Prince of My Dreams

Pada waktu kita kecil,
Setiap kita mungkin pernah punya satu sosok pangeran tampan berkuda yang kita impikan akan datang menjemput kita … ;)
Dengan akhir cerita bahagia selamanya tentunya … happily ever after

Sosok pangeran tampan ini pun terus terbawa dalam memory kita
Seiring dengan berjalannya waktu, realita telah membentuk satu sosok pangeran itu dalam kehidupan kita …

Yang membedakannya adalah, pangeran yang kini ada dalam memory kita bukanlah sosok pangeran berkuda lagi … tapi sudah berganti menjadi sosok pangeran yang kita harapkan bisa membuat kita nyaman … dan bahagia selamanya …

Waktu yang lama berputar telah membuat reka ulang sosok ideal pangeran dalam benak kita

Bukan lagi pangeran berkuda saja,
Tapi pangeran yang cakap dan cerdas
Pangeran yang bijaksana, penuh perhatian juga peduli kepada sesama (kalo di dongeng yaa pangeran yang adil dan bijaksana terhadap rakyatnya gituuu …)
Mungkin pangeran yang sanggup membawakan bintang di langit untuk hadiah (wuiihh … ck, ck, ck …) ato mungkin lebih realistisnya Toblerone putih tiap kali kita ngambek …
Mungkin pangeran yang bisa membantu ngerjain tugas akuntansi karena aku sering bolos mata pelajaran ini (mungkin yang ini pangeran sewaktu SMA … xixixi :D )
Mungkin pangeran yang menemani aku nyanyi dengan dentingan gitarnya (ehemm … tapi bukan Glenn Fredly looh … tapi kalo Ello yaa mau bangets … )
Mungkin pangeran yang nggak segan-segan dan nggak gengsi buat diajak naek gunung ato menikmati lezatnya bakmi jawa di pinggir jalan (????!!??)
Pangeran yang setia, selalu menepati janji (bukan janji Pramuka)
Pangeran yang selalu ada buat kita
Menemani hari-hari kita
Pangeran yang sanggup membuat saat terburuk kita menjadi saat yang terbaik …

that’s all about Prince of My Dreams … xixixi :D
(let your mind go for a walk … kata salah satu iklan di TV)

My Everyday ….

Kemarin ada seseorang yang menanyakan ke aku, apakah aku membaca kitab suci setiap hari. Hmm, sebenernya aku malas menjawab pertanyaan seperti ini. Pertanyaannya sendiri sudah membuat aku bertanya balik, apa kepentingan dia untuk mengetahui apakah aku membaca kitab suci setiap hari atau tidak. But, aku menghormati pertanyaannya, terlepas dari apa pun motivasi pertanyaannya ;)

Maka jadilah aku memberikan jawaban yang mungkin tidak disukainya :D  Aku menjawab jujur bahwa tidak setiap hari secara rutin aku membaca kitab suci. Namun itu sama sekali tidak pernah mengurangi pemahamanku tentang kasih Tuhan itu sendiri. Dan aku juga sangat yakin bahwa hal tersebut tidak akan pernah mengurangi ataupun menyurutkan kasih Tuhan kepadaku. Terlalu kekanak-kanakan kalau kita begitu saja membuat tolok ukur batasan kasih Tuhan secara manusiawi. Memangnya siapa kita??

Aku sendiri sangat yakin bahwa kadar keimanan seseorang sama sekali tidak diukur dari seberapa sering dia membaca kitab suci, namun sejauh mana dia mengerti kehendak Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan dia sehari-hari. Aku bilang pada orang itu bahwa sesungguhnya hidup kitalah kitab itu, kitab terbuka yang dibaca setiap orang dan yang dibaca Tuhan setiap hari. Memang kitab suci sangat menolong kita untuk memahami kehendak Tuhan, namun ada banyak jalan mempelajari kitab suci selain membacanya secara rutin setiap hari.

