Membaca Majalah dari Google Book Search

google_book_searchGoogle sebagai leader dalam bidang pencarian data di Internet, sekarang meluncurkan layanan terbarunya, Google Book Search. Melalui Google Book Search, sang raksasa mesin pencarian ini mencoba melakukan digitalisasi dan indexing pada majalah dan buku-buku.

Berkaitan dengan proses pengumpulan data untuk Google Book Search ini, Google telah melakukan perjanjian kerjasama dengan sejumlah penerbit buku dan majalah. Hingga kini Google masih menjalankan proses scanning dan indexing terhadap ratusan ribu buku dan majalah. Adapun penerbit majalah yang telah menyepakati untuk bekerjasama dengan Google Book Search ini antara lain adalah Men’s Health, New York Magazine, Ebony, Popular Mechanics, Popular Science, dan masih banyak lagi. Umumnya penerbit-penerbit ini menyediakan majalah edisi lamanya untuk dimasukkan dalam Google Book Search. Contohnya penerbit Majalah Popular Science yang menyediakan content majalahnya dari Mei 1872 hingga Mei 2008 untuk dimasukkan Google Book Search.
Google Book Search ini mengelompokkan content majalah dalam setiap dekade (10 tahun).

Kekurangan dari membaca majalah melalui Google Book Search ini hanyalah karena edisi yang ditampilkan bukanlah edisi terbaru. Namun tetap saja bermanfaat jika hanya untuk sekedar memperluas pengetahuan ;) Menurut rencana, nantinya hasil pencarian dari Google Book Search ini juga akan ditampilkan pada hasil pencarian Search Engine Google reguler.

TouchScreen, Touch Everything

ini wujud Si 'Shuttle X50'

ini wujud Si 'Shuttle X50'

Mengikuti berita seputar CES (Consumer Electronic Show) di Las Vegas emang nggak ada matinya :D ’coz banyak banget product ’n teknologi baru diluncurkan di ajang bergengsi yang digelar tiap tahun ini … (sambil mimpi kapan bisa sampe ke sana)

Kebetulan pagi ini aku me-review beberapa seri touchscreen desktop dari berbagai vendor dunia seperti Hewlett Packard, ASUS, MSI dan Shuttle. Mmm, teknologi touchscreen sekarang memang lagi digemari masyarakat, khususnya sejak diluncurkannya Apple iPhone dua tahun yang lalu.

Mungkin ini merupakan gejala pergeseran era desktop komputer. Gimana enggak, touchscreen desktop yang sudah terlebih dahulu diperkenalkan Hewlett Packard pada Juni tahun lalu ini, sekarang mulai dibuat oleh berbagai vendor komputer lainnya dengan harga yang jauh lebih murah. Jika Hewlett Packard masih menjual dx9000 dengan harga cukup mahal, US$1400; jangan heran kalo lihat MSI Wind NetOn AE1901 16 inchi yang oleh MSI hanya dipasarkan di kisaran US$400 atau sekitar 4 jutaan. Padahal biasanya untuk membeli 1 perangkat desktop PC konvensional kita merogoh kantong 4 hingga 8 juta. Itupun kita harus repot dengan menata monitor, keyboard, CPU, beserta tetek bengeknya. Bandingkan aja dari sisi harga dan kepraktisan dengan seri desktop touchscreen yang All-in-One …

And now, touchscreen technology brought to PC technology ..
… it’s began touch everything around us …

Google Translate ??!!?

translatepleaseHari ini, hehe … di tengah rutinitas kayak biasanya, aku nyoba Google Translate (lagii ..) Emang aku udah tau layanan ini cukup lama. Waktu itu aku pernah coba buat bikin beberapa surat resmi … lumayan mujarab, bikin aku berpikir ulang mo test TOEFL ;)

But, beberapa waktu yang lalu aku agak terganggu dengan pernyataan salah seorang kawan yang bilang kalo sekarang bikin content/artikel berita tuh gampang aja, tinggal pake Google Translate, ambil berita dari luar negeri, jadi.. Mmmppfffhh, aku sama sekali nggak sependapat, karena setahuku Google Translate nggak bisa diandalkan untuk menerjemahkan berita dari bahasa pop. Yang aku maksud bahasa pop tuh bahasa asing (English-red) dalam kemasan sehari-hari … yang nggak formal … n grammarnya juga nggak tertib. Nah soal English yang pop ini orang Amerika jagonya, liat aja di film-film mereka … grammar mereka gak bisa diharapkan … apalagi filmnya ada orang negronya :D Paling tertib soal grammar neh orang Inggris sebagai si empunya bahasa, rata-rata mereka konsisten … Padahal sumber pemberitaan yang jadi source selama ini rata-rata dari media massa Amrik … karena itulah aku pengen buktiin sekali lagi tentang pendapat si kawan ini.

