuhan ingin berkata lain … lebih dari 1500 nyawa manusia harus membayar keangkuhan itu.

Hal lain yang menarik dari cerita ini adalah pada saat kita menyelami karakter dari setiap tokoh dalam film ini. Menarik melihat bagaimana orang tua Rose memaksakan kehendaknya dengan menjodohkan anaknya dengan seorang pemuda kaya raya. Sembilan tahun yang lalu pada saat pertama kali melihat film ini, saya hanya menilai ibu dari Rose ini sebagai sosok jahat yang memaksakan kehendak. Namun mungkin sekarang saya memandangnya dari sudut pandang lain. Orang tua mana yang mau melihat puteri semata wayangnya hidup tidak bahagia? Dan yang terjadi adalah orang tua mengukur kebahagiaan dari jaminan materi yang dapat diberikan kepada anaknya. Inilah realita hidup yang sebenarnya.

Di satu sisi sang pemuda kaya raya ternyata tidak mampu menaklukan hati sang putri tercinta. Kekayaan ternyata tidak membuat pemuda ini nampak sempurna di mata Rose. Dan hal ini nantinya terbukti pada saat klimaks film di mana setiap tokoh diperhadapkan dalam kondisi yang sangat sulit dan tak terduga, terbukti bahwa sang pemuda kaya ini tak lebih dari seorang oportunis yang mengandalkan segala yang dia miliki, bahkan orang lain untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Sedangkan di saat yang bersamaan Rose yang sudah putus asa karena perjodohan yang tak dikehendakinya, nyaris bunuh diri jika tidak bertemu dengan Jack. Jack Dawson, adalah pemuda miskin yang memenangkan tiket berlayar Titanic di meja judi. Namun begitu ketulusan hati Jack ternyata justru membuat Rose jatuh cinta. Sekuel yang kemudian sangat terkenal dari film ini adalah pada saat Rose hendak melompat dari buritan kapal, Jack seorang pemuda asing yang tidak dikenal Rose ini nekat akan ikut melompat dari buritan jika Rose bunuh diri. “If you jump, I’ll jump”, kata-kata ini kemudian sangat identik dengan film Titanic. Dan kata-kata ini pula yang kemudian terucap dari bibir Rose pada saat melompat dari sekoci penyelamat demi mendapatkan Jack kembali. Kalimat sederhana yang menggambarkan sebuah totalitas dalam mencintai (romantis bagetsss ….)

Ide roman yang diangkat dalam cerita ini berdasar pada sebuah cinta yang mampu mengatasi segala perbedaan diantara kedua tokoh utamanya. Sebenarnya sangat klise, namun terkemas dengan sangat manis dalam setiap pengorbanan yang dilakukan Jack untuk menyelamatkan Rose. Bagaimana Jack dengan segala daya upaya yang dia mampu berusaha membuat Rose bertahan dan selamat, bahkan walaupun harus mengorbankan nyawanya sendiri. “Memenangkan tiket itu merupakan hal terindah dalam hidupku, karena tiket itulah yang akhirnya mempertemukan kita berdua”, bahkan di saat paling susah pun Jack masih bisa mensyukuri apa yang dia lalui, walaupun tidak dapat berakhir semanis yang diinginkan. Namun di akhir film ini kita masih bisa melihat bagaimana sebuah cinta dapat terus abadi di hati seorang wanita.

Ditulis dalam Cinema. 1 Komentar »

Hancock, Drama Komedi tentang Kepahlawanan Manusia

Hancock, Si Manusia Super

Hancock, Si Manusia Super

Datang ke bioskop 15 menit setelah film dimulai bukanlah hal yang saya harapkan tentunya. Tapi itulah yang terjadi sewaktu saya menonton film ini. Namun walaupun terlambat 15 menit ternyata tidak membuat saya kesulitan mengikuti alur cerita Hancock, sang manusia super yang digambarkan dalam keadaan ‘sangat tidak super’ oleh Will Smith. Hal ini menunjukkan bahwa alur cerita Hancock ‘cukup’ ringan untuk diikuti.