Tentang membaca kitab suci sendiri, sebenarnya aku sudah melakukannya sejak kecil, bahkan sejak aku bisa membaca. Almarhum Eyang Kakung telah membuat aku mengenal kitab suci seperti sebuah buku cerita tentang sebuah cerita kehidupan yang sangat panjang. Hampir semua isi kitab suci ini terekam dengan manis dalam memory ingatanku, semanis saat mengingat bagaimana Almarhum Eyang Kakung mengajarkannya. Waktu berputar cepat, banyak hal yang aku pelajari dari kehidupan yang membentuk satu pola hubungan antara aku dengan Sang Pencipta. Sungguhpun manusia selalu berusaha membuat rumusan hubungan yang baku dengan Tuhannya, namun pada akhirnya Tuhan selalu akan menyapa kita secara pribadi. Dan menurutku justru hal itulah yang paling indah.

Tuhan selalu mempunyai caraNya sendiri untuk menyapa dan bertemu dengan setiap umatNya. Kita sendiri sebagai manusia tidak berhak menghakimi ataupun menilai kadar keimanan seseorang. Satu-satunya yang mengerti seberapa jauh iman kita hanyalah Tuhan. Kita sebagai sesama manusia sama sekali tidak punya hak ataupun kewenangan menghakimi keimanan seseorang.

Kerennya Liat Pesawat Lewat

boeing-garuda-indonesiaSore kemaren selepas jam kerja, rame-rame sama temen-temen kantor jenguk suami salah seorang rekan yang sakit. Ke tempat yang dituju serasa tidak asing lagi dengan daerah ini. Sebuah perumahan AURI deket bandara. Hmm, aku inget banget neh … di daerah sekitar ada sebuah lapangan yang menghadap tepat di deket landasan pacu pesawat. Jadinya setiap pesawat mo mendarat ato mo terbang tuh lewat tepat di atas kepala kita.

Hehe, nggak salah lagi neh … dulu waktu SD aku sering main ke daerah ini sama temen-temen (tentu tanpa sepengetahuan nyokap, soale ini tempat jauh bangeet). Dulu kita suka banget liat burung besi raksasa yang biasa turun naek tepat di atas kepala kita (busyeet, norak banget yah)… sensasinya melebihi naek pesawatnya sendiri, hehe ..

But jangan salah, sekarang aku berpikir justru itu keren banget (hehe, ternyata masih norak juga sampe sekarang). Nah, ada bagian yang lebih asyik lagi tuh … biar kayak di video clip gitu tinggal bawa mobil, trus kita duduk di atas kap mobil, menghadap atas, pas pesawat lewat … hahahaha :D ato masih kurang mirip lagi, tinggal inget-inget clip-nya Faith Hill, hihihi ;p asal jangan salah inget pas waktu kecil susah makan, tiap suap nunggu pesawat lewat dulu … (gubraakkk!! … kapan seleseinya??) but, nggak papa, walo tiap suap nunggu pesawat lewat … buktinya waktu kecil aku gendut juga kok, hehe ;p

Memancing Ikan??!?

sunset-fishermanMemancing ikan untuk kebanyakan orang merupakan suatu hobby yang mengasyikkan. Memberikan umpan seenak-enaknya kepada ikan hingga ikan tersebut tergiur dan memakannya, but yang pasti ikan itu akan terkena mata kailnya. But ironisnya, begitu menyadari hasil pancingannya ‘mengena’, maka dengan bangganya ‘si pemancing’ akan melepaskannya kembali tanpa mempedulikan bahwa ia sudah melukai ikan itu :( hiks …

Hmm, sebenarnya in bukan tentang hobby memancing secara harafiah. Tapi cerita itu dipakai oleh salah seorang teman tentang bagaimana seorang laki-laki yang ‘hobby memancing’ telah melukainya (ironis …). Waktu membaca notes ini aku sempat teringat sesuatu (atau seseorang?)  Hmm, memang sangat kejam hobby yang satu ini. Mungkin hobby paling kejam di atas dunia, hehe :) Tapi entah kenapa, ternyata banyak juga laki-laki yang seakan bangga dengan ‘hobby’ seperti ini. Seolah tidak mempedulikan bagaimana nanti lukanya ‘ikan’ yang dipancingnya hanya untuk dilepaskan kembali.