So, aku mulai eksperimenku dengan membuka Google Translate dan mencuplik salah satu artikel berita dari media asing, Amrik tentunya … dan hasilnya?? Hallaah … bacanya malah jadi pusing 700kali keliling. Mendingan dibaca dalam bahasa aslinya skalian… :D

Paradigma Transisi Sistem Informasi

Semakin berkembangnya Teknologi Informasi (Information Technology – IT) saat ini rupanya telah mendesak banyak perusahaan dalam semua bidang usaha untuk memperbaharui penerapan Sistem Informasinya. Sistem Informasi sendiri merupakan tulang punggung managerial dalam berjalannya sebuah bisnis. Maka tak pelak lagi penerapan Teknologi Informasi merupakan sebuah kebutuhan dalam dunia usaha.
 
Jika dahulu mungkin penerapan IT dalam bisnis cukup ditandai dengan pemakaian komputer atau komputerisasi, maka kini tak cukup hanya berhenti di situ saja. Bagaimana IT diterapkan dalam memperbaharui sebuah Sistem Informasi merupakan sebuah kebutuhan yang nantinya akan sangat menentukan langkah maju sebuah perusahaan. Namun tidak selamanya proses pembaharuan dan penerapan IT dalam sebuah Sistem Informasi perusahaan berjalan lancar.

Akan ada banyak kendala yang mungkin terjadi dalam penerapan ataupun pembaharuan sebuah system informasi, terlebih jika terdapat dua generasi berbeda dalam perusahaan tersebut. Generasi yang dimaksud di sini adalah generasi ‘konservatif’ dan generasi ‘muda’. Tanpa bermaksud mendiskreditkan generasi tua sebagai generasi konservatif disini, namun kenyataannya yang sering dijumpai adalah generasi ini entah secara sengaja ataupun tidak disengaja telah menghambat proses transisi system informasi dalam sebuah perusahaan. Ada beberapa faktor yang membuat generasi ini bersikap seperti ini, diantaranya adalah :

  • Faktor kebanggaan akan masa lalu.
    Faktor ini seringkali telah menjadi sebuah syndrome yang menghambat kemajuan. Jika sebuah generasi telah menganggap pernah mencapai masa kejayaannya, maka hal ini dapat menjadi sebuah boomerang untuk maju ke depan. Kebanggan yang berlebihan akan sebuah pencapaian masa lalu seringkali menjadi penyebab orang untuk berpuas diri dan berhenti bereksplorasi mengembangkan diri.
  • Cukup puas dengan pencapaian saat ini
    Tak ubahnya dengan syndrome kebanggan masa lalu, rasa puas terhadap pencapaian yang ada saat ini juga sama berbahayanya dengan faktor pertama tadi. Cukup puas dengan sistem yang berjalan, cukup puas dengan hasil yang dicapai, dan sederatan rasa ‘cukup puas’ lainnya merupakan sebuah alarm bahaya yang menandakan surutnya kemauan untuk mengembangkan diri. Pada saat manusia merasa telah maksimal, pada saat itu pula ia akan merasa sudah ‘selesai’ bereksplorasi dan mengembangkan diri. Padahal sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan ini adalah proses belajar seumur hidup.
  • ‘Malas’ untuk belajar hal baru.
    Generasi yang telah merasa banyak makan asam garam terkadang malas untuk belajar hal-hal baru, termasuk di dalamnya juga teknologi informasi. Banyak diantara para generasi tua ini menganggap IT sebagai konsumsi generasi muda saja, tanpa mereka sadari bahwa merekapun juga dapat mempergunakannya jika mau mempelajarinya. Kemajuan teknologi informasi, terutama dalam hal pengembangan Graphical User Interface (GUI) diharapkan dapat menjembatani sekaligus mengatasi permasalahan ini. Dengan penerapan GUI yang baik, diharapkan interaksi user dengan sistem yang baru akan berjalan lancar.
  • Memandang IT sebagai hal yang mahal untuk diterapkan tanpa mau mempertimbangkan efek jangka panjang benefit yang didapatkan.
    Dari beberapa faktor yang telah dipaparkan sebelumnya, faktor ini merupakan faktor yang paling berat untuk diatasi. Jika kebijakan sebuah perusahaan telah terlanjur memandang penerapan atau pengembangan IT dalam system informasinya sebagai sebuah pemborosan, tanpa mau menimbang efek jangka panjang benefit yang didapatkan, maka tidak akan ada celah lagi bagi pengembangan Sistem Informasi di perusahaan itu.

Dari beberapa hal tersebut di atas, sebenarnya masih banyak faktor lain yang mungkin belum terangkat. Dari pihak generasi ‘muda’ sendiri kadang juga tidak dapat mengkomunikasikan perbedaan sudut pandang ini dengan baik. Padahal jika penyebab terhambatnya pengembangan Sistem Informasi di sebuah perusahaan adalah salah satu faktor di atas, maka sebagai generasi ‘muda’ dalam dunia IT sudah sewajibnya kita tidak hanya mampu membuat sebuah sistem yang baik, namun juga mengkomunikasikan perbedaan paradigma sudut pandang ini dengan lebih baik. Di bidang IT saat ini, penerapan ilmu tidak hanya melulu pada soal analisis, development dan maintenance sebuah Sistem Informasi yang baik, tapi juga yang lebih penting di sini adalah bagaimana proses pengembangan sebuah sistem itu berjalan dan memenuhi harapan dan kebutuhan semua pihak yang ada dalam sebuah perusahaan.  

