Kisah ini diceritakan oleh seorang pendeta dari Filipina. Tentang doa seorang anak kecil sederhana yang sering ia temui datang ke gereja tempat ia melayani. Setiap sepulang sekolah anak kecil ini selalu menyempatkan diri mendatangi gereja. Ia selalu memilih baris terdepan di dekat altar sebelum kemudian ia berlutut dan berdoa. Hari itu sang pendeta sengaja ingin menyapa anak ini.
“Nak, kenapa kamu selalu datang kemari?”, tanya pendeta ini. “Aku hanya ingin bertemu Sahabatku Bapa”, katanya polos. Pendeta ini kemudian tersenyum dan mempersilakan anak ini menemui Sahabatnya. Namun diam-diam dari balik tembok, pendeta ini mendengarkan ‘cerita’ anak ini pada Sahabatnya.
Dan inilah cerita anak ini kepada Sahabatnya:
“Tuhan Yesus, Engkau adalah sahabatku … jadi pastilah Engkau mau mendengarkan ceritaku hari ini. Tuhan, hari ini aku ada ulangan matematika di sekolah. Soalnya susah sekali. Aku berusaha mengerjakan tapi tidak bisa. Aku tidak yakin apakah aku bisa mendapat nilai yang baik. Tapi walaupun susah, aku tidak mencontek. Tuhan, aku mengerjakannya sendiri, walaupun teman-temanku banyak yang mencontek”, tuturnya di awal doa. Kemudian ia menyambung lagi ceritanya, ”Pagi ini ayah memberiku tiga potong roti sebagi sarapan sekaligus bekalku, karena ayah sekarang sedang tidak punya uang. Tuhan, kemarin ayah di-PHK dari tempatnya bekerja dan hari ini dia sedang berusaha mencari pekerjaan. Tolong ayah ya Tuhan agar cepat mendapatkan pekerjaan lagi. Tentang rotinya, dua potong roti sudah aku makan di sekolah, karena aku sangat lapar sekali. Sedangkan yang satu potong lagi aku simpan untuk siang. Tapi tadi di tengah jalan pulang aku melihat seekor kucing kecil yang nampaknya sangat kelaparan. Kasihan Tuhan. Lalu aku berikan rotiku yang satu potong agar dia bisa makan. Tapi walaupun begitu sampai sekarang aku belum lapar lagi”.
Tidak sampai di situ saja, anak ini masih meneruskan, “Tuhan lihat sepatuku yang sudah mulai rusak ini?? Mungkin minggu depan aku ke sekolah sudah tidak lagi memakai sepatu. Aku tahu ayah sangat ingin membelikan aku sepatu baru, tapi ayah belum punya cukup uang. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku masih bersyukur bisa sekolah walau mungkin tanpa memakai sepatu, karena masih banyak anak-anak yang bahkan tidak bisa bersekolah”. Pendeta yang mendengarkan cerita anak ini menghela napas mendengarkan cerita anak ini kepada Sahabatnya.
“Tuhan hari ini badanku juga sakit, karena tadi pagi aku dipukuli ibu. Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku tahu Engkau pasti akan menyembuhkan luka-lukaku. Mungkin ibu marah karena kami kehabisan uang dan tidak punya apa-apa”. Anak ini berhenti sejenak sebelum kemudian tersenyum dalam doanya dan melanjutkan, “Tuhan hari ini aku juga jatuh cinta. Ada seorang anak perempuan yang baru saja masuk di kelasku. Dia sangat cantik. Aku mencintainya, tapi aku tidak yakin apakah dia mau mencintai aku. Tapi aku tahu satu hal yang pasti Tuhan, bahwa Engkau pasti akan selalu mencintai aku”.
“Terima kasih Tuhan untuk hari ini, Amin”. Anak ini menutup doanya dengan wajah berseri kemudian meninggalkan rumah Sahabatnya tersebut.
Mungkin inilah yang disebut iman yang dapat mengatasi segalanya, walaupun mungkin hanya dalam sebuah keluguan pemahaman anak kecil.
Tadi malem, cuman mo tidur aja susah banget. Mungkin gara2 tadi udah ketiduran terlalu awal.. hehe
Ungkapan di atas mengingatkan aku pada masa-masa aku SMA. Dalam catatan 3 tahun SMA-ku, menurut teman-teman aku punya record kecelakaan lalu lintas paling tinggi (hiiyy, ngeri kalo inget … ). Sebagian karena kelalaianku, namun sebagian yang lain adalah kelalaian orang lain. Entah itu aku udah nyalain lampu sign tapi tetep diseruduk, ato lagi jalan ngebut tiba-tiba di depan ada yang belok sembarangan tanpa ngasih lampu sign dulu. Mulai dari yang paling sepele, bahkan beberapa kali waktu kuliah kasusnya udah meningkat jadi nggak sepele sama sekali. Sampai-sampai dulu ortu sempet ngelarang naik sepeda motor lagi. Nggak mauuu … jawabku enteng. Tetep naik motor, cepet, asyik, nggak ribet (kecuali kalo hujan).
Yang terjadi di dalam diri kita, lebih penting daripada yang terjadi pada diri kita.
Aku baru sadar kalo lagu ini bener-bener keren pas sore-sore kena macet di Jalan Mataram belakang Malioboro beberapa hari yang lalu, ujan-ujan lagi … kebetulan aku denger lagu ini dari radio yang sengaja aku puter buat nemenin di jalan, hehe
Sore ini, sepulang kerja karena kehabisan cash, aku berniat mampir ke ATM terdekat. Aku memilih ATM di UKDW, bukan karena sok cinta almamater, but aku ngerasa nyaman aja ngambil uang di sini. Lagian ada beberapa pilihan ATM di situ, BCA, BNI trus ATM yang kuning tuh apa yah?? Mungkin Lippo ato Danamon? Singkatnya kalo nggak bisa yang BCA bisa langsung ke BNI, gitu juga sebaliknya, hehe