Menurut temanku, dengan melepaskan kembali ikan yang sudah terluka ini, si pemancing ini tak mau menghargai pengorbanan si ikan. Paling nggak dengan memasak dan menggorengnya, pengorbanan ikan ini tidak sia-sia. Setidaknya ikan ini bisa memberi ‘arti’ dengan menghilangkan rasa lapar yang memakannya. Yang lebih parah lagi, hobby ini ternyata tidak hanya menghinggapi mereka yang masih ‘pure’ lajang, banyak ‘pelaku’ diantaranya juga sudah mempunyai pasangan, baik dalam sebuah relationship seperti pacaran ataupun pernikahan.

Entah di mana arti kesetiaan bagi mereka, seolah kesetiaan hanyalah sebuah kebodohan bagi mereka. Dulu aku pernah bilang pada salah seorang temanku yang suka ganti-ganti cewek, kehormatan tertinggi seorang laki-laki terletak pada kesetiaannya. Kesetiaan pada Tuhan, kesetiaan pada keluarga, kesetiaan pada pasangan, kesetiaan pada pekerjaan, dan seterusnya. Hehe, dia sempet nyeletuk, “Wah, gue gak punya kehormatan dong” :D But, sejak itu dia nggak pernah lagi ganti-ganti cewek. Dia bilang, “I’ll wait for the last one”.

Pesan moralnya sebenernya cukup dalam. Aku sih lebih suka menuangkannya dalam satu paragraf sederhana aja seperti ini …

Jangan pernah memberikan senyummu, jika esok yang kamu berikan hanyalah air mata
Jangan pernah menggenggam tangannya, jika suatu saat hanya akan kamu lepaskan
Jangan pernah memberi indah janjimu, bila hanya ingkar yang dapat kamu penuhi
Dan jangan pernah kamu masuki hidupnya, jika hanya akan kamu tinggalkan suatu saat nanti

(hmmm … )

Iklan TV & Marketing

Iseng mengamati beberapa commercial break alias iklan di TV ternyata asyik juga. Maklum, aku termasuk orang yang jarang nongkrongin TV dalam jangka waktu relatif lama. Paling cuman nongkrong di depan TV buat update berita sebentar, sama beberapa acara yang emang aku suka, kayak MTV Trick It Out, Oprah Winfrey Show, Kick Andy sama acaranya Mario Teguh, lainnya itu kayaknya jarang banget. So, kali ini aku sengaja bukan pelototin acara TV-nya aja, tapi deretan iklannya juga.

Maksudnya sih mo belajar sedikit marketing praktis di sini, maklum aku sama sekali nggak ada background marketing, so sejak gabung di Departemen yang satu ini, aku jadi ngerasa jadi wajib untuk setiap saat belajar. Bidang yang satu ini ternyata sangat dinamis. Salah satu yang selalu pengen aku pelajari tuh tentang ‘teknik menjual’.