Jika dalam berbagai kisah super hero lainnya sang pahlawan selalu digambarkan dalam kondisi berkelimpahan (Batman), dipuja dan dikagumi (Superman), atau seorang yang berkemampuan khusus dengan keadaan khusus (X-Man, Spiderman), maka jangan mengharapkan hal serupa juga terjadi pada Hancock. Seperti yang saya katakan tadi, sosok pahlawan kita kali ini digambarkan sebagai manusia dengan keadaan ‘sangat tidak super’. Tidak mempunyai tempat tinggal layak, kumal, acak-acakan, bahkan mirip gelandangan, plus masih ditambah temperamen yang kasar dan seenaknya, walaupun sebenarnya hatinya baik.

Jika dicermati dengan seksama, Hancock merupakan sosok ‘plesetan’ yang mewakili citra kebaikan yang ada dalam diri setiap manusia, walaupun seburuk apapun manusia itu kelihatannya. Mengapa saya sebut sebagai citra ‘plesetan’, karena di sini sang penulis cerita ingin menampilkan nilai kebaikan yang ada dalam diri manusia tersebut melalui sebuah karakter ‘manusia super’ yang sangat tidak sempurna seperti biasanya.

Dikisahkan Hancock sebagai seorang yang lupa ingatan (bukan gila … tapi lebih ke arah amnesia), karena ia sendiri tidak mengetahui dengan pasti siapa dia dan dari mana dia berasal. Namun begitu, dengan kekuatan super yang dia miliki, Hancock mempunyai niat baik dengan selalu menolong orang-orang yang dalam kesulitan, bahkan juga membantu aparat dalam menegakkan hukum dengan menghajar habis para gembong penjahat dan narkoba yang ada. Namun karena cara Hancock yang kasar dan urakan, membuat masyarakat bukannya menyayangi dia, namun justru membencinya, karena disetiap aksi yang dilakukannya, Hancock sering membuat banyak kerusakan fasilitas umum maupun pribadi milik masyarakat. Hal tersebut sekaligus merupakan sebuah parodi kehidupan yang sering kita temui dalam keseharian mengenai orang yang berniat baik namun menempuh cara yang kurang tepat sehingga niat baiknya justru dipandang sebaliknya oleh orang lain.

Hal lain yang bisa kita lihat dalam film ini adalah roman percintaan yang mengiringi kisah hidup Hancock, sang manusia super. Setegar-tegarnya seorang pahlawan, Hancock pun tak luput dari sebuah luka karena cinta dalam hidupnya. Dikisahkan, Hancock akhirnya bertemu dengan istrinya yang sebenarnya telah menemani hidupnya selama beratus-ratus tahun sebelumnya. Namun pada saat mereka bertemu, istrinya telah mendapatkan kebahagiaan dengan laki-laki lain, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Sedih, terbuang dan terkhianati, kurang lebih itulah perasaan Hancock ketika mengetahui bahwa istri sahabatnya ternyata adalah istrinya sendiri. Namun kenyataan bahwa jika mereka kembali bersama akan membuat sisi kekuatan mereka sebagai manusia super melemah dan kembali mengalami rentetan bencana karena orang-orang yang menginginkan kematian mereka berdua, membuat Hancock sadar bahwa cinta mereka tak harus memiliki satu sama lain. Klimaks film yang dibalut tajam dengan sisi pengorbanan Hancock untuk sang istri agar tetap hidup dan dapat meneruskan kehidupan dengan sahabatnya, membuat film ini terasa sangat manusiawi dan berbeda dengan film-film super hero lainnya. Kekuatan yang ditonjolkan sang penulis cerita dalam diri Hancock yang nampak dalam klimaks film ini adalah kekuatan hatinya yang mengalahkan semua ego dan keinginan pribadinya. Hancock lebih memilih untuk berkorban dan merelakan istrinya dapat hidup kembali serta menjalani kebahagiaan dengan sahabat karibnya sendiri. Sementara ia sendiri pergi menjauh dan menjalani lakonnya sebagai penolong masyarakat, tentunya dengan cara yang sudah lebih baik dari sebelumnya.

Secara keseluruhan Hancock merupakan sebuah film perpaduan action, komedi dan roman yang cukup ringan namun sarat makna kehidupan. Penokohan Hancock pun dibuat lebih membumi daripada tokoh-tokoh super hero yang pernah ada. Saya lebih suka memaknai film ini dengan dua hal, yaitu kepahlawanan dalam diri manusia dan kekuatan hati orang yang mencintai.

Ditulis dalam Cinema. Leave a Comment »