Ke Antariksa Bersama Google

Kemampuan Google untuk memandu kita menemukan tempat-tempat di dalam maupun luar negeri mungkin sudah tidak perlu kita ragukan lagi. Kemampuan Google Earth dalam tracing dan menemukan tempat-tempat di berbagai belahan penjuru dunia telah banyak dinikmati orang. Mulai dari sajian panorama indah pegunungan Austria hingga menjulangnya gedung-gedung pencakar langit di Manhattan dapat kita lihat dari Google Earth ini. Bahkan Google Earth ini juga bersedia untuk ‘mengantar’ Anda ke alamat yang Anda cari.

Dengan segala macam perkembangan teknologi dan tersedianya satelit untuk berbagai macam kebutuhan data, sebenarnya kehadiran layanan Google Earth atau Google Maps ini tidak begitu mengejutkan. Namun bagaimana jika kemudian yang dapat kita lihat dan nikmati bukan hanya apa yang ada di bumi, tapi juga apa yang ada di bulan ataupun planet lainnya? Yup, Google telah merambah antariksa. Bukan hanya ke bulan tapi juga ke planet ‘tetangga’, Mars.

Pada www.google.com/mars/, Google menyediakan peta planet Mars berdasarkan  format ketinggian (elevation), peta infrared maupun peta dalam kondisi sebenarnya (visible). Peta planet Mars ini juga dilengkapi beberapa link dan penanda peta yang jika di-click akan memunculkan balon informasi singkat mengenai tempat yang dimaksud.

Sedangkan untuk ‘pergi’ ke Bulan, kita dapat membuka www.google.com/moon/. Di sini kita dapat melakukan navigasi lengkap terhadap Bulan seperti halnya yang dapat kita lakukan pada Google Maps. Kita dapat melakukan penelusuran maupun perbesaran gambar terhadap tempat-tempat yang kita inginkan. Di sini kita juga dapat melakukan investigasi di tempat pendaratan Misi Apollo, mulai dari Misi Apollo 11, 12, 14, 15, 16 dan 17. Foto yang terbuka tersebut akan disertai dengan informasi seputar misi yang bersangkutan.

Jadi setelah berhasil ke antariksa, mau ke mana lagi Google nantinya? Jawabannya tinggal kita tunggu hasil dari penelitian Google Labs berikutnya.

                                                                                           

Information Technology for The Future

Information Technology, dalam dasa warsa ini IT telah berkembang pesat. Jauh lebih cepat dari saat pertama kali pengembangannya dilakukan. Namun yang tak pernah terduga dari perkembangan bidang ‘Information Technology’ ini adalah pengaruhnya terhadap berbagai bidang kehidupan manusia.

Mungkin sepuluh tahun yang lalu seorang pasien belum dapat membayangkan akan dapat berkonsultasi tentang penyakitnya kepada komputer. Tapi coba lihat yang telah dilakukan Google dengan webmd.com-nya. Bahkan disediakan symptom checker untuk menganalisa keluhan pasien. Di website ini Google menyediakan berbagai ‘poliklinik’ layaknya sebuah rumah sakit, mulai dari yang hanya menangani batuk dan flu, hingga yang menangani kanker, stroke, parkinson. Bukan main yang disediakan Google di sini untuk bidang kesehatan.

Mungkin itu baru dari bidang kesehatan, belum lagi bidang yang lagi. Mulai dari tracking pemetaan, hingga pencarian alamat, hingga pendidikan, semua dapat diakses dengan mudah dengan pengembangan IT yang dinamakan Internet. Internet dengan berjuta-juta website di dalamnya telah berlomba untuk menjadi penyedia informasi paling lengkap di jagad ini. Jangan lupa pula bahwa tak selamanya informasi yang baik saja tersedia di ‘dunia maya’ ini. Banyak hal negatif yang juga tersedia di Internet, sehingga menuntut kesadaran kita untuk menyaringnya.

Lalu bagaimana dengan penggunaan IT di masa depan? Jika dilihat dari pengembangan yang ada sekarang pun kita pasti setuju bahwa pengembangan IT pastilah akan makin kompleks menguasai berbagai aspek kehidupan. Tentunya Anda masih ingat dampak terputusnya kabel backbone bawah laut yang otomatis langsung berdampak pada operasional berbagai perusahaan yang ada mulai dari Timur Tengah hingga Asia. Sedemikian hebatnya dampak tersebut sehingga sempat ‘melumpuhkan’ kinerja berbagai perusahaan skala besar maupun kecil yang bergantung padanya. Tak pelak lagi, memang Teknologi Informasi telah sedemikian kuatnya menguasai berbagai bidang kehidupan manusia.  Namun kita sebagai manusia yang menciptakan dan mengendalikannya dituntut untuk tetap berakal sehat dalam mempergunakan apa yang telah diijinkan Tuhan untuk kita temukan dan manfaatkan ini.