Iklan TV or commercial break, kadang kita sepelekan begitu aja. Padahal cara promo yang satu ini menghabiskan dana yang sama sekali tidak sedikit dalam pembuatannya. Bahkan sekarang nggak hanya product barang dan jasa aja yang memakai iklan TV untuk promosinya, namun juga instansi pemerintah dan partai politik memanfaatkan iklan TV ini untuk berbagai macam kampanye-nya. Salah satu parpol dengan iklan TV paling banyak dibahas belakangan ini adalah Partai Gerindra. New Comer yang satu ini ternyata cukup matang dalam ide, pembuatan konsep hingga eksekusinya. Salah satu sisi positif dari iklan Gerindra ini adalah mindset positif dan aspek harapan yang diberikannya. Bukan bermaksud memperbandingkan, namun Golkar yang biasa dikenal dengan kekuatan konsolidasinya mungkin harus mulai waspada, karena Gerindra sebagai ‘pemain baru’ ternyata juga telah cukup matang memainkan aspek konsolidasinya. Hal ini dibuktikan dengan manis saat Prabowo Subianto yang merupakan ‘calon’ dari partai ini telah terlebih dahulu berkampanye menyentuh akar rumput melalui HKTI dan KTNA. Memang bukan kampanye parpol yang waktu itu disajikan, namun persamaan konsep iklan dan penggarapan yang sejenis dengan iklan partai Gerindra sendiri telah membuat sosok Prabowo akhirnya terlebih dahulu lekat sebelum masa kampanye reguler dimulai. Itulah mengapa aku sebut ide dan konsep partai ini cukup matang.Mungkin partai lain harus sedikit lebih belajar untuk menyajikan kampanye yang lebih positif dan sehat, skalian untuk teraphy memperbaiki sikap mental masyarakat Indonesia. Karena yang agak mengecewakan dari setiap kampanye partai, biasanya bersifat black campaign (menjelek-jelekkan atau menyindir pihak lain) atau mengangkat tema masalah dan kesusahan yang sedang dihadapi masyarakat luas. Aku kurang suka yang seperti ini, karena seolah menampilkan citra bangsa Indonesia yang suka berkeluh kesah dan menyalahkan pihak lain … sama sekali tidak membangun sikap mental masyarakat.

Selain iklan partai, iklan lain yang cukup menarik perhatianku hari ini adalah iklan Sampoerna Hijau, seri ‘Teman Tak Bisa Dibeli’. Iklannya sangat sederhana, dengan pesan yang mudah dipahami, namun tetap lucu dan menarik. Iklan favoritku yang lain adalah iklan Pepsodent yang seri anak kecil. Iklan ini bersifat edukasi, tentang mengajarkan anak kecil untuk menggosok gigi sebelum tidur. Iklan yang manis, mengingatkan kita tentang kebiasaan baik yang ditanamkan orang tua sejak dini merupakan bekal yang sangat berharga di masa depan.

Semua media advertising mungkin bisa membuat iklan yang menarik, namun hanya beberapa diantaranya ‘baik’. Kenapa bisa begitu? Karena rata-rata pembuat iklan lebih mengutamakan selera pasar daripada pembangunan moral masyarakat.

Solo About …

Jalan-jalan di Solo nggak pernah lengkap kalo nggak mampir ke Timlo Pak Sastro. Yups, aku emang suka banget sama makanan namanya Timlo ini. So, seabis dari tempat Eyang, langsung aja aku minta ijin Papa Mama buat langsung meluncur ke Timlo Pak Sastro di deket Pasar Gedhe. Walaupun di Solo ini ada segudang makanan enak seperti di Steak Harjo, Siomay Kusumasari, Roti Orion, Salad Solo sampe Tengkleng yang biasa buka di Pasar Klewer kalo menjelang sore, tapi tetep aja namanya Timlo ini nggak boleh kelewatan. Ada 2 tempat makan Timlo yang aku paling suka, kalo di Solo yaa di Timlo Pak Sastro ini, sedangkan kalo di Klaten Timlo Bu Sum … both, so delicious … nyum, nyum :)

Sepulang dari urusan kuliner, dalam perjalanan pulang aku perhatikan ada yang beda dari lalu lintas di Solo ini. Entah perasaanku aja yang kekenyangan trus mata jadi berat, ato emang aku ngerasa lalu lintas di Solo tuh gak sehirukpikuk di Yogya. Kayaknya orang-orang tuh jalannya slowly but sure …. jadi aneh sendiri dengan cara nyetirku yang acak-acakan. Lebih aneh lagi kalo diperhatikan tuh lampu traffic light-nya. Yaa ampyuun … apa gak kebalik neh?? abis merah mo ke ijo tuh malah kuning dulu. So urutannya kalo dari berhenti (lampu merah), trus ganti kuning dulu baru kemudian ke hijau. Nah dari hijau ini nanti nggak ke kuning dulu, tapi langsung merah. Kalo di Yogya kan dari merah langsung ke hijau, kuning cuman sesaat sebelum berhenti karena merah.

Aku sempet berpikir-pikir, kenapa yaah?? trus aku bikin satu kesimpulan non-valid sendiri :D Mungkin karena orang Solo tuh suabaar2, di jalan gak byayakan (=superlativenya cepet2 tapi nubruk2) kayak orang Yogya, so mereka gak perlu lampu kuning untuk mengingatkan berhenti ke lampu merah (hehe, tanpa bermaksud menghakimi salah satu pihak leluhur tentunya). Sebaliknya mereka butuh lampu kuning buat mengingatkan mereka bahwa sebentar lagi lampu hijau alias jalan … biar mereka inget buat siap2 nginjak gas. Kenapa aku bilang gitu, karena di Solo aku nggak bisa kejar lampu hijau (walaupun dalam analisa singkatku menyatakan pasti bisa), tapi kenyataannya gak kekejar karena yang di depan2ku tuh rasanya jalan 10km/jam aja …. wuiiih, suabaaar …..

Listen More Than You Speak

Dengerin aja deh ...

Dengerin aja deh ...

I very rarely say something I didn’t already know, but I often hear other people say things and think …

Pernah nggak terpikir oleh kita bahwa ternyata banyak banget hal yang bisa kita pelajari dari mendengar. Mendengar tuh nggak ubahnya adalah sebuah proses belajar pasif yang paling aktif. Lho, kok bisa? Ya bisa dunk … dengan mendengar, nggak ubahnya kita tuh jadi kayak spons yang diletakkan di suatu genangan air. Spons itu akan diam di situ (pasif) tapi dia akan menyerap banyak (aktif kan?!?).

Begitu juga dengan kita, pada saat kita mulai mau mendengar orang lain di sekitar kita, entah dia lebih pintar atau bodoh sekalipun, sebenarnya kita sedang belajar. Kalo dia lebih pintar dari kita, berarti kita sedang belajar buat upgrade capability … hehe :D But, kalo pun ternyata dia nggak lebih dari kita, sekonyol apa pun pikirannya, dengarkan aja, coba pahami kenapa dia bisa berpikir seperti itu … dengan begitu kita sekaligus sedang belajar untuk lebih bijaksana dan bertoleransi.

Siapa pun kita hari ini adalah hasil dari siapa pun orang yang pernah kita jumpai dan bersama kita sebelumnya. Cara berpikir kita pun sebenarnya juga merupakan hasil dari apa yang pernah kita alami sebelumnya. Karena dengan cara itulah manusia sebenarnya sedang belajar … (lagi bijaksana neh)

MTV Trick It Out, The Power of Creativity

Hari minggu, libur, waktunya bersantai-santai. Rencana mau nonton Laskar Pelangi, but keabisan tiket, so apa boleh buat … bermalas-malasan di rumah aja, mengingat beberapa hari ini Yogya udah mulai dipadati pemudik dari berbagai kota yang akan berlebaran di Kota Gudeg ini. Kakak, adek plus sodara-sodara laennya juga baru nyampe besok … so tugas sebagai pemandu wisata plus driver juga baru dimulai besok …. mendingan sekarang rest and relax di rumah aja.

Nonton TV … wah, akhir-akhir ini agak jarang nonton TV, kebetulan abis nonton MTV Pimp My Ride, langsung disambung dengan MTV Trick It Out, hehe … acara yang kayak gini neh yang aku paling doyan :) Mengikuti bagaimana 2 team bertanding untuk menyulap 2 buah mobil lama bertype sama menjadi 2 mobil baru yang berbeda bukanlah hal mudah. Masing-masing dari kedua team berupaya mengerahkan ide-ide kreatif mereka masing-masing dan menggarapnya dalam wujud mobil.

Team AudioVision mengambil tema yang cukup menarik, yaitu jet tempur. Aku sempat berpikir, apa saja dari mobil Civic tahun 1996 yang bisa disulap untuk mewujudkan tema jet tempur? Ternyata yang menjadi sasaran mereka untuk mengangkat tema ini adalah subwoofer. Mereka menyulap subwoofer mobil ini menjadi ‘rudal tempur’, disamping juga menambahkan pelontar hidrolik pada kedua sisi pintu ‘scissor’-nya, sehingga mengesankan perangkat ini sebagai senjata ‘penembak’ rahasia. Great idea! Selain kedua hal tersebut, tidak banyak hal istimewa yang ditampilkan, selain detail kecil pada penutup tangki bensin, dan perubahan yang dilakukan pada panel-panel dashboard, sehingga menyerupai interior sebuah jet tempur.

Sedangkan team lawan, Motor FX, mengangkat tema yang agak tak terduga, plus juga kurang unik menurutku, yaitu tema mobil seorang (maaf..) Germo. Entah aku yang agak ‘kuper’ sehingga tidak tahu apa keistimewaan ide ini, ato memang ide mereka yang agak aneh? Ide kreatif apa yang ingin ditonjolkan jika seseorang berprofesi sebagai Germo? Ternyata ide mereka kurang lebih berkisar pada ‘kemewahan’ dunia malam. Hmm … jadi kurang lebih mungkin mereka ingin menampilkan ‘diskotik berjalan’ gitu yah? Wah, kalo gitu aja mungkin bengkel di Bandung juga bisa yah, hehehe :D Salah satu yang mereka tonjolkan adalah penggarapan cat, pemakaian velg dan pemasangan layar-layar LCD dalam interior mobil, termasuk di steer dan di ceiling. Selain itu Motor FX juga tampak memaksimalkan usaha mereka pada penggarapan interior, dengan pemasangan carpet bulu hingga doortrim kulit ular.

Setelah penggarapan selama 14 hari (cepet yaa … ) waktu penilaian pun tiba. Seperti biasa, RJ mengamati setiap detail yang ada pada setiap mobil. Menurutnya mobil garapan AudioVision mempunyai ide tema yang sangat kreatif dan menarik, walaupun dalam penggarapannya masih ditemusi beberapa bagian kecil yang kurang ‘mulus’ finishing-nya. Sedangkan Motor FX mendapat pujian atas ketelitian mereka menggarap setiap detail mobil, namun dari sisi tema yang ditampilkan, tema mereka kurang kuat sehingga juga kurang membawa kesan pada orang-orang yang melihatnya. Lalu, siapa akhirnya yang memenangkan contest kali ini? Sesuai tebakanku (mungkin juga RJ berpikir sama dengan aku, hehe ..), pemenangnya adalah AudioVision. Dari sisi pemikiranku, yang membuat AudioVision pantas memenangkan contest tersebut adalah ide kreatif mereka yang mengangkat tema ‘jet tempur’ untuk sebuah mobil sedan. Walaupun mungkin detail pengerjaan mereka belum semulus Motor FX, toh nantinya seiring dengan berjalannya waktu, kesempurnaan detail pun akan mereka dapatkan. Seperti slogan Toyota, ‘Practice make Perfect’. Begitu pun detail kerajinan, kesempurnaan, pasti akhirnya akan mengikuti seiring dengan semakin tingginya ‘jam terbang’. Yang paling mahal dalam segala hal adalah sebuah ide dan kreativitas. Makanya ada yang bilang, “Ide itu separuh dari eksekusi”. Mmm … berlebihan nggak sih??

RUU Pornografi, Bukti Kemerosotan Moral Bangsa?

Pertama kali mendengar bahwa pemerintah sedang ‘menggodok’ RUU Pornografi, maka yang terlintas di benak saya adalah betapa parahnya kondisi moral bangsa saat ini. Bukannya saya tidak mau melihat maksud baik pemerintah dalam RUU ini, namun yang saya pertanyakan di sini adalah kemana perginya moral bangsa Indonesia yang terkenal sebagai negara agamis dengan budaya timurnya yang selalu diagung-agungkan? Apakah memang sudah separah itu, sehingga bangsa ini memerlukan ‘kacamata kuda’ yang membatasi dan mengarahkan masyarakatnya ‘HANYA’ agar jangan sampai berpikir atau berbuat ‘kotor’. Ya ampun, sekarang moral manusia pun sudah harus jadi urusan pemerintah … Bahkan bila perlu, dalam salah satu pasal yang saya baca, pemerintah mengijinkan warga masyarakat untuk menjadi ‘polisi moral’ bagi orang lain. Sungguh sebuah ironi bagi sebuah negara agamis seperti Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang ‘mengharuskan’ semua warga negaranya untuk beragama, dan saya setuju dengan maksud baik yang terkandung di dalamnya. Terlepas dari apapun agama yang dianut, tapi saya mengamini bahwa agama apapun merupakan ‘jalan’ kita untuk senantiasa terhubung dengan Tuhan, Sang Pencipta Semesta. Entah bagaimana halnya dengan orang lain atau pemerintah, namun saya menempatkan Tuhan pada posisi tertinggi dalam kehidupan ini, jauh lebih tinggi dari posisi orang tua, pemerintah atau presiden sekalipun. Agama sendiri sebagai ‘jalan’ kita untuk beribadah kepada Tuhan telah mengatur segala sendi kehidupan kita agar senantiasa sejalan dengan kehendak Tuhan, termasuk di dalamnya juga mengatur mengenai moralitas. Dari dua agama yang pernah saya pelajari (Islam dan Kristen), saya bisa memastikan bahwa agama apapun pada prinsipnya selalu mengajarkan hal yang baik bagi umatnya. Oleh karenanya, semua bangsa di dunia ini pun akhirnya menyetujui bahwa agama dan kebebasan beribadah sendiri menjadi hak yang paling azasi dan hakiki yang dimiliki seorang manusia dalam hidupnya, karena semua bangsa pun mengakui Tuhan sebagai pemegang kekuasaan dan otoritas tertinggi di alam raya ini.

Dengan kata lain, yang ingin saya katakan adalah, asal kita masing-masing menjalankan agama dan beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, itu sudah lebih dari cukup jika hanya untuk menghindarkan diri dari segala masalah terkait dengan pornografi. Karena Tuhan sendiri telah mengatur semua hal mengenai berbagai masalah dalam kehidupan manusia di setiap firmanNYA, termasuk juga masalah ‘kecil’ bernama pornografi.

Lalu, apa hubungannya dengan RUU Pornografi? Saya melihat RUU Pornografi ini sebagai kesombongan dari pihak yang sudah merasa sangat tahu bagaimana menimbang baik dan buruk perilaku sesamanya. Dengan kata lain, mereka seakan sudah bisa menjadi ‘tuhan’ bagi sesamanya. Menurut saya, RUU ini mengijinkan setiap orang untuk menimbang moralitas dari kacamata individu mereka masing-masing, sehingga semua boleh menjadi ‘polisi moral’ bagi yang lain. Jadi jangan heran jika nanti akan marak penghakiman massal, alias main hakim sendiri seperti yang sekarang telah mulai dilakukan oleh beberapa ormas yang ada.

Dan yang lebih membuat saya berang atas RUU ini adalah, bagaimana pemerintah menempatkan wanita sebagai obyek dalam pasal-pasalnya. Yang aneh dari RUU ini adalah, bagaimana wanita banyak dieksploitasi sebagai obyek penyebab timbulnya masalah, seolah wanita mempunyai andil paling besar dalam kehancuran moral sebuah bangsa. Namun lebih parahnya, seakan-akan dikatakan RUU ini untuk melindungi wanita, tapi dari arah mananya? Karena justru sebaliknya, hampir segala hal yang terkait dengan wanita, bisa menjadi hal yang salah dalam RUU ini.

Secara sederhana saja saya membayangkan, bisa-bisa jika wanita memakai baju yang menurut orang lain ‘salah’ saja, bisa langsung masuk penjara atau kena penghakiman massal donk …. waduuh, kok sebegitunya yah? Apakah ini merupakan salah satu bukti arogansi budaya patriakat kita? Ataukah memang bangsa ini sudah merasa pantas menjadi ‘tuhan’ bagi sesamanya??